Mengapa di Muhammadiyah tidak Mengenal Habib?
Apakah Muhammadiyah Tak Punya Wali?
Tak ada makam keramat atau kisah kesaktian dalam Muhammadiyah. Namun di balik kesederhanaannya, justru tersembunyi bentuk kewalian yang membumi-iman yang rasional, kerja yang sosial, dan tauhid yang memerdekakan.
Oleh : Dr. Aji Damanuri, M.E.I.,
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Di banyak ruang keagamaan Nusantara, kisah tentang kewalian dan karamah adalah narasi yang hidup, bahkan menggairahkan. Tokoh-tokoh yang dianggap wali—karena kesalehan, kealiman, atau keajaiban spiritualnya—menjadi poros ziarah, sumber berkah, bahkan penafsir realitas.
Ada yang diyakini bisa berada di dua tempat sekaligus, mengetahui hal-hal gaib, atau memiliki pengaruh luar biasa pada semesta. Dalam masyarakat seperti ini, wajar jika seseorang yang menonjol dalam dakwah atau amal sering kali ditokohkan sebagai “orang suci”.
Namun, pemandangan seperti itu nyaris tidak pernah ditemukan di lingkungan Muhammadiyah. Tak ada kisah KH Ahmad Dahlan muncul dua kali di tempat berbeda. Tak ada ziarah ke makam “wali Muhammadiyah”.
Tak ada pula orang Muhammadiyah yang dianggap memiliki kesaktian, karamah, atau keistimewaan spiritual di luar nalar. Bahkan, dalam keseharian warga Muhammadiyah, istilah wali lebih sering disebut dalam arti etis, bukan mistis: wali sebagai orang saleh, bukan orang ajaib.
Mengapa demikian? Apakah orang Muhammadiyah tidak bisa menjadi wali? Apakah Muhammadiyah tidak percaya pada konsep kewalian dan karamah sebagaimana diyakini dalam tradisi Islam? Ataukah Muhammadiyah menolak keberadaan orang suci sama sekali? Siapa yang memiliki otoritas menentukan seseorang itu wali atau bukan?
Rasionalisme Teologis Muhammadiyah
Jawabannya berakar pada cara berpikir teologis Muhammadiyah yang rasional dan berbasis tauhid murni. Dalam pandangan Muhammadiyah, segala bentuk kepercayaan terhadap “kekuatan khusus” di luar sunatullah (hukum alam dan sebab-akibat yang diciptakan Allah) harus ditimbang dengan sangat hati-hati agar tidak tergelincir pada syirik halus (syirik khafi).
Karena itu, Muhammadiyah bukan menolak kewalian, melainkan menolak pemujaan terhadap wali.
Bagi Muhammadiyah, wali memang ada. Al-Qur’an sendiri menegaskan keberadaan mereka:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa.” (Yunus: 62–63)
Namun, ayat ini memberikan definisi yang sangat lugas: wali adalah orang beriman dan bertakwa—tidak disebutkan memiliki keajaiban, kesaktian, atau kekuatan supranatural. Dalam tafsir rasional Muhammadiyah, ayat tersebut menegaskan moral-spiritual quality, bukan supernatural ability. Kewalian adalah derajat etis, bukan status kosmis.
Kewalian sebagai Etos, Bukan Status
K.H. Ahmad Dahlan—pendiri Muhammadiyah—sendiri tidak pernah menampilkan diri sebagai orang yang memiliki keistimewaan gaib. Ia dikenal sebagai pembaharu yang berpikir logis, empiris, dan progresif. Ia berdiskusi tentang arah kiblat dengan dalil astronomi, bukan mimpi.
Ia membangun sekolah dan rumah sakit, bukan menebar jimat atau air berkah. Namun, jika kewalian berarti keteguhan dalam iman, ketakwaan, dan perjuangan membela kebenaran, maka Ahmad Dahlan justru adalah figur kewalian dalam pengertian substantif.
Dalam Muhammadiyah, konsep wali itu tidak dihapus—hanya dibersihkan dari mistisisme yang tidak produktif. Wali bukanlah “orang suci” yang harus disembah, tetapi manusia biasa yang menempuh jalan iman dengan sungguh-sungguh. Ia menjadi wali bukan karena karamah fisik, tetapi karena dedikasi moral dan sosialnya.
Itulah mengapa dalam sejarah Muhammadiyah, kita menemukan tokoh-tokoh seperti K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Buya Hamka, Ahmad Azhar Basyir, dan A.R. Fachruddin—tokoh-tokoh yang sangat spiritual, tetapi tetap rasional dan terukur.
Karamah dalam Tafsir Rasional
Lalu bagaimana dengan karamah—keajaiban yang konon diberikan Allah kepada para wali? Muhammadiyah tidak menolak kemungkinan karamah, tetapi menempatkannya dalam kerangka qudrah Allah, bukan kekuatan manusia.
Artinya, jika pun ada keajaiban, itu bukan karena wali itu memiliki kekuatan khusus, melainkan karena Allah berkehendak demikian.
Namun, Muhammadiyah menolak menjadikan karamah sebagai tolok ukur kesalehan atau kebenaran seseorang. Sebab, dalam sejarah, banyak orang yang tampak “ajaib” justru menyesatkan umat, sementara banyak orang saleh bekerja dalam diam tanpa sensasi.
Karamah sejati, kata Muhammadiyah, adalah kemampuan menegakkan amar makruf nahi mungkar di tengah zaman yang rusak. Itulah “karamah sosial”—keajaiban moral yang bisa diukur dan ditiru, bukan hanya diceritakan.
Dalam pandangan ini, seorang guru yang sabar mendidik anak-anak miskin agar cerdas dan berakhlak mulia lebih karomatik daripada seseorang yang bisa berjalan di atas air. Karena yang pertama melahirkan peradaban, sedangkan yang kedua hanya melahirkan kagum sesaat.
Kritik terhadap “Orang Suci”
Sikap kritis Muhammadiyah terhadap konsep “orang suci” sebenarnya adalah kritik terhadap feodalisme spiritual yang sering tumbuh di masyarakat. Kultus individu dalam bentuk “pengultusan wali” sering kali menjauhkan umat dari rasionalitas dan tanggung jawab personal.
Umat menjadi pasif, berharap berkah dari sosok tertentu, bukan bekerja keras memperbaiki diri dan masyarakat. Dalam bahasa K.H. Ahmad Dahlan, itu sama dengan menyembah manusia dengan cara halus.
Dengan membebaskan umat dari mitos kesucian personal, Muhammadiyah ingin menegakkan kesetaraan spiritual: bahwa setiap Muslim punya peluang yang sama untuk menjadi dekat dengan Allah sejauh ia beriman dan bertakwa. Tidak ada kasta rohani dalam Islam. Tidak ada “kelas wali” yang lebih dekat dengan surga hanya karena garis keturunan atau kesaktian.
Di sinilah letak radikalisme tauhid Muhammadiyah. Tauhid bukan sekadar mengakui keesaan Tuhan, tetapi juga meniadakan segala bentuk perantara antara manusia dan Allah yang bisa menggantikan fungsi iman dan amal saleh.
Wali dalam Dunia Modern
Menariknya, dalam konteks modern, pemikiran Muhammadiyah ini terasa semakin relevan. Dunia yang diguncang pseudo-spiritualitas—dari kultus selebritas hingga influencer rohani—membutuhkan bentuk kesalehan yang rasional, aktif, dan berorientasi sosial.
Muhammadiyah menawarkan itu. Wali di zaman ini bukan yang bisa menembus ruang dan waktu, melainkan yang bisa menembus batas kebodohan dan kemiskinan umat.
Jika di masa lalu karamah berarti bisa berjalan di atas air, maka karamah zaman ini adalah bisa membangun jembatan pengetahuan. Jika dulu karamah berarti tahu hal gaib, maka kini karamah adalah mampu membaca tanda-tanda zaman.
Karamah baru adalah kemampuan memadukan iman dengan ilmu, spiritualitas dengan teknologi, dan dakwah dengan kerja nyata.
Kewalian yang Membumi
Muhammadiyah tidak kehilangan wali—ia hanya tidak menampilkannya sebagai mitos. Para wali Muhammadiyah berjalan di bumi, berpakaian biasa, bekerja di sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial.
Mereka tidak mencari pujian, tidak mencipta keajaiban, tetapi menghadirkan maslahat. Mereka mungkin tidak “keramat”, tetapi hidupnya membawa keberkahan bagi banyak orang.
Mungkin inilah rahasia terbesar kewalian Muhammadiyah: ia tidak tampak, tapi terasa. Tidak sakral dalam simbol, tapi suci dalam tindakan. Tidak bicara tentang karamah, tapi menciptakan keajaiban sosial. Dan bukankah itu bentuk tertinggi dari karamah itu sendiri?
Sumber : https://tagar.co/
Tak ada makam keramat atau kisah kesaktian dalam Muhammadiyah. Namun di balik kesederhanaannya, justru tersembunyi bentuk kewalian yang membumi-iman yang rasional, kerja yang sosial, dan tauhid yang memerdekakan.
Oleh : Dr. Aji Damanuri, M.E.I.,
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Di banyak ruang keagamaan Nusantara, kisah tentang kewalian dan karamah adalah narasi yang hidup, bahkan menggairahkan. Tokoh-tokoh yang dianggap wali—karena kesalehan, kealiman, atau keajaiban spiritualnya—menjadi poros ziarah, sumber berkah, bahkan penafsir realitas.
Ada yang diyakini bisa berada di dua tempat sekaligus, mengetahui hal-hal gaib, atau memiliki pengaruh luar biasa pada semesta. Dalam masyarakat seperti ini, wajar jika seseorang yang menonjol dalam dakwah atau amal sering kali ditokohkan sebagai “orang suci”.
Namun, pemandangan seperti itu nyaris tidak pernah ditemukan di lingkungan Muhammadiyah. Tak ada kisah KH Ahmad Dahlan muncul dua kali di tempat berbeda. Tak ada ziarah ke makam “wali Muhammadiyah”.
Tak ada pula orang Muhammadiyah yang dianggap memiliki kesaktian, karamah, atau keistimewaan spiritual di luar nalar. Bahkan, dalam keseharian warga Muhammadiyah, istilah wali lebih sering disebut dalam arti etis, bukan mistis: wali sebagai orang saleh, bukan orang ajaib.
Mengapa demikian? Apakah orang Muhammadiyah tidak bisa menjadi wali? Apakah Muhammadiyah tidak percaya pada konsep kewalian dan karamah sebagaimana diyakini dalam tradisi Islam? Ataukah Muhammadiyah menolak keberadaan orang suci sama sekali? Siapa yang memiliki otoritas menentukan seseorang itu wali atau bukan?
Rasionalisme Teologis Muhammadiyah
Jawabannya berakar pada cara berpikir teologis Muhammadiyah yang rasional dan berbasis tauhid murni. Dalam pandangan Muhammadiyah, segala bentuk kepercayaan terhadap “kekuatan khusus” di luar sunatullah (hukum alam dan sebab-akibat yang diciptakan Allah) harus ditimbang dengan sangat hati-hati agar tidak tergelincir pada syirik halus (syirik khafi).
Karena itu, Muhammadiyah bukan menolak kewalian, melainkan menolak pemujaan terhadap wali.
Bagi Muhammadiyah, wali memang ada. Al-Qur’an sendiri menegaskan keberadaan mereka:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa.” (Yunus: 62–63)
Namun, ayat ini memberikan definisi yang sangat lugas: wali adalah orang beriman dan bertakwa—tidak disebutkan memiliki keajaiban, kesaktian, atau kekuatan supranatural. Dalam tafsir rasional Muhammadiyah, ayat tersebut menegaskan moral-spiritual quality, bukan supernatural ability. Kewalian adalah derajat etis, bukan status kosmis.
Kewalian sebagai Etos, Bukan Status
K.H. Ahmad Dahlan—pendiri Muhammadiyah—sendiri tidak pernah menampilkan diri sebagai orang yang memiliki keistimewaan gaib. Ia dikenal sebagai pembaharu yang berpikir logis, empiris, dan progresif. Ia berdiskusi tentang arah kiblat dengan dalil astronomi, bukan mimpi.
Ia membangun sekolah dan rumah sakit, bukan menebar jimat atau air berkah. Namun, jika kewalian berarti keteguhan dalam iman, ketakwaan, dan perjuangan membela kebenaran, maka Ahmad Dahlan justru adalah figur kewalian dalam pengertian substantif.
Dalam Muhammadiyah, konsep wali itu tidak dihapus—hanya dibersihkan dari mistisisme yang tidak produktif. Wali bukanlah “orang suci” yang harus disembah, tetapi manusia biasa yang menempuh jalan iman dengan sungguh-sungguh. Ia menjadi wali bukan karena karamah fisik, tetapi karena dedikasi moral dan sosialnya.
Itulah mengapa dalam sejarah Muhammadiyah, kita menemukan tokoh-tokoh seperti K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Buya Hamka, Ahmad Azhar Basyir, dan A.R. Fachruddin—tokoh-tokoh yang sangat spiritual, tetapi tetap rasional dan terukur.
Karamah dalam Tafsir Rasional
Lalu bagaimana dengan karamah—keajaiban yang konon diberikan Allah kepada para wali? Muhammadiyah tidak menolak kemungkinan karamah, tetapi menempatkannya dalam kerangka qudrah Allah, bukan kekuatan manusia.
Artinya, jika pun ada keajaiban, itu bukan karena wali itu memiliki kekuatan khusus, melainkan karena Allah berkehendak demikian.
Namun, Muhammadiyah menolak menjadikan karamah sebagai tolok ukur kesalehan atau kebenaran seseorang. Sebab, dalam sejarah, banyak orang yang tampak “ajaib” justru menyesatkan umat, sementara banyak orang saleh bekerja dalam diam tanpa sensasi.
Karamah sejati, kata Muhammadiyah, adalah kemampuan menegakkan amar makruf nahi mungkar di tengah zaman yang rusak. Itulah “karamah sosial”—keajaiban moral yang bisa diukur dan ditiru, bukan hanya diceritakan.
Dalam pandangan ini, seorang guru yang sabar mendidik anak-anak miskin agar cerdas dan berakhlak mulia lebih karomatik daripada seseorang yang bisa berjalan di atas air. Karena yang pertama melahirkan peradaban, sedangkan yang kedua hanya melahirkan kagum sesaat.
Kritik terhadap “Orang Suci”
Sikap kritis Muhammadiyah terhadap konsep “orang suci” sebenarnya adalah kritik terhadap feodalisme spiritual yang sering tumbuh di masyarakat. Kultus individu dalam bentuk “pengultusan wali” sering kali menjauhkan umat dari rasionalitas dan tanggung jawab personal.
Umat menjadi pasif, berharap berkah dari sosok tertentu, bukan bekerja keras memperbaiki diri dan masyarakat. Dalam bahasa K.H. Ahmad Dahlan, itu sama dengan menyembah manusia dengan cara halus.
Dengan membebaskan umat dari mitos kesucian personal, Muhammadiyah ingin menegakkan kesetaraan spiritual: bahwa setiap Muslim punya peluang yang sama untuk menjadi dekat dengan Allah sejauh ia beriman dan bertakwa. Tidak ada kasta rohani dalam Islam. Tidak ada “kelas wali” yang lebih dekat dengan surga hanya karena garis keturunan atau kesaktian.
Di sinilah letak radikalisme tauhid Muhammadiyah. Tauhid bukan sekadar mengakui keesaan Tuhan, tetapi juga meniadakan segala bentuk perantara antara manusia dan Allah yang bisa menggantikan fungsi iman dan amal saleh.
Wali dalam Dunia Modern
Menariknya, dalam konteks modern, pemikiran Muhammadiyah ini terasa semakin relevan. Dunia yang diguncang pseudo-spiritualitas—dari kultus selebritas hingga influencer rohani—membutuhkan bentuk kesalehan yang rasional, aktif, dan berorientasi sosial.
Muhammadiyah menawarkan itu. Wali di zaman ini bukan yang bisa menembus ruang dan waktu, melainkan yang bisa menembus batas kebodohan dan kemiskinan umat.
Jika di masa lalu karamah berarti bisa berjalan di atas air, maka karamah zaman ini adalah bisa membangun jembatan pengetahuan. Jika dulu karamah berarti tahu hal gaib, maka kini karamah adalah mampu membaca tanda-tanda zaman.
Karamah baru adalah kemampuan memadukan iman dengan ilmu, spiritualitas dengan teknologi, dan dakwah dengan kerja nyata.
Kewalian yang Membumi
Muhammadiyah tidak kehilangan wali—ia hanya tidak menampilkannya sebagai mitos. Para wali Muhammadiyah berjalan di bumi, berpakaian biasa, bekerja di sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga sosial.
Mereka tidak mencari pujian, tidak mencipta keajaiban, tetapi menghadirkan maslahat. Mereka mungkin tidak “keramat”, tetapi hidupnya membawa keberkahan bagi banyak orang.
Mungkin inilah rahasia terbesar kewalian Muhammadiyah: ia tidak tampak, tapi terasa. Tidak sakral dalam simbol, tapi suci dalam tindakan. Tidak bicara tentang karamah, tapi menciptakan keajaiban sosial. Dan bukankah itu bentuk tertinggi dari karamah itu sendiri?
Sumber : https://tagar.co/
Komentar
Posting Komentar