Postingan

Pembelokan sejarah proklamasi kemerdekaan RI oleh Ust. Adi Hidayat

Pembelokan sejarah proklamasi kemerdekaan RI oleh Ust. Adi Hidayat Isu mengenai pernyataan Ustadz Adi Hidayat (UAH) terkait sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sering kali memicu perdebatan publik antara penceramah dan kalangan sejarawan. Poin Klaim Ustadz Adi Hidayat (UAH) Dalam beberapa ceramahnya, UAH menyampaikan beberapa poin penekanan sejarah: Peran Ulama: Ia menyatakan bahwa proklamasi 17 Agustus 1945 memiliki "saham" atau kontribusi besar dari pertemuan-pertemuan serta perjuangan para ulama. Klaim Kepemilikan Rumah & Tokoh: UAH pernah menyebut bahwa rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 berkaitan dengan tokoh/pengusaha asal Timur Tengah (seperti Syekh Faraj Martak) yang merelakan tempat tersebut serta memberikan madu kepada Bung Karno. Tanggapan dan Koreksi dari Sejarawan Klaim tersebut mendapat kritik dan bantahan dari para sejarawan karena dianggap tidak sesuai dengan catatan arsip resmi dan fakta sejarah nasional: Asvi Warman Adam membanta...

Khurafat atau cerita-cerita Populer Wali Tarim yang Beredar

Kota Tarim di Hadhramaut, Yaman, sangat masyhur di kalangan umat Islam—khususnya tradisi kaum tarekat sufi sebagai Kota Seribu Wali atau Madinah As-Shiddiq .  Di balik kemuliaan sejarahnya sebagai pusat keilmuan Mazhab Syafi'i dan tempat berdirinya lembaga pendidikan seperti Darul Musthafa (yang diasuh oleh Habib Umar bin Hafidz ), terdapat berbagai cerita rakyat, legenda, maupun narasi lisan yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai khurafat , kisah hiperbolis, atau cerita mukjizat yang dilebih-lebihkan.  Berikut khurafat atau cerita-cerita Populer Wali Tarim yang Beredar do medsos. Cerita Wali yang Menghentikan Matahari Narasi: Ada cerita lisan yang beredar mengenai seorang wali di Tarim yang konon mampu menahan atau menghentikan pergerakan matahari agar waktu Ashar tidak cepat tiba. Matahari baru dilepaskan kembali setelah seorang perempuan warga Tarim memohon kepada wali tersebut karena merasa waktu puasa mereka menjadi terlalu lama. Pandangan Kritikus: Bagi kalanga...

PENGHARGAAN INTERNASIONAL BUKAN JAMINAN SESEORANG TIDAK PERNAH SALAH!

Gambar
PENGHARGAAN INTERNASIONAL BUKAN JAMINAN SESEORANG TIDAK PERNAH SALAH!  Ada sebuah unggahan yang menarik perhatian saya. Isinya kurang lebih mengatakan bahwa di Indonesia Ustaz Adi Hidayat disebut “setan bisu, sementara di luar negeri justru mendapatkan kehormatan dan penghargaan berupa gelar profesor kehormatan dari salah satu kampus di Uzbekistan. Kemudian muncul pertanyaan bernada sindiran: orang yang menghina itu mendapatkan gelar apa?  Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu diluruskan dari cara berpikir seperti ini.  Pertama, mari kita bedakan antara menghargai prestasi seseorang dengan menganggap seseorang tidak mungkin melakukan kesalahan.  Saya tidak sedang merendahkan penghargaan yang diterima Ustaz Adi Hidayat. Jika beliau mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari luar negeri, tentu itu patut dihargai sebagai sebuah pencapaian.  Namun, apakah penghargaan internasional otomatis menjadikan seluruh ucapan, pendapat, dan tindakan seseorang benar? ...

Habib Ali Al Jufri dan Habib Umar bin Hafidz dua sosok wajah yang mereka samakan dengan Nabi Muhammad ﷺ

Habib Ali Al Jufri dan Habib Umar bin Hafidz dua sosok wajah yang mereka samakan dengan Nabi Muhammad ﷺ  Habib Ali Al Jufri  Habib Ali Al Jufri salah satu Panutan dari Orang orang Pengikut Ajaran Sufi Tasawuf juga Tarekat, di seluruh dunia, tidak terkecuali dengan Indonesia, Sangat di puja puji, dimuliakan serta di Agungkan.  Habib Umar bin Hafidz  Sama seperti Habib Ali Al Jufri yang kedua duanya berasal dari Tareem, Hadramaut Negara Yaman.  Ajarannya yang sudah Menyimpang, seiring dan sejalan dengan Ajarannya Agama Syi'ah.  Para Habib Habib ini Kepengen Banget udah Ngebet juga Kebelet,  jika SYI'AH dan SUNNI/ASAWAJA (Ahlussunnah wal Jama'ah), BERSAUDARA dengan Syi'ah.  Jadi Tambah tambah Tau kita sekarang, Kedok dari Para Habib Aliran SufiTasawuf Tarekat ini.  Hati Hati jika ada HABIB dan HABAIB Melantunkan kata kata " HUSSAIN...HUSSAIN...HUSSEN", "Ya Ali...Ya Ali, "Asyuro", "Karbala", .."Madad...Madad", Sholawat Berjama...

Mengapa sebagian tokoh agama memilih diam terhadap kemungkaran para pengdongeng dan khurafat ?

Gambar
𝗠𝗘𝗡𝗚𝗔𝗣𝗔 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗚𝗜𝗔𝗡 𝗧𝗢𝗞𝗢𝗛 𝗔𝗚𝗔𝗠𝗔 𝗠𝗘𝗠𝗜𝗟𝗜𝗛 𝗗𝗜𝗔𝗠 𝗧𝗘𝗥𝗛𝗔𝗗𝗔𝗣 𝗞𝗘𝗠𝗨𝗡𝗚𝗞𝗔𝗥𝗔𝗡 𝗣𝗔𝗥𝗔 𝗣𝗘𝗡𝗗𝗢𝗡𝗚𝗘𝗡𝗚 𝗞𝗛𝗨𝗥𝗔𝗙𝗔𝗧?  Oleh :  Abu Fahry  Khurafat, dongeng, manipulasi agama, pengkultusan individu, dan berbagai cerita yg tdk memiliki landasan dalil bukanlah perkara ringan. Terlebih apabila semua itu dinisbatkan kepada agama, kemudian dipercaya dan disebarluaskan hingga merusak kemurnian akidah umat.  Pertanyaannya, mengapa sebagian tokoh agama memilih diam ketika kemungkaran semacam ini terjadi?  ✓Apakah karena tdk mengetahui,  ✓khawatir kehilangan pengaruh,  ✓menjaga kepentingan kelompok,  ✓atau ada alasan lainnya?  Kita tdk boleh memastikan niat seseorang tanpa bukti. Namun, diamnya seseorang tdk boleh dijadikan alasan untuk membiarkan kemungkaran terus berkembang.  Allah Ta'ala berfirman:  كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْ...

Hukumnya menyamakan wajah atau senyum nabi dengan seseorang tokoh habib misalnya

Gambar
Sumber video : https://fb.watch/omRr https://m.facebook.com/story H ukumnya menyamakan wajah atau senyum nabi dengan seseorang tokoh habib misalnya  Secara umum, mayoritas ulama dan kesepakatan ( ijma ) menetapkan bahwa menggambar atau melukis wajah Nabi Muhammad SAW maupun para nabi lainnya adalah haram . Berikut adalah penjelasan mengenai hukum menyamakan atau mengidentikkan wajah/senyum Nabi dengan seseorang (misalnya tokoh habib atau ulama tertentu): Hukum Menyamakan Wajah atau Senyum Nabi dengan Seseorang Tidak Ada Dasar yang Sah: Tidak ada satu pun riwayat sahih atau potret autentik yang menggambarkan rupa, bentuk wajah, atau senyuman Nabi Muhammad SAW secara persis. Ciri-ciri fisik Nabi yang disebutkan dalam kitab Syamail Muhammadiyah bersifat global dan tidak cukup spesifik untuk direplikasi ke dalam wajah manusia tertentu.  Berisiko Kebohongan ( Dusta atas nama Nabi ): Mengklaim atau menyamakan wajah/senyum seseorang (seperti tokoh habib tertentu) sebagai represe...

Setan Bisu: Tidak Menyuarakan Kebenaran dan Diam Terhadap Kemungkaran

Gambar
Setan Bisu : Tidak Menyuarakan Kebenaran dan Diam Terhadap Kemungkaran Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.   Di tengah masyarakat, kita sering mendengar ungkapan, "Orang yang diam dari menyuarakan kebenaran adalah setan yang bisu (As-sakitu 'anil haqqi syaithanun akhras)." Sebagian orang mengira kalimat ini adalah hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam . Para ulama menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukanlah hadits yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam , melainkan perkataan ( maqolah ) dari sebagian ulama terdahulu (salaf). Berdasarkan penelusuran sejarah, Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menukil dari Abu al-Qasim al-Qusyairi, yang mendengar gurunya, Abu Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi asy-Syafi'i (wafat 406 H), berkata: مَنْ سَكَتَ عَنِ الْحَقِّ فَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ “Barang...