Pergerakan dan pemikiran politik Amien Rais
Pergerakan dan pemikiran politik Amien Rais
Pergerakan dan pemikiran politik Amien Rais di masa-masa awal reformasi memang banyak diilhami oleh pemikiran progresif dari Dr. Ali Shariati, seorang sosiolog dan pemikir besar Syiah dari Iran. Keterkaitan ini dibuktikan secara nyata ketika Amien Rais menerjemahkan salah satu karya penting Shariati, Man and Islam, ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Tugas Cendekiawan Muslim" pada tahun 1982.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai pengaruh buku tersebut terhadap pemikiran politik Amien Rais:
• Sikap Menolak Status Quo: Buku karya Dr. Ali Shariati ini dikenal memiliki karakter yang "menggerakkan". Shariati mengkritik keras kemandekan berpikir (kejumudan) dan Islam yang terlembaga secara tradisional. Pemikiran revolusioner ini diadopsi oleh Amien Rais untuk menyuarakan gerakan reformasi dan mengkritik ketidakadilan penguasa di Indonesia.
• Peran Intelektual di Tengah Rakyat: Konsep utama dari buku ini menegaskan bahwa intelektual Muslim tidak boleh berdiam diri di "menara gading". Mereka harus turun langsung ke tengah masyarakat untuk mengedukasi dan berjuang bersama rakyat. Prinsip ini tecermin dalam langkah politik Amien Rais yang aktif memimpin gerakan moral masyarakat sipil.
• Lahirnya Gagasan "Tauhid Sosial": Inspirasi dari gagasan keadilan sosial Shariati memicu Amien Rais untuk merumuskan konsep politiknya sendiri yang terkenal di Indonesia, yaitu Tauhid Sosial. Konsep ini menekankan bahwa keimanan kepada Tuhan harus diwujudkan secara nyata dalam bentuk perjuangan melawan ketimpangan ekonomi dan kesewenang-wenangan politik.
• Melampaui Sekat Mazhab: Meskipun Amien Rais adalah tokoh tulen dari Muhammadiyah (organisasi Islam Sunni besar di Indonesia), ia secara terbuka mengagumi pemikiran Shariati yang berlatar belakang Syiah. Amien Rais memandang perbedaan Sunni-Syiah sebagai warisan sejarah masa lalu yang tidak boleh menghalangi umat Islam untuk mengambil pelajaran dari pemikiran progresif demi kemajuan bersama.
Kritik Keras Amien Rais terhadap MBS
Amien Rais menuai sorotan tajam dan kritik dari berbagai pihak setelah melontarkan pernyataan yang sangat keras terhadap Mohammed bin Salman (MBS).
• Kontroversi: Amien Rais menyebut MBS dengan julukan yang kasar, seperti "Abu Jahal abad ini" atau "iblis". Ia mendasarkan kritiknya pada laporan hak asasi manusia (termasuk dari Amnesty International) terkait tindakan represif otoritas Saudi, serta kebijakan geopolitik Yaman.
• Tanggapan Publik: Pernyataan ini dinilai oleh sebagian kalangan (seperti komunitas pendukung Arab Saudi di Indonesia) sebagai bentuk fitnah atau penghinaan yang tidak beradab terhadap seorang pemimpin negara Muslim. Pengkritik Amien mengingatkan agar tokoh politik menjaga adab berbicara dan tidak membawa emosi personal secara berlebihan di ruang publik.
Referensi :
Berikut adalah poin-poin penting mengenai pengaruh buku tersebut terhadap pemikiran politik Amien Rais:
• Sikap Menolak Status Quo: Buku karya Dr. Ali Shariati ini dikenal memiliki karakter yang "menggerakkan". Shariati mengkritik keras kemandekan berpikir (kejumudan) dan Islam yang terlembaga secara tradisional. Pemikiran revolusioner ini diadopsi oleh Amien Rais untuk menyuarakan gerakan reformasi dan mengkritik ketidakadilan penguasa di Indonesia.
• Peran Intelektual di Tengah Rakyat: Konsep utama dari buku ini menegaskan bahwa intelektual Muslim tidak boleh berdiam diri di "menara gading". Mereka harus turun langsung ke tengah masyarakat untuk mengedukasi dan berjuang bersama rakyat. Prinsip ini tecermin dalam langkah politik Amien Rais yang aktif memimpin gerakan moral masyarakat sipil.
• Lahirnya Gagasan "Tauhid Sosial": Inspirasi dari gagasan keadilan sosial Shariati memicu Amien Rais untuk merumuskan konsep politiknya sendiri yang terkenal di Indonesia, yaitu Tauhid Sosial. Konsep ini menekankan bahwa keimanan kepada Tuhan harus diwujudkan secara nyata dalam bentuk perjuangan melawan ketimpangan ekonomi dan kesewenang-wenangan politik.
• Melampaui Sekat Mazhab: Meskipun Amien Rais adalah tokoh tulen dari Muhammadiyah (organisasi Islam Sunni besar di Indonesia), ia secara terbuka mengagumi pemikiran Shariati yang berlatar belakang Syiah. Amien Rais memandang perbedaan Sunni-Syiah sebagai warisan sejarah masa lalu yang tidak boleh menghalangi umat Islam untuk mengambil pelajaran dari pemikiran progresif demi kemajuan bersama.
Kritik Keras Amien Rais terhadap MBS
Amien Rais menuai sorotan tajam dan kritik dari berbagai pihak setelah melontarkan pernyataan yang sangat keras terhadap Mohammed bin Salman (MBS).
• Kontroversi: Amien Rais menyebut MBS dengan julukan yang kasar, seperti "Abu Jahal abad ini" atau "iblis". Ia mendasarkan kritiknya pada laporan hak asasi manusia (termasuk dari Amnesty International) terkait tindakan represif otoritas Saudi, serta kebijakan geopolitik Yaman.
• Tanggapan Publik: Pernyataan ini dinilai oleh sebagian kalangan (seperti komunitas pendukung Arab Saudi di Indonesia) sebagai bentuk fitnah atau penghinaan yang tidak beradab terhadap seorang pemimpin negara Muslim. Pengkritik Amien mengingatkan agar tokoh politik menjaga adab berbicara dan tidak membawa emosi personal secara berlebihan di ruang publik.
Referensi :
---o0o---
Menyamakan seorang Muslim dengan orang kafir (seperti Abu Lahab) pada hakikatnya sama dengan mengafirkan Muslim tersebut (melakukan takfir).
Dalam hukum Islam (fikih dan akidah), tindakan ini memiliki konsekuensi yang sangat berat.
Berikut adalah penjelasan mengenai kedudukan hukum menyamakan seorang Muslim dengan orang kafir dalam Islam:
1. Bahaya Menuduh Muslim Lain Kafir (Takfir)
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras kepada umatnya agar tidak sembarangan menuduh sesama Muslim sebagai kafir. Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda:
"Jika seseorang berkata kepada saudaranya (yang Muslim), 'Wahai kafir', maka tuduhan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, jika tuduhan itu tidak benar, maka status kafir tersebut justru berisiko kembali kepada orang yang melontarkan tuduhan.
2. Konsekuensi Hukum Fikih dan Akidah
Secara hukum Islam, seseorang dianggap sebagai Muslim selama dia masih mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak melakukan pembatal keislaman yang disepakati secara mutlak setelah ditegakkannya hujah (iqamatul hujah).
Menyamakan seorang Muslim dengan Abu Lahab—yang secara tegas dinyatakan dalam Al-Qur'an (Surah Al-Lahab) sebagai ahli neraka dan kafir—berarti menyamakan keimanan orang tersebut dengan kekafiran mutlak. Tindakan ini termasuk dosa besar dan bentuk kezaliman lisan (lisanul hal).
3. Ketentuan dalam Vonis Kafir
Para ulama menyepakati bahwa otoritas untuk menetapkan seseorang keluar dari Islam (murtad atau kafir) bukanlah hak individu masyarakat awam. Hal tersebut adalah wewenang para ulama otoritatif dan pengadilan syariah setelah melalui proses pembuktian yang ketat, klarifikasi (tabayyun), dan penghapusan segala syubhat (keraguan).
Oleh karena itu, menyamakan sesama Muslim dengan tokoh-tokhof kafir seperti Abu Lahab, Abu Jahal, atau Firaun hanya karena perbedaan pendapat, politik, atau kebencian personal adalah tindakan yang dilarang keras dalam agama Islam.
Referensi :
Dalam hukum Islam (fikih dan akidah), tindakan ini memiliki konsekuensi yang sangat berat.
Berikut adalah penjelasan mengenai kedudukan hukum menyamakan seorang Muslim dengan orang kafir dalam Islam:
1. Bahaya Menuduh Muslim Lain Kafir (Takfir)
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras kepada umatnya agar tidak sembarangan menuduh sesama Muslim sebagai kafir. Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda:
"Jika seseorang berkata kepada saudaranya (yang Muslim), 'Wahai kafir', maka tuduhan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, jika tuduhan itu tidak benar, maka status kafir tersebut justru berisiko kembali kepada orang yang melontarkan tuduhan.
2. Konsekuensi Hukum Fikih dan Akidah
Secara hukum Islam, seseorang dianggap sebagai Muslim selama dia masih mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak melakukan pembatal keislaman yang disepakati secara mutlak setelah ditegakkannya hujah (iqamatul hujah).
Menyamakan seorang Muslim dengan Abu Lahab—yang secara tegas dinyatakan dalam Al-Qur'an (Surah Al-Lahab) sebagai ahli neraka dan kafir—berarti menyamakan keimanan orang tersebut dengan kekafiran mutlak. Tindakan ini termasuk dosa besar dan bentuk kezaliman lisan (lisanul hal).
3. Ketentuan dalam Vonis Kafir
Para ulama menyepakati bahwa otoritas untuk menetapkan seseorang keluar dari Islam (murtad atau kafir) bukanlah hak individu masyarakat awam. Hal tersebut adalah wewenang para ulama otoritatif dan pengadilan syariah setelah melalui proses pembuktian yang ketat, klarifikasi (tabayyun), dan penghapusan segala syubhat (keraguan).
Oleh karena itu, menyamakan sesama Muslim dengan tokoh-tokhof kafir seperti Abu Lahab, Abu Jahal, atau Firaun hanya karena perbedaan pendapat, politik, atau kebencian personal adalah tindakan yang dilarang keras dalam agama Islam.
Referensi :
---o0o---
Amin Rais Tidak Meminta Maaf Kepada yang Dia Gelari Laqob Abu Jahal Abad 21
Dalam salah satu video yang diunggah di chanel Youtube Amien Rais Official yang tayang pada Selasa 20 Oktober 2026, Amin Rais menyebut Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Muhammad Bin Salman (MBS) sebagai Abu Jahal Abad 21 yang tangannya berlumuran darah umat Islam sejak berkuasa
Hanya berselang satu hari berikutnya, channel yang sama mengunggah video “PERMOHONAN MAAF TERKAIT VIDEO “ABU JAHAL ABAD 21.” Meskipun video permintaan maaf tersebut, tidak meminta maaf langsung kepada yang dia tuding sebagai Abu Jahal Abad 21, tetapi karena kegaduhan yang muncul, bahkan dia anggap bagus, hanya karena berdampak negatif. Di menit ke-35, Amin sempat menyampaikan maaf kepada “teman-teman para Syaikh dan pimpinan Kerajaan Arab Saudi.”
Dalam salah satu video yang diunggah di chanel Youtube Amien Rais Official yang tayang pada Selasa 20 Oktober 2026, Amin Rais menyebut Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Muhammad Bin Salman (MBS) sebagai Abu Jahal Abad 21 yang tangannya berlumuran darah umat Islam sejak berkuasa
Hanya berselang satu hari berikutnya, channel yang sama mengunggah video “PERMOHONAN MAAF TERKAIT VIDEO “ABU JAHAL ABAD 21.” Meskipun video permintaan maaf tersebut, tidak meminta maaf langsung kepada yang dia tuding sebagai Abu Jahal Abad 21, tetapi karena kegaduhan yang muncul, bahkan dia anggap bagus, hanya karena berdampak negatif. Di menit ke-35, Amin sempat menyampaikan maaf kepada “teman-teman para Syaikh dan pimpinan Kerajaan Arab Saudi.”
Mengapa Menuduh Sesama Muslim Dengan Abu Jahal?
Muhammad bin Salman yang biasa disingkat dengan MBS, menjadi fenomenal ketika menggantikan pamannya, Muhammad bin Nayef (MBN), menjadi Waliyul Ahd, Putra Mahkota yang kelak menggantikan raja. Sejak itupula, MBS dituding menkudeta MBN, bahkan disebarluaskan kabar dusta menangkapnya.
Tudingan tersebut terangkum di video ini “Membungkam Hoax Menyerang MBS” dan Bongkar Hoax MBS Tangkap MBN. Sebagai pembelaan, Pangeran Sattam bin Khalid Al Saud merangkumnya dalam sebuah kalimat:
“Perang media dan hoax masih terus berlanjut ditujukan kepada Putra Mahkota, hafidzahullahu. Kedustaan dimulai dari pembeliah yacht, lukisan dan kini dikabarkan membeli Istana Louis 14 di Perancis. Semua itu dusta, sengaja disebarluaskan oleh media karena dibayar. Tulisan penuh kedengkian, tidak lebih dari hoax dan kebohongan yang terus-menerus diakukan yang tidak akan mengubah apapun.
Dan kebohongan serta pemberitaan palsu mereka terus dilancarkan untuk tujuan ‘pembodohan dan menarget orang-orang tidak berpikir dan mencari kebenaran iformasi yang diterimanya.’ Mereka merupakan harta simpanan bagi penyebar berita hoax, dan selalu berusaha menanamkan kedustaan di akal mereka. Yang sangat disayangkan mereka ada di sekitar kita di negeri Arab, mereka itulah yang melayani musuh. Benarlah kata pepatah: ‘Sesungguhnya orang jahil adalah musuh agama dan bangsanya.”
Bisa jadi informasi dan kabar yang sampai ke Amin Rais berasal dari sumber yang salah dan menyesatkan, sehingga Amin yang semestinya di usia senjanya, menjadi “guru bangsa” dengan pesan-pesan santun dan beradab, lisannya tidak ringan memberi laqob kepada sesama muslim dengan sangat buruk dan keji. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk).” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11)
Amin Rais Menyebut MBS Sebagai Putra Mahkota yang Paling Jahat
Alasan Amin Rais menyebut MBS sebagai yang paling jahat, sebagaimana yang dia katakan: “Muhammad bin Salman yang secara populer disebut sebagai MBS ini putra mahkota Saudi yang paling jahat di antara sesama raja Saudi. nah MBS ini saya berani sebut sebagai Abu Jahal abad 21. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda keislaman dan keimanan dalam perilakunya. Menurut Amnesty Internasional, manusiabengis bernama MBS inimenginjak-injak hak asasi manusia secara ekstrem, yang sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang pangeran dari Mamlakah As-Sudiyah yang menaungi Makkah dan Madinah.”
Benarkah apa yang dikatakan Amin Rais tersebut? Fakta berikut ini membantah telak apa yang dia tuduhkan kepada pemimpin yang dicintai rakyat Saudi, bahkan Pangeran Muhammad bin Salman Paling Populer di Antara Para Pemimpin Dunia (Baca di Sini):
• Di Sudan, dia memerangi milisi RSF yang melakukan genosida.
• Di Yaman, dia mendukung pemerintah Yaman melawan milisi pemberontak Houtsi —kelompok yang dikenal gemar mengunyah daun khat.
• Di Suriah, dia menginvestasikan miliaran dana untuk rekonstruksi negara tersebut dan menjadi pendukung utama visi untuk mengubah Suriah menjadi pusat perdagangan dan konektivitas yang penting.
• Di Lebanon, dia merupakan pendukung utama pemerintah Lebanon, baik secara ekonomi maupun diplomatik.
• Di Palestina, dia berperan mengamankan dukungan Trump untuk rencana perdamaian Gaza serta berencana menginvestasikan miliaran dana untuk rekonstruksi Gaza dan pembentukan negara Palestina.
• Dia berhasil melobi Prancis, Inggris, Portugal, Luksemburg, Malta, Andorra, Monako, dan San Marino untuk mengakui kedaulatan Palestina, sementara Belgia juga telah berkomitmen untuk memberikan pengakuan serupa.
• Di Pakistan, dia berulang kali turun tangan memberikan bantuan keuangan bernilai miliaran untuk mencegah keruntuhan ekonomi.
• Di Somalia, dia mendukung persatuan negara tersebut dan berupaya menghalangi pengakuan terhadap wilayah yang memisahkan diri, seperti Somaliland.
• Dan di Arab Saudi sendiri, dia telah mengembangkan dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) dari $150 miliar menjadi $1 triliun serta melipatgandakan PDB negara tersebut sejak dia memegang kekuasaan.
Semua ini dilakukannya sembari menghadapi ekspansionisme Iran dan Israel di kawasan tersebut, serta di tengah tuduhan bahwa dia adalah seorang pengkhianat dan penjual kepentingan bangsa.
Jadi, sebaiknya Amin Rais mendatangkan bukti, bukan sekedar mengutip “menurut Amnesty Internasional,” yang juga dia hanya mendengarnya saja tanpa menvalidasi kebenarannya.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya setiap manusia dipenuhi tuntutannya, niscaya orang-orang akan menuntut harta dan darah suatu kaum. Namun, penuntut wajib datangkan bukti dan yang mengingkari dituntut bersumpah.” (HR Bukhari, no. 4552 dan Muslim, no. 1711).
Kritik Terhadap Amin Rais di laman FB Syarah Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah
KRITIK KERAS TERHADAP AMIEN RAIS: PANTASKAH MBS DISEBUT IBLIS DEMI MEMBELA HOUTHI?
Sungguh sangat memprihatinkan dan tidak pantas sama sekali ketika Amien Rais melontarkan sebutan “iblis” kepada Muhammad bin Salman, pemimpin Arab Saudi — negara yang menaungi Makkah dan Madinah, kiblat dan harapan seluruh umat Islam di dunia. Menyebut pemimpin negara penanggung jawab dua kota suci dengan sebutan yang begitu keji adalah penghinaan yang luar biasa berat, bukan sekadar perbedaan pendapat politik. Ini melukai hati ratusan juta umat Islam yang menghormati tanah suci dan menjaga kehormatannya.
Di saat yang sama, pembelaan membabi buta terhadap Houthi tanpa menimbang rekam jejak, ideologi, serta berbagai tuduhan yang melekat pada kelompok tersebut — termasuk penghinaan terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha dan ketidakberpihakan pada keutamaan persatuan umat — adalah sikap yang sangat menyimpang dan tidak bijaksana. Menjadikan kelompok tersebut seolah pahlawan kebenaran sambil melemparkan tuduhan iblis kepada pemimpin negara yang menjaga Ka’bah dan Masjid Nabawi adalah pembalikan nilai yang sangat berbahaya.
Amien Rais harus sadar: pandangan pribadi yang keras dan berlebihan ini tidak mewakili Muhammadiyah, tidak pula mencerminkan akhlak seorang pemimpin umat. Mengkritik boleh, tetapi menghina dengan sebutan yang melampaui batas sambil membelakan kelompok yang penuh kontroversi menunjukkan ketidakadilan yang nyata. Jangan sampai karena sikap berlebihan ini, kehormatan dua kota suci terabaikan demi kepentingan atau simpati sepihak. Semoga Allah membukakan pintu hati dan kejernihan berpikir, agar kita tidak tergelincir menjadi penghina atas sesama umat Islam, apalagi terhadap pihak yang memegang amanah tanah suci. Semoga disadarkan dari sikap yang keliru ini segera.
Mengkritik adalah hak, tetapi Islam mengajarkan adab berbicara dengan hikmah dan keadilan. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Menyebut seseorang dengan sebutan kasar, apalagi pemimpin yang menanggung amanah tanah suci, bukanlah cara berkeimanan. Membela satu pihak tidak boleh diiringi penghinaan terhadap pihak lain. Keadilan menuntut kita melihat fakta secara utuh, tidak berat sebelah, dan tidak terbawa emosi. Pandangan pribadi tidak mewakili organisasi maupun umat. Semoga Allah membimbing kita semua agar senantiasa berbicara dengan kebenaran yang diridhai-Nya, menjaga persatuan, dan tidak melontarkan kata-kata yang melukai hati sesama umat Islam.
Sumber : https://saudinesia.id/


Komentar
Posting Komentar