Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bid'ah

Para Sahabat Tidak Ada Yang Mentakwil Istawa’ dengan Istaula

Baca juga artikel berikut : ○  Al-Qur'an NU online menterjemahkan ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ "berkuasa atas ʻArasy ○  Perbedaan terjemahan Al-Qur'an Mushaf Madinah dengan Terjemahan Kemenag/NU ○  Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa' ○  Apa itu paham mujassimah? ---o0o--- Para Sahabat Tidak Ada Yang Mentakwil Istawa’ dengan Istaula Oleh : Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan Al-Qur’anul Karim kepada para sahabat, baik secara lafalnya atau maknanya. Bahkan tujuan ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan adalah untuk dipahami maknanya dan diketahui maksudnya. Maka Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan kedua hal itu, sehingga banyak para sahabat yang menghafal Al-Qur’an dan memahami maknanya. Oleh karena itu Abu Abdirrahman As-Sulami (salah seorang tabi’in) menjelaskan bahwa para sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka seperti ‘Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhum, إذا تعلم...

Beribadah Sesuai Sunnah Nabi ﷺ

Beribadah Sesuai Sunnah Nabi ﷺ Beribadah kepada Allah merupakan tujuan penciptaan manusia. Ibadah merupakan ritual yang menghubungkan antara hamba dengan Rabbnya, dengannya setiap hamba berhak meraih imbalan atas janji Allah Azza wa Jalla setelah kehidupan dunia yang menjadi tempat pengujian ibadah itu. Karena itu, Allah mengutus para Nabi dan Rasul sebagai orang-orang yang menjadi perantara wahyu-wahyu-Nya untuk sampai kepada manusia, membawa kabar gembira dan peringatan, serta mengajarkan manusia perihal tata cara yang benar dalam beribadah kepada-Nya. Sebab jika tidak diarahkan, seringkali manusia melakukan amalan-amalan yang dianggapnya sebagai kebaikan, namun ternyata amalan itu justru menyelisihi syariat-syariat Allah yang telah dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Tidak sedikit pula dari mereka ada yang menjadikan amalan mereka sebagai amaliyah kesyirikan, namun tetap menganggapnya sebagai kebaikan karena berhukum menggunakan perasaan yang tidak didasari dengan ilmu. Hal seperti i...

Kenapa Sebagian Ulama Melarang Bertawassul Dengan Kedudukan Nabi

Tawasul menurut pendapat Ust. Abdu Somad : Simak koreksi di vedeo dan artikel berikut : Baca juga artikel berikut ; ○  Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik ○  Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad ---o0o--- KENAPA SEBAGIAN ULAMA MELARANG BERTAWASUL DENGAN KEDUDUKAN NABI SALLALLAHU’ALAIHI WA SALLAM Pertanyaan : Kenapa orang salafi mengharamkan bertawasul dengan dzat Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Padahal semua ulama memperbolehkannya. Sampai muncul Ibnu Taimiyah yang pertama kali mengharamkannya? Padahal semua ulama dari seluruh mazhab membolehkan bertawasul. Kenapa terus menerus mengharamkan? Jawaban Alhamdulillah. Pertama , Bertawasul dengan dzat Nabi sallallahu’alaihi wa sallam maknanya adalah seseorang berdoa kepada Tuhannya Subhanahu Wata’ala akan tetapi disela-sela doa menyebutkan dzat Nabi sallallahu’alaihi wa sallam agar dikabulkan doa atau dipercepat kebutuhannya. Dengan mengatakan, ‘Saya memohon kepada-Mu dengan hak Nabi atau dengan keduduk...

Meneriakkan Allah di Tengah-Tengah Mendengar Tilawah Quran, Adakah Tuntunan?

Simak video berikut : Pendapat Ust. Abdul Somad : Pendapat yang benar : Meneriakkan Allah di tengah-tengah mendengar Tilawah Quran, adakah tuntunan?  Barangkali seperti ini sering kita dengar kala seseorang disuruh tilawah Al Qur’an di depan khalayak ramai, lalu para pendengar mengucapkan, baik dengan suara lirih atau keras, “Allah”.  Yang tepat adalah amalan seperti itu tidaklah dituntunkan. Para salaf dahulu tidaklah pernah mencontohkannya. Bahkan meneriakkan Allah seperti itu tanda tidak mengagungkan pembacaan Al Qur’an. Karena yang dituntut dari seorang muslim adalah diam dan merenungkan ayat yang sedang dibaca.  Allah Ta’ala perintahkan,  وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ  “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al A’raf: 204).  Perintah untuk tadabbur (merenungkan) Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,  كِتَابٌ أَنْز...

HUKUM MENAMPAR PIPI DAN MEROBEK PAKAIAN KARENA KEMATIAN

HUKUM MENAMPAR-NAMPAR PIPI DAN MEROBEK-ROBEK PAKAIAN KETIKA TERTIMPA MUSIBAH Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum syariat tentang para wanita yang menampar-nampar pipi karena kematian ? Jawaban. Menampar-nampar pipi dan merobek-robek pakaian serta meratapi musibah hukumnya haram, tidak boleh dilakukan, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُوْدَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوْبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi atau merobek-robek pakaian atau berteriak dengan teriakan Jahiliyah“. [Disepakati keshahihannya : Al-Bukhari dalam Al-Jana’iz 1294, Muslim dalam Al-Iman 103] Dan sabda beliau. أَنَا بَرِيْءٌ مِنَ الصَّالِقَةِ وَاْلحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ “Aku berlepas diri dari wanita yang berteriak-teriak, mencukur rambut dan merobek-robek pakaian“. [Disepakati keshahihannya : Al-Bukhari dalam Al-Jana’iz 1296, ...

Hadis: Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi

Hadis: Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliah (saat terkena musibah)  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ».   [صحيح] - [متفق عليه] - [صحيح البخاري: 1294]  Abdullah bin Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliah (saat terkena musibah)."   [Sahih] - [Muttafaq 'alaih] - [Ṣaḥīḥ Bukhari - 1294]  Uraian  Nabi ﷺ melarang dan mengingatkan beberapa kebiasaan jahiliah saat ditimpa musibah, beliau bersabda: Orang-orang ini tidak termasuk golongan kami: Pertama: Orang yang memukul pipi. Beliau secara khusus menyebutkan pipi karena bagian itu yang biasanya dipukul saat ...

Dalam Islam, Raja atau Sultan dan gelar bukanlah dalil

Gambar
Dalam Islam Raja atau Sultan dan Gelar bukanlah dalil..! Panjang sekali daftar nama dan jabatannya. Namun dalam Islam, ukuran kebenaran bukanlah banyaknya gelar atau jabatan, melainkan kekuatan dalil.  Imam Malik rahimahullah berkata:  "Setiap orang dapat diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini."  Lalu beliau menunjuk makam Nabi ﷺ.  Jadi yang menjadi ukuran adalah Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman yang benar, bukan siapa yang paling banyak gelarnya.  Baca artikel : Mengikuti Pemahaman Sahabat Nabi Dalam Beragama Buku : "Bantahan/Koreksi/Catatan dari Buku "(37 MASALAH POPULER) KARANGAN Ustz. ABDUL SOMAD" Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad Ulama Su’ (Orang Berilmu Yang Buruk) ---o0o--- NILAI SELEMBAR IJAZAH  Oleh : Samsul Nizar (Guru Besar & Ketua STAIN Bengkalis)  Selembar ijazah bukan segala-galanya dan bukti utama seseorang hebat, berilmu, apalagi beradab. Ijazah hanya sebagai bukti seseorang pernah ...

ALLAH MENYEMPURNAKAN ISLAM DI HARI ARAFAH

Sumber video :  https://youtu.be/QpN12J5j ALLAH MENYEMPURNAKAN ISLAM DI HARI ARAFAH  Dari Umar bin Khatthab Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada beliau :  "Wahai Amirul mukminin, ada sebuah ayat di dalam kitab suci kalian (Al-Quran) yang kalian membacanya, yang seandainya diturunkan kepada kami -orang-orang Yahudi- maka kami akan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya. Beliau bertanya: Ayat apakah itu? Orang Yahudi itu menjawab:  ٱلۡیَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِینَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَیۡكُمۡ نِعۡمَتِی وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِینࣰا  "Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu" (QS. Al-Maidah: 3).  Umar radhiyallahu 'anhu berkata:  Sungguh kami telah mengetahui hari dan tempat diturunkannya ayat tersebut kepada Nabi ﷺ yaitu ketika beliau berdiri di Arafah pada hari Jumat." (HR. Bukhari dan Muslim)  Imam Malik rahimahullahu b...

JANGAN ASAL MENGAMBIL ILMU DAN PENUKILAN

JANGAN ASAL MENGAMBIL ILMU DAN PENUKILAN Jangan sampai engkau tertipu oleh seseorang yang berhias dengan ucapannya: "Ibnu Baz telah berkata..." "Ibnu Utsaimin telah berkata..." رحمهم الله Akan tetapi, kenalilah sumbernya. Pastikan ia berada di atas Sunnah, lalu ambillah manfaat darinya. Janganlah engkau menjadi seperti pencari kayu bakar di malam hari, yang mengambil apa saja tanpa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Disampaikan oleh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily حفظه الله Selektif dalam Menuntut Ilmu Agama jangan salah pilih Guru : Ilmu agama adalah perkara yang agung, yang dengannya seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Tanpa ilmu agama, seseorang akan binasa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:  ألا إنَّ الدُّنيا ملعونةٌ ملعونٌ ما فيها ، إلَّا ذِكرُ اللَّهِ وما والاهُ ، وعالِمٌ ، أو متعلِّمٌ  “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat. Semua yang ada di dalamnya terlaknat kecuali dzikrullah serta orang ...

Ibnu Sina, Ilmuwan Islam yang Diagungkan dan Dikafir-kafirkan

Ibnu Sina, Ilmuwan Islam yang Diagungkan dan Dikafir-kafirkan  Ibnu Sina adalah tokoh yang tidak perlu diperkenalkan. Seluruh umat Islam tentu mengenalnya, di kalangan awam sekalipun, ia dikenal sebagai tokoh legenda ilmu kedokteran, penemu sistem peredaran darah. Ilmuwan Islam yang menjadi sumber kemajuan kedokteran modern. Bukti nyata hutang peradaban Barat kepada peradaban Islam. Nama Ibnu Sina dipakai sebagai nama masjid, rumah sakit, sekolah agama, taman pembelajaran Alquran hingga majelis taklim. Ia adalah bukti nyata kemajuan Islam yang begitu menghanyutkan hingga sekarang. Setelah pusat keilmuan dan sains telah lama bergeser ke Eropa, kehadiran seorang Ibnu Sina seolah masih “cukup” menutup kekecewaan umat Islam terhadap kemunduran besar itu.  Di luar dari glorifikasi tersebut, Ibnu Sina adalah tokoh yang begitu problematis. Seiring dengan penggunaan nama beliau di berbagai tempat bercorakkan Islam, di sana pula suara-suara yang mempermasalahkan hal tersebut, “Kenapa o...

Hadis “Allah Menghalangi Tobat Pelaku Bid’ah”

Hadis “Allah Menghalangi Tobat Pelaku Bid’ah”  Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (4202), beliau berkata,  حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيُّ قَالَ: نا هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرْوِيُّ قَالَ: نا أَبُو ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»  Ali bin Abdullah Al-Farghani menuturkan kepadaku, ia berkata, Harun bin Musa Al-Farwi telah menuturkan kepadaku, Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Ath-Thawil, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.”  Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (9011) dan Al-Harawi dalam Dzammul Kalam (5/153) dengan sanad yang berporos pada Harun bin Musa.  Adapun rincian kualitas pe...