Postingan

Belajar dari Surah Ar-Rum: Membaca Perang Israel–Iran dengan Kacamata Sirah Nabawiah

Gambar
Belajar dari Surah Ar-Rum: Membaca Perang Israel–Iran dengan Kacamata Sirah Nabawiah  Oleh : Fahmi Salim ,  Direktur Baitul Maqdis Institute – Wakil Ketua Komisi HLNKI MUI Pusat  Ketika dunia menyaksikan eskalasi perang antara Israel dan Iran, banyak umat Islam terjebak dalam perdebatan emosional: siapa yang lebih salah, siapa yang lebih benar, atau siapa yang lebih dekat dengan identitas Islam. Namun sejarah Islam justru mengajarkan cara membaca konflik yang jauh lebih dalam: melihat dampak strategisnya terhadap masa depan umat.  Di sinilah pelajaran penting dari Surah Ar-Rum dan peristiwa dalam Sirah Nabawiyah menjadi relevan untuk memahami realitas geopolitik hari ini.  Alquran dan Realitas Geopolitik  Pada awal abad ke-7, dunia dikuasai dua imperium besar: Byzantine Empire dan Sasanian Empire. Dalam fase awal perang panjang keduanya, yang dikenal sebagai Byzantine–Sasanian Wars—Romawi mengalami kekalahan telak dari Persia.  Dalam kondisi itu, Alqur...

MENGAPA KAUM MUSYRIKIN MEKKAH MENOLAK MENGUCAPKAN "LAILAHAILLALLAH

MENGAPA KAUM MUSYRIKIN MEKKAH MENOLAK MENGUCAPKAN "LAILAHAILLALLAH Oleh : Abdussalam Syuwa'ir Hafizhahullah  ​"Jika engkau telah mengetahui (makna) Laa ilaha illallah, semoga Allah memperbaiki hatimu, sehingga ia kembali (bertaubat), tunduk, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. ​Maka kalimat ini adalah kalimat yang agung. Ketahuilah wahai muslim, bahwa sekadar mengucapkannya saja tidaklah cukup. Buktinya, kaum musyrik yang dahulu tinggal di sekitar Masjid Rasulullah ﷺ, Nabi ﷺ bersabda kepada mereka: ​«قُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ» (Katakanlah: Laa ilaha illallah) ​Namun demikian, mereka enggan mengucapkannya karena mereka mengetahui bahwa makna yang dituntut dari orang yang mengucapkannya tidak ada pada mereka. ​Bagaimana mungkin mereka mengucapkan Laa ilaha illallah sementara mereka menyembah 'Uzza, Manat, Lata, dan tuhan-tuhan lainnya? ​Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kita wajib, dengan kewajiban yang mutlak, untuk mengetahui makna Laa...

SHALAT IED, HUKUMNYA FARDHU AIN BUKAN SUNNAH

Gambar
SHALAT IED, HUKUMNYA FARDHU AIN BUKAN SUNNAH Oleh : Ustadz Subhan Bawazier Hafidzhahullah  Dari Ummu Atiyyah radhiallahu 'anha, dia berkata; Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk keluar di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.  Baik wanita yang baru balig, wanita sedang haid dan wanita perawan. Sementara orang yang haid dipisahkan dari (tempat) shalat. Agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan doa umat Islam." Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada di antara kami yang tidak mempunyai jilbab." Beliau mengatakan,  Sebaiknya saudara perempuannya memberinya jilbab." (HR. Bukhari 324 dan Muslim 890) Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, Yang terkuat sesuai dalil yang ada bahwa shalat Id adalah fardu ain.  Hal itu diwajibkan kepada seluruh laki-laki untuk menghadiri shalat Id, kecuali yang mempunyai uzur. (Majmu Al-Fatawa, 16/217) Syekh Ibnu Baz rahimahullah mengomentari pendapat yang mengatakan (shalat Id) fardu ain, "Pendapat ini y...

Mengapa Muslim Ahlussunnah timur tengah membenci Ayatollah Ali Khomenei dedengkot Syiah Rafidhah..?

Gambar
Mengapa Muslim Ahlussunnah timur tengah membenci Ayatollah Ali Khomenei dedengkot Syiah Rafidhah..? Sebab muslim Ahlussunnah lebih faham ilmu agama di banding muslim Aswaja Ahlul BID'AH. Muslim Ahlussunnah mereka Faham bahwa Syiah Bukanlah bagian dari Islam dan syiah memusuhi islam dan kaum muslimin. Sedangkan Aswaja kebanyakan hanya fokus kepada besek kenduri saja. Dan mereka adalah orang yang tertinggal dalam keilmuan. Kalau ada yang tersinggung berarti tepat sasaran.  Syiah Kafir menurut pendapat imam Ahmad : Banyak riwayat telah datang darinya dalam mengafirkan golongan Syi'ah Rafidhah. Di antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: " Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan 'Aisyah? " Beliau menjawab, ما أراه على الإسلام  " Aku tidak melihatnya di atas Islam ." Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata...

Ngalap Berkah Yang Dibolehkan Dan Terlarang

Ngalap Berkah Yang Dibolehkan Dan Terlarang  Dalam bahasa Arab, barokah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu. Tabriik adalah mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan. Sedangkan tabarruk adalah istilah untuk meraup berkah atau “ngalap berkah”.  Adapun makna barokah dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya. Demikian kesimpulan dari Dr. Nashir Al Judai’ dalam At Tabaruk, hal. 39.  Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Maksud dari ucapan do’a “ keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim , do’a keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”. Lihat Jalaul Afham fii Fadhlis...

SUFI DAN SYIAH BAGAI PINANG DIBELAH DUA

Bismillah. Syi'ah dan aswaja sufi punya kesamaan,, sama-sama kasih gelar wahabi pada ahlussunnah wal jama’ah salafi.. Dan mereka sama ahlul bid'ah.  Fitnah Syi'ah Rafidhah yang Tidak Pernah Terbukti,. Mereka Melabeli Manhaj Salaf dengan Label Radikal ,wahabi , mengadu domba dan memprovokasi masyarakat awam untuk membenci dakwah Tauhid & Sunnah,. SUFI DAN SYIAH BAGAI PINANG DIBELAH DUA Siapapun yang mengetahui hakikat tasawwuf (Sufi) dan tasyayyu’ (Syi’ah), ia akan mendapatkan keduanya seperti pinang dibelah dua. Keduanya berasal dari sumber yang sama, dan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, kedua firqah ini memiliki kesamaan dalam pemikiran dan aqidah. Di antara persamaan dua golongan tersebut ialah sebagai berikut.  Pertama .  Kaum Syi’ah mengaku memiliki ilmu khusus yang tidak dipunyai kaum muslimin selain mereka. Mereka menisbatkan kedustaan ini kepada Ahlul bait dengan seenak perutnya. Mereka juga mengklaim memiliki mushaf (Al-Qur`ân) tersendiri, yang mere...

Akhir Kematian Elite Fatimiyah Mesir yang Bersekutu dengan Pasukan Salib

Gambar
Akhir Kematian Elite Fatimiyah Mesir yang Bersekutu dengan Pasukan Salib  Elite Fatimiyah Mesir bersekutu dengan Perang Salib untuk kepentingan kekuasaan  Selama periode Fatimiyah di Mesir, Fustat mencapai masa keemasan, terutama dalam bidang perekonomian.   Menurut Ahmad Rofi' Usmani dalam Jejak-jejak Islam (2015), kota yang berusia jauh lebih tua daripada Kairo itu dihuni penduduk kelas menengah dan atas.   Umumnya, mereka tinggal di rumah-rumah bertingkat yang terdiri atas tiga hingga tujuh lantai. Satu gedung dapat menampung lebih dari 300 orang.   Biasanya, pemilik bangunan-bangunan itu adalah para pedagang kaya, sedangkan penyewa kamar-kamar di dalamnya merupakan kaum pekerja.   Keadaan Fustat dan Kairo tidak lagi sama sejak Perang Salib melanda. Rangkaian pertempuran itu tidak hanya menimbulkan kerugian materiel, tetapi juga krisis politik yang dahsyat bagi Fatimiyah.   Pada 1163 M Pasukan Salib mulai memasuki wilayah di...