Postingan

Hinanya Hati yang Keras

HINANYA HATI YANG KERAS Oleh : Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc, M.A أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb- nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata . [az-Zumar/39:22] Ringkasan Tafsir [1] “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk (menerima) agama Islam” , yaitu dengan dipermudah untuk mengenal-Nya, bertau h id kepada-Nya, taat akan perintah-Nya dan menjadi bertambah semangat untuk mengerjakan ajaran Islam. Dan ini adalah pertanda yang baik bagi seseorang. “Lalu ia mendapat cahaya dari Rabb -nya” , yaitu cahaya kebenaran yang membuat hatinya bertambah yakin.  Apakah mereka itu sama de...

Dakwah Para Nabi dan Rasul

Baca artikel : Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Adalah Kekufuran ---o0o--- Dakwah Para Nabi dan Rasul PRINSIP DASAR DAKWAH PARA NABI DAN RASUL Setelah para Nabi atau Rasul berdakwah kepada manusia, maka di antara manusia ada yang beriman dan ada pula yang tidak beriman: Mereka yang beriman akan diuji oleh Allah dengan kesenangan dan kesengsaraan serta dimusuhi dan disakiti oleh manusia, sehingga jelas antara yang jujur dengan yang dusta, yang beriman dan yang munafiq. Dan mereka yang tidak beriman akan diazab dengan sesuatu yang lebih menyakitkan dan dalam masa yang lebih lama. Oleh karenanya, mesti bagi setiap insan baik yang beriman ataupun yang kafir untuk mendapatkan penderitaan, tetapi orang beriman penderitaan di dunia, sebagai balasan yang disegerakan (atas perbuatannya), kemudian dibalas oleh Allah dengan kebaikan di dunia dan akherat. Adapun orang kafir, menemukan kenikmatan yang semu sebagai balasan yang disegerakan (atas perbuatannya) kemudian berubah menjadi penderitaan ya...

Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Adalah Kekufuran

Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Adalah Kekufuran Mohon dimaklumi sebelumnya, mungkin ada pembaca yang “merasa tidak nyaman” dengan pembahasan “kafir” dan “mengkafirkan”, akan tetapi ternyata pembahasan ini dibahas lengkap dan detail oleh ulama kita dalam pembahasan aqidah tauhid, di mana seorang muslim wajib mengetahuinya karena merupakan aqidah dasar kita. Bisa jadi merasa tidak nyaman atau bahkan ada yang “alergi” dengan pembahasan ini, karena selama ini pembahasn “kafir” dan “mengkafirkan” adalah adalah pembahasan yang seolah-olah seram, menakutkan serta merusak persaudaraan dan toleransi. Anggapan ini TIDAK BENAR, pembahasan mengenai hal ini apabila dipelajari secara benar dan berdasarkan dalil (bukan berdasarkan perasaan dan sangkaan semata), maka dalam pembahasan ini didapatkan: 1. Ketegasan dalam agama Islam, tidak ada yang “abu-abu”, apabila ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka disebut kafir sesuai nash dan dalil 2. Indah dan lembutnya ajaran Islam, pembahasan “...

KETIKA TOPENG ITU SEMAKIN TERBUKA

KETIKA TOPENG ITU SEMAKIN TERBUKA Ada saatnya umat Islam berhenti hanya mendengar slogan, lalu mulai membaca sejarah dan melihat fakta. Apa yang terjadi di Yaman dalam beberapa hari terakhir semestinya menjadi renungan serius bagi kaum Muslimin, khususnya Ahlus Sunnah. Bukan karena kita ingin mengada-adakan cerita tentang Syiah, tetapi justru karena sejarah dan fakta yang ada sudah cukup untuk berbicara. DARI YAMAN, KITA DIINGATKAN KEMBALI KEPADA KISAH ABRAHAH Yaman mempunyai catatan sejarah yang sangat erat dengan Makkah. Pada masa dahulu, Abraha, penguasa Yaman, membangun sebuah bangunan ibadah besar di Ṣan‘ā’ yang dikenal dalam literatur sejarah Islam sebagai al-Qullays. Bangunan itu dikaitkan dengan upaya mengalihkan perhatian manusia dari Ka’bah di Makkah. Kemudian Abraha bergerak menuju Makkah dengan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah. Allah ﷻ mengabadikan peristiwa tersebut dalam Al-Qur’an: أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ ۝ أَلَمْ يَجْعَل...

"Bahaya Ulama yang Menjilat kepada Pemerintah"

"Bahaya Ulama yang Menjilat kepada Pemerintah" (Cuplikan Mau'idhoh Hasanah Gus Qoyyum) Dalam Orasi Ilmiah Wisuda ke-4 Ma'had Aly Maslakul Huda Kajen-Pati Jum'at malam Sabtu 04 September 2026, KH. Abdul Qoyyum Manshur (Gus Qoyyum) dari Lasem menyampaikan materi mendalam dengan tema besar "Ulama dalam Pandangan Para Ahli Ushul Fiqih". Salah satu poin penting yang beliau angkat adalah pandangan Ibnu Hazm—seorang ahli ushul fiqih sekaligus teolog (mutakallimin)—dalam karyanya yang monumental, al-Ihkam fi Ushulil Ahkam (kitab yang memiliki judul sama dengan karya Al-Amidi). Ibnu Hazm menegaskan: وَإِذَا ابْتُلِيَ الْعَالِمُ بِصُحْبَةِ السُّلْطَانِ، فَقَدْ ابْتُلِيَ بِعَظِيمِ الْبَلَايَا "Jika seorang ulama diuji dengan kedekatan (persahabatan) bersama penguasa, maka sungguh ia sedang diuji dengan musibah yang sangat besar." Menanggapi hal ini, Gus Qoyyum memberikan catatan kritis. Beliau ngendika: "Jika seorang ulama dengan sengaja melakuk...

Ulil Abshar Abdalla: Sogokan Hasanah, Boleh!

Sumber video :  https://youtu.be/JzPP-Uafi Ulil Abshar Abdalla: Sogokan Hasanah, Boleh! ISU suap — atau dalam terminologi fiqh disebut risywah — selalu menjadi tema sensitif di ruang sosial-politik dan moral keagamaan. Dalam masyarakat yang religius seperti Indonesia, setiap praktik yang mengandung aroma suap selalu dikaitkan dengan dosa besar, ketidakadilan, dan kemerosotan moral. Namun, dalam perkembangan diskursus Islam kontemporer, muncul tafsir-tafsir baru yang mencoba menafsirkan ulang praktik suap dengan alasan tertentu, seperti “niat baik”, “hadiah”, atau bahkan “sogokan hasanah”. Ungkapan terakhir ini — “sogokan hasanah” — muncul secara satiris dan provokatif, terutama setelah beberapa tokoh intelektual Muslim mencoba memisahkan antara suap yang haram dengan “hadiah yang baik niatnya”. Salah satu nama yang kerap muncul dalam polemik semacam ini adalah Ulil Abshar Abdalla. Ia bukan tokoh sembarangan. Ulil adalah seorang intelektual Islam progresif, aktivis Jaringan Islam ...