Cara tadabbur Quran

Ilustrasi :

Perbedaan "filosofi" dengan "tadabbur" :

Filosofi adalah pencarian kebenaran hidup menggunakan akal dan logika manusia, sedangkan tadabbur adalah perenungan mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur'an menggunakan hati yang hidup untuk mencari petunjuk Allah.

Filosofi:
  • Sumber utama: Rasio, logika, dan pengamatan akal pikiran manusia.
  • Tujuan: Menemukan jawaban logis tentang hakikat keberadaan, etika, dan alam semesta.
  • Sifat: Spekulatif dan rasional, bisa benar atau salah berdasarkan akal.
Tadabbur:
  • Sumber utama: Wahyu Al-Qur'an yang dibarengi iman dan kebersihan hati.
  • Tujuan: Memahami pesan Allah, merasakan kedekatan dengan-Nya, dan mengamalkan isinya.
  • Sifat: Spiritual dan transformatif, langsung berdampak pada amal perbuatan.
Cara yang paling tepat untuk memahami Al-Qur'an adalah dengan tadabbur (merenungkan makna secara mendalam), karena tadabbur adalah metode utama yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT untuk mendapatkan petunjuk hidup.

Mengapa Tadabbur Lebih Tepat?
  • Perintah Langsung: Allah SWT meminta manusia merenungkan Al-Qur'an agar mereka paham (Surat Sad ayat 29).
  • Melibatkan Hati: Tadabbur tidak hanya memakai akal, tetapi juga melibatkan kelembutan hati dan rasa takut kepada Allah.
  • Tujuan Praktis: Hasil dari tadabbur adalah perubahan sikap dan amal perbuatan sehari-hari.
Peran Pendekatan Filosofis
  • Alat Bantu Rasional: Filosofi menggunakan logika dan akal untuk menganalisis suatu konsep atau pemikiran.
  • Keterbatasan Akal: Filsafat bisa salah atau tersesat jika hanya mengandalkan rasio tanpa tunduk pada aturan agama.
  • Bukan yang Utama: Filosofi boleh dipakai untuk memahami hikmah, tetapi tidak bisa menggantikan fungsi spiritual dari tadabbur.
Perbedaan Utama Keduanya
  • Tadabbur: Sifatnya spiritual, hati yang tunduk, dan mencari hidayah (petunjuk).
  • Filosofi: Sifatnya rasional, logika berpikir, dan mencari kebenaran akal.

Baca artikel :
---o0o---

Cara tadabbur Quran

Mengungkap kunci tadabbur: Menguasai seni refleksi mendalam atas Al-Quran yang abadi dan tak lekang oleh waktu

Oleh : oleh Ustazah Nur Hidayah Azman

Bagaimana mungkin Al-Quran, yang diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu, terus memberikan pengetahuan dan bimbingan yang relevan kepada para pembacanya di dunia yang serba cepat dan terus berkembang saat ini? Bayangkan bagaimana kehidupan seseorang akan terlihat ketika kekayaan isinya dan kekekalan kebijaksanaannya diserap melalui tadabbur yang bertujuan dan penuh kesadaran? 

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Quran, 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ ......۝١٨٥

“Bulan Ramadan adalah bulan di mana Al-Quran diturunkan, sebagai petunjuk bagi manusia dan bukti-bukti nyata tentang petunjuk dan kriteria…” (Surah Al-Baqarah, 2:185) 

Seperti mercusuar abadi di dunia yang kaya akan informasi namun langka akan kebijaksanaan, Al-Quran tidak pernah gagal menawarkan wawasan dan bimbingan yang mendalam kepada para pembacanya. Kemampuannya untuk menjawab beragam kebutuhan individu dan masyarakat di berbagai zaman adalah salah satu dari banyak faktor yang membuktikan bahwa Al -Quran diturunkan secara Ilahi dan bukan ditulis oleh manusia . 

Al-Quran adalah firman Allah SWT. Meskipun diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun kenabiannya, Al-Quran melampaui batas waktu dan ruang. Ayat-ayatnya tetap relevan dan dapat diterapkan dalam menghadapi isu-isu kontemporer dan tantangan yang terus dialami umat manusia. Lebih jauh lagi, Al-Quran merupakan sumber pengetahuan yang memikat para cendekiawan dan ahli bahasa melalui kesempurnaan linguistik dan sastra Al-Quran. 

Tak pelak lagi, ketika individu dan para pencari kebenaran mendalami ayat-ayatnya melalui tadabbur, mereka akan menemukan harta karun berupa kebijaksanaan abadi yang memperkaya hidup mereka. Lebih jauh lagi, ia menerangi jalan mereka menuju pemenuhan spiritual dan keunggulan moral. Tetapi apakah tadabbur itu? 

Definisi tadabbur 

Tadabbur adalah aspek mendasar dalam memahami Al-Quran. Hal ini melibatkan upaya penuh kesadaran untuk merenungkan makna ayat-ayatnya, implikasinya, dan pelajaran yang disampaikan. 

Allah SWT menjelaskan dengan indah dalam Al-Quran, 

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝٢٩

“(Ini adalah) Kitab yang diberkahi yang telah Kami turunkan kepadamu, (wahai Muhammad), agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pengingat.” (Surah Sad, 38:29) 

Tadabbur, yang sering dipahami sebagai perenungan Al-Quran, melampaui sekadar pembacaan. Tindakan tadabbur membawa individu untuk menggali lebih dalam lapisan makna dan hikmah yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut. Komponen utamanya meliputi pemahaman, refleksi, penerapan, koneksi spiritual, dan proses yang berkelanjutan.  

Menarik untuk dicatat bahwa istilah tadabbur berasal dari kata dasar Arab dabbara, yang berarti bagian belakang atau bawah sesuatu. Dengan kata lain, istilah ini menggambarkan pembaca yang menemukan akar permasalahan. Dalam hal ini, bagian bawah Al-Quran, untuk menemukan pesan-pesan yang lebih besar dan makna yang lebih dalam dari ayat-ayat yang diturunkan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui pendekatan yang penuh kesadaran. 

Dalam Sahih Muslim, Hudhayfah ibn Al-Yaman meriwayatkan bahwa ia menghabiskan malam yang panjang shalat bersama Nabi Muhammad SAW. Beliau menggambarkan bacaan Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: 

يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ تَعَوَّذَ 

“Dia membaca dengan sungguh-sungguh. Dan setiap kali dia membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan kemuliaan (Allah SWT), dia akan memuji-Nya. Dan setiap kali dia membaca ayat-ayat (yang berisi nikmat) yang mengharuskan berdoa, dia akan berdoa. Dan setiap kali dia membaca ayat-ayat (yang berisi rasa takut) yang mengharuskan memohon perlindungan, dia memohon perlindungan (kepada Allah SWT).” (Sahih Muslim) 

Cara dan pendekatan Nabi Muhammad SAW yang penuh pertimbangan ini mencerminkan tadabbur dan penghormatan terhadap kata-kata yang dibaca. Hal ini menunjukkan keterlibatan yang penuh perhatian dengan pesan dari Allah SWT, memberikan ruang untuk refleksi dan penyerapan maknanya. MasyaAllah, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW menunjukkan dengan sangat baik apa arti tadabbur! 

Signifikansi tadabbur 

Di balik permukaan Al-Quran terdapat kedalaman yang signifikan yang menunggu untuk dieksplorasi melalui tadabbur. Ini termasuk perannya yang beragam dalam membentuk tatanan moral masyarakat, membangkitkan rasa ingin tahu intelektual, dan menawarkan penghiburan yang mendalam bagi hati para pembacanya. 

Berikut beberapa makna dan manfaat tadabbur: 

(i) Memupuk kerangka moral dan etika untuk kehidupan sehari-hari 

Al-Quran, melalui tadabbur, menyingkap kekayaan prinsip-prinsip moral dan etika yang berfungsi sebagai pedoman hidup. Dengan setiap upaya tadabbur, individu akan memperoleh wawasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kasih sayang, kejujuran, keadilan, dan integritas. Al-Quran bukan hanya wahyu Ilahi, tetapi juga panduan praktis bagi setiap orang untuk menghadapi kompleksitas tantangan dan interaksi sosial. 

Allah SWT menyatakan kebenaran tentang umat Islam; komunitas yang menerima wahyu Al-Quran, 

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ ..... ۝١١٠

“Kamu adalah umat terbaik yang dijadikan contoh bagi umat manusia. Kamu menyeru kepada kebaikan dan melarang keburukan, serta beriman kepada Allah…” (Surah Ali-'Imran, 3:110) 

(ii) Memberikan stimulasi dan peningkatan intelektual 

Di luar makna spiritualnya, Al-Quran menawarkan kepada para pembacanya gudang pengetahuan dan kebijaksanaan yang mengajak untuk terlibat dalam penyelidikan dan eksplorasi intelektual. Tadabbur merangsang pikiran, mendorong pemikiran kritis, analisis, dan interpretasi. 

Banyak bidang ilmu telah ditemukan melalui upaya intelektual yang tak terhitung jumlahnya dari para cendekiawan kita di masa lalu dengan ayat-ayat Al-Quran. Lapisan maknanya, konteks sejarah, nuansa linguistik, dan wawasan mendalam menambah kedalaman eksplorasi Al-Quran yang semestinya. 

Allah swt menyebutkan dalam surat ar-Ra'd, 

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًاۗ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٣ 

“Dan Dialah yang membentangkan bumi dan menjadikan di dalamnya gunung-gunung dan sungai-sungai yang kokoh; dan dari segala buah-buahan Dia menjadikan di dalamnya ada dua pasangan; dan Dia menjadikan malam menutupi siang. Sesungguhnya pada benda-benda itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (Surah Ar-Ra'd, 13:3) 

Tadabbur memungkinkan individu untuk memulai perjalanan penemuan intelektual, memperdalam pemahaman individu tentang kebenaran Ilahi dan memperluas cakrawala kognitif mereka hingga potensi maksimalnya. Ia mendorong pencarian pengetahuan dan kebijaksanaan seumur hidup, memperkaya intelektualitas dan memelihara budaya intelektual yang dinamis dalam komunitas. 

(iii) Memberikan penyembuhan yang dibutuhkan dan penghiburan yang besar 

Tadabbur memungkinkan individu untuk menemukan ketenangan dalam jaminan Ilahi bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan mereka dan bahwa setiap kesulitan adalah ujian iman. Kitab ini menanamkan rasa puas, damai, dan ketenangan spiritual. Lebih jauh lagi, kitab ini memungkinkan para pembacanya untuk menghadapi tantangan hidup dengan keberanian, iman, ketulusan, dan keteguhan. 

Sebagai contoh, Allah SWT menyebutkan dalam ayat berikut ini,  

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ۝٨٢

“Dan Kami menurunkan Al-Quran yang merupakan penyembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Quran itu tidak menambah kerugian bagi orang-orang yang berbuat zalim.” (Surah Al-Isra', 17:82) 

Ayat yang mendalam ini merangkum kekuatan transformatif Al-Quran ketika didekati dengan iman dan ketulusan yang besar. Melalui tadabbur, seseorang dapat membuka aspek penyembuhan Al-Quran — yang menenangkan hati, menghilangkan kekhawatiran, dan memberikan penghiburan di saat-saat kesulitan. 

Al-Quran tidak hanya mengatasi penyakit fisik, tetapi dalam banyak hal, melalui rahmat Allah SWT, juga berfungsi sebagai obat spiritual dan penyembuhan bagi jiwa. Bimbingan dan ketenangan ini diberikan kepada pembaca ketika ayat-ayatnya direnungkan dan dipikirkan. 

Cara tadabbur Quran

Meskipun praktik tadabbur dapat berbeda-beda antar individu, tujuan utamanya tetap konsisten — untuk menumbuhkan hubungan yang mendalam dengan mengingat Allah SWT dan pesan-Nya. Sangat penting untuk menyadari bahwa tadabbur bukanlah proses yang terburu-buru. Sebaliknya, hal itu membutuhkan kesabaran, dedikasi, dan kesadaran penuh. 

Dalam Muwatta 1 karya Imam Malik, Yahya ibn Sa'id meriwayatkan bahwa seorang pria datang kepada Zayd ibn Thabit ra untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai Al-Quran. Ia bertanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang membaca Al-Quran dalam tujuh hari?” Zayd ibn Thabit ra menjawab, “Itu baik, tetapi membacanya dalam setengah bulan atau sepuluh hari lebih saya sukai. Tanyakan kepada saya mengapa demikian.” Pria itu berkata, “Sesungguhnya saya bertanya kepada Anda.” Zayd ibn Thabit menjawab, “Agar saya merenungkannya dan berhenti sejenak untuk memahaminya.” 

Berikut 10 langkah praktis yang dapat membantu pembaca menelusuri perjalanan tadabbur: 

Langkah 1: Tetapkan niat 

Mulailah dengan memurnikan niat dan mencari ketulusan dalam upaya memahami dan merenungkan Al-Quran. Dekati tadabbur Al-Quran dengan kerendahan hati, hati yang terbuka, dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh petunjuk dari firman-Nya. 

Langkah 2: Pilih sebuah bagian 

Pilihlah surah (bab) atau ayat tertentu dari Al-Quran yang sesuai atau menjawab pertanyaan khusus yang ingin direnungkan. Pertimbangkan untuk memulai dengan yang lebih pendek dan secara bertahap beralih ke yang lebih panjang dan lebih luas. 

Langkah 3: Mulailah membaca 

Bacalah dan ucapkan dengan saksama apa yang telah dipilih. Fokuskan perhatian pada kata-katanya, terjemahannya, maknanya, dan implikasinya. Perhatikan keindahan strukturnya dan huruf-huruf yang dipilih untuk membentuk ayat-ayat tersebut. Ucapkan perlahan dan biarkan irama kata-kata yang diucapkan memikat hati dan pikiran Anda. 

Langkah 4: Pahami konteksnya 

Penting untuk mempelajari tafsir (penafsiran Al-Quran), seperti karya Ibnu Katsir, untuk memahami konteks di mana ayat tersebut diturunkan. Pertimbangkan latar belakang sejarah, keadaan, dan peristiwa yang terjadi selama turunnya ayat tersebut. Memahami konteks akan memberikan wawasan berharga tentang pesan dan makna yang dimaksudkan. 

Langkah 5: Renungkan maknanya 

Luangkan waktu untuk merenungkan secara mendalam pelajaran dan hikmat yang disampaikan melalui ayat-ayat tersebut. Pertimbangkan implikasinya dalam kehidupan, keyakinan, tindakan, dan hubungan. Renungkan esensi, bimbingan, dan poin pembelajaran yang terkandung dalam ayat tersebut dan bagaimana hal itu selaras dengan pengalaman dan aspirasi pribadi. 

Langkah 6: Mulailah mengajukan pertanyaan 

Tumbuhkan rasa ingin tahu! Ajukan pertanyaan seperti, 'Apa yang diajarkan ayat ini tentang sifat-sifat Allah?', 'Bagaimana dengan petunjuk-Nya dan hakikat iman?', 'Bagaimana pelajaran yang didapat dapat diterapkan dalam kehidupan?' dan berusahalah untuk menjawabnya. Terlibat dalam penyelidikan kritis, yang berasal dari niat yang tulus, dapat memperdalam pemahaman tentang ayat-ayat tersebut. 

Langkah 7: Mintalah bimbingan dari asatizah 

Sebagaimana perjalanan refleksi merupakan perjalanan pribadi, penting untuk berkonsultasi dengan asatizah yang kredibel sesuai bidang keahlian mereka. Hal ini dapat memberikan klarifikasi dan interpretasi lebih lanjut terhadap ayat tersebut. Mencari bimbingan dan konsultasi juga akan memastikan apa yang telah direfleksikan tetap mengarah pada mengingat Allah SWT. 

Langkah 8: Menghayati dan menerapkan 

Dengan menghayati pelajaran dan wawasan yang diperoleh dari ayat-ayat tersebut, hal itu membuka pintu untuk mewujudkan ajaran dan pesan-pesannya. Ini memberdayakan pikiran, keyakinan, sikap, dan tindakan. Pertimbangkan untuk mengeksplorasi cara-cara praktis untuk menerapkan bimbingan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses pengambilan keputusan dan upaya untuk memperkuat hubungan. 

Langkah 9: Lanjutkan berlatih 

Pastikan untuk menjadikan tadabbur sebagai praktik yang teratur dan konsisten. Sisihkan waktu setiap hari untuk refleksi dan kontemplasi Al-Quran. Praktik yang berkelanjutan, meskipun sedikit tetapi konsisten, akan memperdalam hubungan spiritual dan meningkatkan apresiasi terhadap ayat-ayat tersebut dari waktu ke waktu. 

Langkah 10: Akhiri dengan permohonan dan rasa syukur 

Ingatlah untuk mengakhiri sesi tadabbur dengan doa-doa, memohon kepada Allah SWT berkah, ampunan, petunjuk, dan keridhaan-Nya. Selain itu, ungkapkan rasa syukur atas setiap kesempatan yang merendahkan hati untuk berinteraksi dengan firman-Nya dan menerima pencerahan dari wahyu abadi. 

Kesimpulan 

Dalam Hilyat Al-Awliya 2 , Abu Maryam bin As-Salt meriwayatkan beberapa kata hikmah dari Imam Al-Hasan Al-Basri. Dia berkata,  

إِنَّ أَهْلَ الْعَقْلِ لَمْ يَزَالُوا يَعُودُونَ بِالذِّكْرِ عَلَى الْفِكْرِ وَبِالْفِكْرِ عَلَى الذِّكْرِ حَتَّى اسْتَيْقَظَتْ قُلُوبُهُمْ فَنَطَقَتْ بِالْحِكْمَةِ 

“Sesungguhnya orang-orang yang berakal budi terus menerus bergantian antara mengingat dan merenungkan, dan merenungkan lalu mengingat, hingga hati mereka terbangun dan berbicara dengan hikmat.” 

Inilah perjalanan transformatif bersama Al-Quran yang patut dijalani. Perjalanan ini mencakup merangkul setiap perjumpaan dengan firman Allah SWT, melalui pembacaan dan tadabbur, sebagai pencerahan mendalam bagi hati. Setiap perjumpaan dengan Al-Quran terus membuka segudang hikmah, segudang pengetahuan, limpahan petunjuk, dan bimbingan bagi individu sepanjang perjalanan hidup dalam mengejar Allah SWT. 

Ya Allah, jadikan Al-Quran sebagai sumber mata air hati kami, cahaya dada kami, penghapus kesedihan kami, dan penenang kesusahan kami. Ya Allah, jadikan Tadabbur sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kami yang tak dapat kami tinggalkan. Allahumma amin. 

Baca juga artikel terkait berikut : 
Catatan

1. Muwatta' adalah kitab kompilasi hadits karya Imam Malik. Imam Malik, yang juga merupakan ahli hukum besar dan pendiri Mazhab Maliki, mengemukakan pendapatnya tentang hukum Islam melalui kitab Muwatta'. Baca: 4 Mazhab dalam Islam

2. Salah satu karya awal tentang spiritualitas - Sufisme karya Abu Nu'aim Al-Isfahani. 

Sumber :

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah