Postingan

Apakah Doa Bisa Mengubah Takdir?

Apakah Doa Bisa Mengubah Takdir?  Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah  Terdapat dalam hadis Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda,  إن العبد ليحرم الرزق بالذنب يصيبه، وإن القضاء لا يرده إلا الدعاء، وإن الدعاء مع القضاء يعتلجان إلى يوم القيامة، وإن البر يزيد في العمر  “Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari rizkinya karena dosa yang dilakukannya. Sesungguhnya takdir itu tidaklah berubah kecuali dengan doa. Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya perbuatan baik (kepada orang tua) itu memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 22438, Ibnu Majah no. 22438, dihasankan oleh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Musnad)  Maka, perbuatan berdoa itu adalah bagian dari takdir, dan takdir itu pasti terjadi. Atas kehendak Allah-lah terjadi dan tercegahnya segala sesuatu. Dia juga yang menakdirkan dan mencegah segala sesuatu baik dengan sebab doa, sedekah,...

SIKAP AHLUS SUNNAH DALAM MASALAH NAMA DAN SIFAT ALLÂH

Gambar
Simak video berikut Pengaruh pemikiran subhat/filsafat Yunani : [100 Bible Verses about  God Is Everywhere, baca  klik disini ] SIKAP AHLUS SUNNAH DALAM MASALAH NAMA DAN SIFAT ALLÂH  Pembicaraan tentang Nama-nama Allâh Azza wa Jalla dan Sifat-sifat-Nya adalah satu bagian dari pembicaraan tentang Dzat Allâh Azza wa Jalla dan ini termasuk perkara ghaib. Oleh karena itu, manusia tidak mungkin mengetahuinya secara rinci kecuali dengan wahyu. Karena kemampuan akal manusia tidak akan bisa mengetahui segala hal tentang Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana firman-Nya:  يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا  Dia (Allâh) mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. [Thaha/20: 110]  Jadi, pembicaraan tentang Nama-nama Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Sifat-sifat-Nya adalah adalah tauqifiyyah, artinya: berhenti pada keterangan di dalam al-Qur’an dan as...

KEJADIAN ANEH PARA WALI, KOMODITAS PENTING GOLONGAN SUFI

Gambar
KEJADIAN ANEH PARA WALI, KOMODITAS PENTING GOLONGAN SUFI  Tindak penyelewengan dan bukti penyimpangan Sufi pertama kali akan mudah didapati para pembaca buku-buku rujukan mereka berupa ketergantungan penuh mereka terhadap khawâriq (kejadian-kejadian aneh yang dialami para pemuka Sufi) dan perhatian besar mereka untuk menyebarluaskan apa yang terjadi para syaikh-syaikh Sufi. Hal ini sampai ‘memaksa’ mereka untuk meluncurkan cerita-cerita fiktif dan khayalan tentang itu guna lebih menegaskan betapa tingginya kedudukan syaikh-syaikh itu di hati para pemujanya. Dalam kamus Sufi dinyatakan semakin banyak kejadian aneh meliputi seseorang (syaikh), maka kian agung kedudukan dan derajat kewaliannya di mata manusia. [1]  Dalam kitab al-Luma’, As-Sirâj ath-Thûsi menuliskan satu pembahasan khusus berkaitan dengan karomah para ‘wali’, satu pembahasan yang terdiri dari tujuh sub bab. Secara keseluruhan, pemaparan bab-bab tersebut ditujukan untuk mempropagandakan karomah-karomah yang mengir...

No time for children, sadaqallahul azim, jawab Abdul Somad ?!

No time for children, sadaqallahul azim, jawab Abdul Somad ?! UAS baca " sadaqallahul azim " setelah mendengar cerita bule, bingung juga saya apakah artinya " sadaqallahul azim " itu " maha benar kata bule maha agung"..!? 🤣🤣🙏 ---- Sadaqallahul Azim ( صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ ) artinya adalah "Maha Benar Allah Yang Maha Agung". Ungkapan ini diucapkan sebagai bentuk penegasan dan pengakuan seorang Muslim bahwa seluruh firman Allah dalam Al-Qur'an adalah benar, mutlak, dan tidak ada keraguan sedikitpun. Kalimat ini umum diucapkan setelah selesai membaca ayat suci Al-Qur'an.   Berikut adalah rincian makna Sadaqallahul Azim:  Sadaqa ( صَدَقَ) : Telah benar atau membenarkan.  Allah (اللَّ هُ ): Allah ﷻ.  Al-'Azim ( الْعَظِيمُ ): Yang Maha Agung, Maha Besar.   Meskipun tidak ada dalil khusus yang mewajibkan pengucapannya setelah membaca Al-Qur'an, sebagian besar ulama memperbolehkannya sebagai bentuk tasdiq (pembenaran) terhadap wahy...

Qiyas terhadap Sang Pencipta dalam Tinjauan Aqidah Islam

Gambar
Qiyas terhadap Sang Pencipta dalam Tinjauan Aqidah Islam  Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah dalam syarh/penjelasan beliau terhadap Kitab Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau menjelaskan:  “Pernyataan beliau (Syaikhul Islam):  ‘Dia subhanahu wata’ala tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya.’  (Kita tinjau bahwa) Qiyas itu terbagi menjadi 3 macam: qiyas syumul (perbandingan cakupan), qiyas tamtsil (perbandingan/perumpamaan), dan qiyas aulawi (perbandingan prioritas);  Qiyas Syumul : yaitu yang dikenal dengan ungkapan umum yang mencakup semua bagiannya, sehingga setiap bagian masuk dalam istilah dan makna istilah tersebut. Misalnya: ketika kita mengatakan “ hidup (al hayat) ”, tentulah kehidupan Allah Ta‘ala tidak bisa diqiyaskan dengan kehidupan makhluk, hanya karena sama-sama dibahasakan dengan sebutan “ hidup ”.  Qiyas Tamtsil : yaitu menyamakan sesuatu dengan yang sejenisnya, sehingga menet...

Saat Bung Karno Puji 'Wahabi'

Saat Bung Karno Puji 'Wahabi'  Bung Karno sangat tertarik dengan gerakan pemurnian di Saudi.  "Tjobalah pembatja renungkan sebentar ‘padang-pasir’ dan ‘wahabisme’ itu. Kita mengetahui djasa Wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, murni dan asli sebagai udara padang-pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam dizamanja Muhammad! Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah. Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid’ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan!”   Demikianlah yang dituliskan proklamator Sukarno dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi . Jarang diketahui, Bung Karno sempat memiliki ketertarikan dengan ajaran pemurnian Islam yang berjalan beriringan dengan Kerajaan Saudi.  Ketertarikan ini muncul saat Bung Karno belajar Islam secara intens sepanjang 1930-an saat dipenjara di Sukamiskin, Bandung, dan kemud...

Hadis “Allah Menghalangi Tobat Pelaku Bid’ah”

Hadis “Allah Menghalangi Tobat Pelaku Bid’ah”  Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (4202), beliau berkata,  حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيُّ قَالَ: نا هَارُونُ بْنُ مُوسَى الْفَرْوِيُّ قَالَ: نا أَبُو ضَمْرَةَ أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ»  Ali bin Abdullah Al-Farghani menuturkan kepadaku, ia berkata, Harun bin Musa Al-Farwi telah menuturkan kepadaku, Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh telah menuturkan kepadaku, dari Humaid bin Ath-Thawil, dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah.”  Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (9011) dan Al-Harawi dalam Dzammul Kalam (5/153) dengan sanad yang berporos pada Harun bin Musa.  Adapun rincian kualitas pe...