Postingan

Benarkah kaum Syiah melarang shalat di belakang kaum Sunni?

Gambar
Benarkah kaum Syiah melarang shalat di belakang kaum Sunni?  Salah satu isu yang sering menimbulkan kekhawatiran di kalangan umat Islam adalah bagaimana sikap Syiah terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam hal ibadah. Pertanyaan besar yang muncul adalah: Apakah Syiah melarang shalat di belakang imam Sunni? Jawabannya, menurut literatur Syiah sendiri, adalah bahwa Syiah memiliki pandangan ekstrem yang pada dasarnya tidak mengizinkan shalat berjamaah di belakang imam Sunni , karena mereka menganggap shalat tersebut tidak sah.  1. Pandangan Ulama Syiah tentang Salat di Balik Pandangan Sunni  Dalam banyak kitab referensi Syiah, dinyatakan bahwa shalat berjamaah di belakang seorang Sunni tidak sah. Hal ini didasarkan pada keyakinan Syiah bahwa:  Imam salat harus berasal dari sekte Syiah dan mengikuti mazhab Ahlul Bayt.  Sunni dianggap tidak memenuhi persyaratan imam , dan sering dicap sebagai kafir atau bid'ah.  Konsep "jemaah" bagi Syiah hanya berlaku dalam lingk...

Syi’ah dan Kebencian Mereka Kepada Malaikat Jibril

Syi’ah dan Kebencian Mereka Kepada Malaikat Jibril  Oleh : Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan Hafizhahullah Ta’ala  الحمدالله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين  أما بعد :  Sungguh Syi’ah telah terpengaruh dengan keyakinan Yahudi dalam hal permusuhan mereka terhadap Malaikat Jibril ‘alaihis salam  Berikut ini adalah penjelasan dari Asy-Syaikh Al-‘Allamah Sholih Al-Fauzan (Anggota Dewan Fatwa Arab Saudi) dalam kitabnya Al-Manhah Ar-Robbaniyah fi Syarhil Arba’ina An-Nawawiyah, hal.53-54 Cet. Darul ‘Ashimah:  “Diantara mereka ada yang memusuhi para malaikat, diantara mereka ada juga yang memusuhi sebagian malaikat. Seperti Yahudi yang memusuhi Malaikat Jibril ‘alaihis salam, mereka mengatakan Jibril musuh kami, seandainya yang turun kepada Muhammad (untuk menyampaikan wahyu) bukan Jibril pasti kami akan beriman kepadanya, tetapi karena yang turun kepadanya adalah Jibril maka kami tidak mau beriman kepadanya, karena Jibril adalah musuh kami. Allah b...

Makna 'Halalan Thayyiban' dalam Al-Qur'an

Video ilustrasi : Makna 'Halalan Thayyiban' dalam Al-Qur'an  Kita sering sekali mendengar bahwa Muslim mesti mengonsumsi barang yang halalan thayyiban . Sebagian orang memahaminya dalam artian "halal lagi baik ". Dengan kian meningkatnya perhatian sebagian masyarakat Muslim pada kehalalan apa yang mereka konsumsi maupun perihal muamalah yang dikerjakan, memahami maksud halalan thayyiban menjadi penting guna membentuk cara beragama yang bijak.  Halal dalam perkara makanan maupun barang konsumsi lainnya, menurut Mu'jam al Wasith adalah barang yang tidak haram, mengonsumsinya tidak dilarang agama. Setidaknya, keharaman bisa dibagi menjadi dua aspek.  Pertama , haram secara dzat atau secara materi telah dinyatakan haram oleh syariat, seperti babi, bangkai, dan darah.  Kedua , haram bukan secara dzat-nya, tapi bisa dari cara membeli, memperoleh, atau mengolah barang tersebut.  Sedang makna thayyib , menurut keterangan Syekh Ar-Raghib al-Isfahani dalam Mu'jam M...

KESOMBONGAN PENGHALANG MASUK SORGA

Gambar
KESOMBONGAN PENGHALANG MASUK SORGA  Oleh : Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari  HAKEKAT KESOMBONGAN   Kesombongan (al-kibr) adalah melihat diri sendiri melebihi al-haq (kebenaran) dan al-khalq (makhluk; orang lain). Jadi, orang yang sombong melihat dirinya di atas orang lain dalam sifat kesempurnaan.  Kesombongan ada dua yaitu kesombongan terhadap al-haq (kebenaran), dan kesombongan terhadap al-khalq (makhluk/manusia).  Seorang manusia, tatkala melihat dan menganggap dirinya besar atau mulia, dia akan menganggap orang lain kecil dan merendahkannya. Dia akan memandang al-haq (kebenaran) akan menghancurkan kedudukannya dan mengecilkan posisinya. Dan dia melihat manusia lainnya seolah-olah binatang, karena dianggap bodoh dan hina. [Lihat at-Tawâdhu’ fî Dhauil Qur’ânil Karîm was Sunnah ash-Shahîhah, hlm. 35, karya syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli]  Dalam hadits, Rasûlullâh n telah menjelaskan makna kesombongan:  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ ...

APAKAH BENAR IBN SINA (AVICENNA) ADALAH SEORANG SYIAH?

Baca : Ibnu Sina, Ilmuwan Islam yang Diagungkan dan Dikafir-kafirkan  APAKAH BENAR IBN SINA (AVICENNA) ADALAH SEORANG SYIAH?  Ibnu Sina, atau nama lengkapnya Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina, lahir di Bukhara, Timur Tengah pada tahun 980 Masih atau setara dengan 370 Hijriah. Ia dikenal sebagai Avicenna di dunia Barat. Ia wafat pada tahun 1037 Masih di Hamadan, Iran. Ia menghafal Al-Quran sejak muda sebelum menguasai ilmu logika, filsafat, dan kedokteran, yang juga sejak muda.  Dia adalah seorang dokter, matematikawan, ahli pengobatan, dan filsuf yang sangat terkenal, dan kontribusinya di bidang-bidang ini diakui oleh seluruh dunia hingga saat ini.  Dikisahkan bahwa suatu hari raja Bukhara terserang penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh semua tabib istana. Ibnu Sina dibawa ke istana dan ditakdirkan bahwa ia berhasil menyembuhkan penyakit tersebut. Sebagai ucapan terima kasih, raja membuka perpustakaan kerajaan khusus untuk Ibnu Sina yang kem...

Ibnu Sina, Ilmuwan Islam yang Diagungkan dan Dikafir-kafirkan

Ibnu Sina, Ilmuwan Islam yang Diagungkan dan Dikafir-kafirkan  Ibnu Sina adalah tokoh yang tidak perlu diperkenalkan. Seluruh umat Islam tentu mengenalnya, di kalangan awam sekalipun, ia dikenal sebagai tokoh legenda ilmu kedokteran, penemu sistem peredaran darah. Ilmuwan Islam yang menjadi sumber kemajuan kedokteran modern. Bukti nyata hutang peradaban Barat kepada peradaban Islam. Nama Ibnu Sina dipakai sebagai nama masjid, rumah sakit, sekolah agama, taman pembelajaran Alquran hingga majelis taklim. Ia adalah bukti nyata kemajuan Islam yang begitu menghanyutkan hingga sekarang. Setelah pusat keilmuan dan sains telah lama bergeser ke Eropa, kehadiran seorang Ibnu Sina seolah masih “cukup” menutup kekecewaan umat Islam terhadap kemunduran besar itu.  Di luar dari glorifikasi tersebut, Ibnu Sina adalah tokoh yang begitu problematis. Seiring dengan penggunaan nama beliau di berbagai tempat bercorakkan Islam, di sana pula suara-suara yang mempermasalahkan hal tersebut, “Kenapa o...

Treacherous Alliance: Benarkah Iran Membela Palestina?

Gambar
Treacherous Alliance: Benarkah Iran Membela Palestina?  Kalau Anda percaya bahwa Iran adalah negara yang paling getol melawan Israel dan membela Palestina, keyakinan Anda ini tidak sepenuhnya benar—juga tidak sepenuhnya salah. Keyakinan ini diuji secara cukup dalam oleh seorang ahli hubungan internasional Amerika kelahiran Iran: Trita Parsi. Artikel ini akan mengulas salah satu masterpiece-nya, Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States.   Publik di Indonesia cenderung melihat buku ini sebagai buku yang membongkar rahasia hubungan Iran Israel, setidaknya karena dua hal. Pertama, judulnya cukup provokatif. “ Treacherous ”, yang dalam edisi terjemahan Indonesia diubah menjadi “ persekutuan ” memang seolah-olah meniscayakan adanya semacam persekongkolan jahat antara Iran dan Israel. Kedua, khusus dalam edisi Indonesia, cover buku tersebut adalah dua tangan yang saling menjabat. Satu dengan bendera Iran, satu lagi Israel. Cover edisi asli (Bah...