Postingan

Menampilkan postingan dengan label AI-Kecerdasan buatan

Jangan Takut pada AI, Takutlah pada Kebodohan Manusia

Jangan Takut pada AI, Takutlah pada Kebodohan Manusia Tahun lalu, fisikawan teoretis terkenal Stephen Hawking berkelakar bahwa kecerdasan buatan adalah "hal terbaik atau terburuk yang pernah terjadi pada umat manusia." Dia tidak sendirian dalam sentimen itu. Untuk setiap pernyataan bahwa algoritma AI akan mengubah dunia menjadi lebih baik, tampaknya ada  argumen tandingan distopia  bahwa teknologi tersebut akan menghancurkan umat manusia. Pendukung pandangan terakhir sering menggunakan citra seperti Terminator untuk menekankan risiko yang akan segera ditimbulkan oleh penguasa robot super cerdas bagi umat manusia. Namun, pandangan ini hampir sama banyaknya dengan   Frankenstein karya Mary Shelley , yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1818. Perbedaan utamanya adalah bahwa ia menggantikan  monster Frankenstein   dengan robot yang diberdayakan oleh AI. Namun, sebagian besar skenario ini tidak tahan terhadap pengamatan lebih dekat. Mengapa...

Bolehkah Bertanya ke AI dalam Persoalan Keagamaan?

Bolehkah Bertanya ke AI dalam Persoalan Keagamaan? Bertanya tentang persoalan agama kepada artificial intelligence (AI) diperbolehkan selama teknologi tersebut diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti otoritas ulama. Pengguna juga dituntut memiliki etika, kemampuan memilah sumber, serta memahami batas-batas AI dalam menjawab persoalan keagamaan. Pandangan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (22/7) saat membahas pemanfaatan AI dalam mencari informasi keislaman. Mukhlis menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan pedoman ketika seseorang menghadapi persoalan yang tidak diketahuinya. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 7;   فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٧   ".....bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan apabila kamu tidak mengetahui" Menurutnya, frasa ahl al-dzikr secara eksplisit merujuk kepada manusia yang memili...