10 Persamaan Antara Houtsi dan Tarekat Sufi Ekstrim


10 Persamaan Antara Houtsi dan Tarekat Sufi Ekstrim

Oleh : Dr. Saad Al-Nuzaili.
University of the Holy Quran and Islamic Sciences Khartoum, Sudan.

Meskipun gerakan Houtsi dan tarekat Sufi ekstrim tampak berbeda dalam asal usul doktrin dan afiliasi intelektualnya, tetapi terungkap kesamaan signifikan yang perlu dipelajari dan dikritik saat meneliti beberapa kepercayaan dan praktik mereka.

Kesamaan ini terutama terlihat dalam penghormatan terhadap individu, melebih-lebihkan tokoh agamanya, melebih-lebihkan garis keturunan, kepercayaan yang berkaitan dengan orang mati dan tempat suci, serta praktik keagamaan yang tidak berdasarkan dalil yang kuat.

Pertama: Ekstremisme Mengenai Garis Keturunan dan Silsilah

Salah satu ciri paling menonjol dari ideologi Houtsi adalah menghubungkan hak kepemimpinan dan otoritas dengan kepemilikan garis keturunan tertentu, dan memberikan hak istimewa agama dan politik kepada afiliasi dengan keluarga Nabi (Ahli Bait). Sehingga mengangkat garis keturunan dalam wacana politik menjadi sumber legitimasi dan kekuasaan.

Hal ini tercermin dalam sufisme ekstrim melalui penghormatan berlebihan terhadap garis keturunan, terutama afiliasi dengan keluarga Nabi atau dengan keluarga para syaikh dan para wali, hingga afiliasi keluarga menjadi sarana untuk memperoleh status keagamaan dan sosial.

Namun, Houtsi menggunakan garis keturunan dalam teori pemerintahan dan otoritas politik mereka, sementara di kalangan Sufi, hal itu muncul dalam pewarisan jabatan syaikh dan kepemimpinan spiritual, tetapi juga tidak menghalangi penggunaannya secara politis ketika mereka memperoleh kekuasaan.

Namun, Houtsi menggunakan garis keturunan dalam teori pemerintahan dan otoritas politik mereka, sementara di kalangan Sufi, hal itu muncul dalam pewarisan jabatan syaikh dan kepemimpinan spiritual, tetapi juga tidak menghalangi penggunaannya secara politis ketika mereka memperoleh kekuasaan.

Timbangan hukum untuk ini adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” [Al-Hujurat: 13].

Garis keturunan tidak memberikan kemahakuasaan kepada pemiliknya, juga tidak menempatkannya di atas pertanggungjawaban, dan juga tidak menetapkan hak mutlak untuk memimpin manusia.

Kedua: Pengagungan dan Kultus Tokoh Agama

Kedua belah pihak memiliki fenomena penghormatan berlebihan terhadap tokoh rujukan keagamaan, meskipun bentuk dan tingkatannya berbeda.

Dalam ideologi Houtsi, ucapan-ucapan pendiri gerakan tersebut, Hussein Badr al-Din al-Houtsi, dan pidato-pidato kepemimpinannya menempati posisi sentral dalam membentuk kesadaran religius dan politik para pengikutnya. Hal ini terlihat dari ketergantungan pada tulisan dan ceramahnya sebagai sumber utama pendidikan dan bimbingan.

Di kalangan Sufi ekstrim, penghormatan terhadap syaikh melampaui batas-batas rasa hormat yang wajar, hingga pada titik di mana perkataannya menjadi otoritas tertinggi atas semua yang lain, mengalahkan kemauan murid untuk membahas atau menolaknya.

Imam Malik, rahimahullah, berkata: “Perkataan setiap orang dapat diterima atau ditolak kecuali perkataan orang yang dimakamkan di kubur ini,” merujuk kepada Nabi Muhammad, shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: Ekstremisme Terhadap Orang Mati dan Kuburan

Di antara Houtsi, terdapat manifestasi penghormatan terhadap tokoh-tokoh agama dan sejarah tertentu, memperingati peristiwa-peristiwa yang terkait dengan mereka, dan memberikan simbolisme religius yang besar pada makam dan tempat suci mereka.

Di kalangan Sufi ekstremis, praktik-praktik yang berkaitan dengan tempat-tempat suci dan kuburan berkisar dari praktik kontroversial memohon berkah dari orang mati hingga bentuk-bentuk yang lebih berbahaya seperti memohon kepada mereka dan meminta mereka untuk memenuhi kebutuhan.

Dalam hadits Jundub bin Abdullah, radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang sebelum kalian biasa menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang saleh sebagai tempat ibadah. Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku melarang kalian melakukannya.” [HR Muslim (532)].

Keempat: Takhayul dan Inovasi Beragama

Di antara kesamaan yang patut dikritik adalah penyebaran kepercayaan dan praktik tertentu yang mengangkat individu atau ritual ke status keagamaan tanpa didukung oleh dalil.

Hal ini terwujud dalam melebih-lebihkan karakteristik tokoh-tokoh tertentu, penetapan waktu dan ritual khusus untuk ibadah yang legitimasinya belum terbukti, atau mengaitkan berkah dan keselamatan dengan afiliasi kepada seorang syaikh, garis keturunan, atau kelompok.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR Al-Bukhari 2697 dan Muslim 1718).

Kelima: Melebih-lebihkan Para Wali

Salah satu poin kesamaan yang paling menonjol di antara gerakan-gerakan ekstremis adalah melebih-lebihkan konsep para wali.

Dalam ideologi Houtsi, konsep kewalian dan kepemimpinan politik saling terkait, serta loyalitas kepada kepemimpinan menjadi bagian sentral dari mobilisasi intelektual dan organisasi.

Adapun Sufisme ekstrim, status syaikh meluas melampaui bimbingan dan pendidikan menjadi semacam dominasi spiritual atas murid, sampai pada titik di mana menentang syaikh atau pemimpin menjadi sama dengan menentang agama itu sendiri.

Keenam: Pewarisan Otoritas dan Kepemimpinan

Kesamaan lainnya adalah transfer pengaruh agama dan sosial dalam keluarga tertentu.

Gerakan Houtsi, dalam asal-usul dan kepemimpinannya, terkait dengan keluarga al-Houtsi, dengan kepemimpinannya beralih dari Badr al-Din kepada Hussein Badr al-Din al-Houtsi kepada saudaranya, Abdul-Malik al-Houtsi.

Dalam sufisme, kepemimpinan syaikh diwariskan dari ayah kepada anak, atau tetap berada dalam keluarga yang sama, terlepas dari perbedaan kualifikasi keilmuan dan pendidikan.

Bukan hanya peralihan kepemimpinan dalam keluarga yang dilarang, tetapi kritik terletak pada menjadikan warisan sebagai bukti kelayakan atau sumber hak istimewa keagamaan yang hanya dimiliki oleh anggota keluarga.

Ketujuh: Menciptakan Aura Keagamaan di Sekitar Pemimpin

Kedua belah pihak dapat menggunakan gelar, kebajikan, narasi, dan pidato emosional untuk menciptakan citra luar biasa dari pemimpin atau syaikh.

Fenomena ini menjadi semakin berbahaya ketika standar pengetahuan, keadilan, dan integritas digantikan oleh loyalitas pribadi, atau ketika status pemimpin menjadi penghalang untuk meminta pertanggungjawaban atas kesalahan mereka.

Tidak peduli seberapa tinggi posisi mereka, individu tidaklah sempurna, dan kecintaan kepada mereka seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghalangi kritik dan pertanggungjawaban.

Kedelapan: Mengeksploitasi Emosi Keagamaan

Gerakan Houtsi menggunakan simbol-simbol keagamaan dan sejarah, khususnya yang berkaitan dengan Ahl al-Bayt (keluarga Nabi) dan penindasan yang mereka alami, dalam mobilisasi dan wacana politiknya.

Di kalangan sufi ekstrim, kecintaan keagamaan dan keterikatan emosional kepada syaikh dan orang suci digunakan untuk memperkuat kesetiaan spiritual.

Kesembilan: Mencampuradukkan Cinta yang Syar’i dengan Ekstremisme yang Tercela

Kelompok Houtsi menyatakan penghormatan dan kecintaan mereka kepada keluarga Nabi, dan beberapa tarekat sufi menjadikan kecintaan kepada para wali dan individu yang shalih sebagai prinsip dasar dalam wacana mereka. Cinta ini kemudian dapat berubah menjadi penghormatan berlebihan terhadap individu, mengaitkan kepada mereka kualitas yang tidak ditetapkan oleh hukum Islam, atau menggunakan cinta ini sebagai dalih untuk memaksakan ketaatan mutlak.


Kesepuluh: Memprioritaskan Afiliasi daripada Dalil

Salah satu aspek paling berbahaya dari hal ini adalah memprioritaskan afiliasi dengan suatu kelompok, syaikh, atau garis keturunan di atas dalil syar’i.

Dengan demikian, standar kebenaran bagi para pengikutnya adalah apa yang dikatakan oleh pemimpinnya, bukan apa yang ditunjukkan oleh Al-Quran dan Sunnah. Siapapun yang tidak setuju, menjadi sasaran tuduhan karena menyimpang dari tokoh rujukan mereka.

Sumber : https://saudinesia.id/

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah