Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ujub-Sombong

Ujub dalam Islam

Gambar
Ujub dalam Islam Sebagai manusia, tentu kita berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Berusaha bersikap baik kepada sesama, rendah hati, dan tidak sombong. Namun, mungkin tanpa sadar pula, ada sifat ujub yang kita lakukan terhadap sesama, terutama dengan orang terdekat. Sebenarnya apa pengertian sifat ujub dalam Islam yang termasuk penyakit hati itu? Berikut penjelasannya. 1. Pengertian ujub Dalam Islam, sifat ujub adalah sifat yang senang membanggakan diri sendiri. Sifat ini membuat kita merasa seolah paling hebat dan kuat dalam hal apapun. Sifat ini termasuk sifat tercela dan merupakan penyakit hati yang harus dihindari oleh umat Islam. Sebab, ujub dapat memunculkan sifat riya dan sombong. Ulama Ibnul Mubarok dan Imam Al Ghazali pernah menjelaskan tentang sifat ujub. Penjelasan ringkasnya adalah sebagai berikut. Ibnul Mubarok menyebutkan, ujub adalah perasaan ketika seseorang merasa dirinya mempunyai suatu kelebihan yang orang lain tidak miliki. Sementara itu, I...

Dalam Islam, Raja atau Sultan dan gelar bukanlah dalil

Gambar
Dalam Islam Raja atau Sultan dan Gelar bukanlah dalil..! Panjang sekali daftar nama dan jabatannya. Namun dalam Islam, ukuran kebenaran bukanlah banyaknya gelar atau jabatan, melainkan kekuatan dalil.  Imam Malik rahimahullah berkata:  "Setiap orang dapat diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini."  Lalu beliau menunjuk makam Nabi ﷺ.  Jadi yang menjadi ukuran adalah Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman yang benar, bukan siapa yang paling banyak gelarnya.  Baca artikel : Mengikuti Pemahaman Sahabat Nabi Dalam Beragama Buku : "Bantahan/Koreksi/Catatan dari Buku "(37 MASALAH POPULER) KARANGAN Ustz. ABDUL SOMAD" Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad Ulama Su’ (Orang Berilmu Yang Buruk) ---o0o--- NILAI SELEMBAR IJAZAH  Oleh : Samsul Nizar (Guru Besar & Ketua STAIN Bengkalis)  Selembar ijazah bukan segala-galanya dan bukti utama seseorang hebat, berilmu, apalagi beradab. Ijazah hanya sebagai bukti seseorang pernah ...

Pakaian Tampil Beda (Syuhroh)

Pakaian Tampil Beda (Syuhroh)  Aneh jika ada yang melihat kami ketika berpakaian menyesuaikan kebiasaan masyarakat setempat dengan memakai koko, sarungan dan peci nasional. Justru seperti ini malah dituntunkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpenampilan tampil beda di tengah-tengah masyarakat. Namun dengan catatan, boleh menyesuaikan dengan pakaian setempat selama pakaian tersebut tidak melanggar aturan syari’at. Beda halnya jika di masyarakat terbiasa memakai pakaian yang menjulur di bawah mata kaki bagi pria, maka tentu tidak diikuti. Begitu pula kalau kebiasaan masyarakat bukanlah memakai pakaian yang lebar dan lebih menutup sempurna aurat wanita, tidaklah diikuti kebiasaan tersebut.  —  Ada satu hadits yang dibawakan oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin ketika membahas tentang pakaian gamis yang istilah ini maksudnya adalah pakaian terusan dari atas hingga melebihi lutut, hingga mata kaki. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,...

TEMPAT TINGGAL BAGI YANG SOMBONG

Gambar
TEMPAT TINGGAL BAGI YANG SOMBONG Bismillah Dari Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  الكِبْرُ بَطَرُ الحَقِّ، وغَمْطُ النَّاسِ  "Al-Kibr (sombong) itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan/meremehkan orang lain". (HR. Muslim 91)  Ciri utama orang-orang yg sombong itu adalah menolak kebenaran yang datang kepadanya. Kebenaran yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Kebenaran itu ditolak karena tidak sesuai dengan hawa nafsu, perasaan dan akalnya. Ciri utama yang berikutnya adalah suka meremehkan orang lain. Karena itulah Allah ta'ala menjadikan tempat tinggal mereka kelak adalah di dalam neraka Jahannam. Allah Azza wa Jalla berfirman :   ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”.  Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri". (Az-Zum...

KESOMBONGAN PENGHALANG MASUK SORGA

Gambar
KESOMBONGAN PENGHALANG MASUK SORGA  Oleh : Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari  HAKEKAT KESOMBONGAN   Kesombongan (al-kibr) adalah melihat diri sendiri melebihi al-haq (kebenaran) dan al-khalq (makhluk; orang lain). Jadi, orang yang sombong melihat dirinya di atas orang lain dalam sifat kesempurnaan.  Kesombongan ada dua yaitu kesombongan terhadap al-haq (kebenaran), dan kesombongan terhadap al-khalq (makhluk/manusia).  Seorang manusia, tatkala melihat dan menganggap dirinya besar atau mulia, dia akan menganggap orang lain kecil dan merendahkannya. Dia akan memandang al-haq (kebenaran) akan menghancurkan kedudukannya dan mengecilkan posisinya. Dan dia melihat manusia lainnya seolah-olah binatang, karena dianggap bodoh dan hina. [Lihat at-Tawâdhu’ fî Dhauil Qur’ânil Karîm was Sunnah ash-Shahîhah, hlm. 35, karya syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli]  Dalam hadits, Rasûlullâh n telah menjelaskan makna kesombongan:  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ ...

IBADAH, DIRAHASIAKAN ATAU DITAMPAKKAN ?

IBADAH, DIRAHASIAKAN ATAU DITAMPAKKAN ?  Sungguh, Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan umat manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:  يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  Wahai manusia! Beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, [Al-Baqarah/2:21]  Dan ibadah seseorang tidak akan diterima kecuali syarat ikhlas terpenuhi. Allâh Azza wa Jalla berfirman:  وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ  Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, [Al-Bayyinah/98:5]  Bahkan secara khusus, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya Muhammad untuk ikhlas, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman kepadanya:  فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ...

Jangan Tertipu dengan Dunia

Jangan Tertipu dengan Dunia  Oleh : M. Saifudin Hakim  Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.  Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,  خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ   “Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]: 11)  Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.  Allah Ta’ala berfirman dalam banyak ...

Ketika Ali bin Abi Thalib Dikritik Tidak Becus Menjadi Pemimpin

Gambar
Ketika Ali bin Abi Thalib Dikritik Tidak Becus Menjadi Pemimpin  Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah keempat setelah Utsman bin Affan. Keponakan sekaligus menantu Rasulullah ini merupakan salah satu sahabat yang dikenal karena kecerdasan serta kedalaman ilmunya. Kecerdasan dan kedalaman ilmu itulah yang membuat Rasulullah menjulukinya sebagai ‘gerbangnya ilmu’. Kecerdasan serta kedalaman ilmu yang dimiliki Ali bin Abi Thalib ini juga tampak ketika menjabat sebagai khalifah. Sebagai pemimpin, tentu tidak semua rakyat yang dipimpinnya puas dan senang akan kinerjanya. Ada kalanya ia mendapat kritik pedas dari rakyatnya. Akan tetapi, berbekal kecerdasan dan ilmu, ia dapat dengan mudah menepis kritikan-kritikan pedas yang diarahkan kepada dirinya.  Dalam Siraj al-Mulk, Abu Bakr at-Thurthusyi menceritakan bahwa pernah suatu waktu ada seseorang bernama ‘Ubaidah al-Sulaimani, bertanya kepada Ali yang kala itu tengah menjabat sebagai khalifah:  “Wahai amirul mu’minin, mengapa Ab...

JAUHILAH SIKAP SOMBONG

Gambar
JAUHILAH SIKAP SOMBONG Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih) Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong. Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, ...