Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa`
Tanggapan dari artikel
Baca tanggapannya sbb :
---oOo---
Menyoal Konsekuensi Penerjemahan Istiwa'
Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :
Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan istilah terjemah sebagai berikut :
Secara bahasa, at-tarjamah diperuntukkan untuk beberapa makna, yang semuanya kembali kepada “penjelasan dan penerangan”.
Adapun secara istilah adalah
التعبيرعن الكلام بلغة أخرى
“Mengungkapkan suatu ucapan/materi teks (dari bahsa sumber) dengan bahasa lain (bahasa sasaran yang setara)”.
Adapun dalam KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia) “terjemah” didefinisikan sebagai berikut :
Terjemah /ter·je·mah/ v, menerjemahkan /me·ner·je·mah·kan/ v menyalin (memindahkan) suatu bahasa ke bahasa lain; mengalihbahasakan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inti penerjemahan terdapat pada penggantian materi bahasa , baik materi bahasa yang berupa kata, frasa, klausa, kalimat maupun makna dalam teks bahasa sumber dengan materi yang setara dalam bahasa sasaran,karena maksudnya adalah mengungkapkan (ta’biir) makna bahasa sumber.
Dengan demikian, setidaknya perkara yang dibutuhkan dalam aktifitas menerjemah ada dua,yaitu :
- Memahami makna suatu kata dalam bahasa sumber.
- Mencari padanan kata tersebut dalam bahasa sasaran (mencari kata yang setara).
Oleh karena itu, dibawah ini akan kami bawakan
penjelasan singkat tentang :
- Fenomena terjemahan “ استوى على ” .
- Makna “ استوى على ” dalam bahasa sumber (bahasa Arab).
- Makna “bersemayam” dalam bahasa sasaran (bahasa Indonesia).
- Penerjemahan “استوى على العرش ” yang benar
- Konsekwensi jika “استوى على العرش ” diterjemahkan dengan “bersemayam di atas ‘Arsy”
- Kesimpulan.
1. Fenomena terjemahan “ استوى على ”
Apabila kita perhatikan kenyataan yang banyak terdapat di buku-buku terjemah Al-Qur`an, maka kita dapatkan kalimat “istawa ‘alal ‘Arsy” atau yang semisal itu , banyak diterjemahkan dengan : “bersemayam di atas ‘Arsy”.
Contohnya, terjemahan Surat Thaa haa : 5 ,yaitu :
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
Contoh terjemah pertama:
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
Contoh terjemah kedua :
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
Contoh terjemah ketiga :
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
2. Makna “ استوى على ” dalam bahasa Arab
Lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) secara bahasa Arab tidak mungkin dipahami kecuali bermakna عَلاَ artinya: “ tinggi di atas ”,
oleh karena itu dalam tafsiran Salafush Sholeh terhadap lafadz ini, tidaklah keluar dari 4 makna :
- عَلاَ (tinggi di atas)
- ارْتَفَعَ (tinggi di atas)
- صَعِدَ (tinggi di atas)
- استقرّ ,yaitu tetap (tidak beralih dari keadaannya)
Dan cara memaknai yang tepat adalah dengan membawakan kepada gabungan empat makna tersebut di atas, terkait dengan hal ini, Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata dalam Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah :
كل هذه تجتمع في معنى الاستواء ليست تفسر الواحدة بالواحدة ، هو علا جل وعلا وارتفع وصعد واستقر ، كلها صحيحة ، جميعا توضح المعنى المراد
“Seluruh tafsiran Istiwa` ini, bukanlah berarti satu persatu menafsirkannya sendiri-sendiri secara terpisah ,akan tetapi (yang tepat dikatakan bahwa) Allah Jalla wa ‘Ala :
‘ala (tinggi di atas), irtafa’a (tinggi di atas), sha’ida (tinggi di atas) dan istaqarra (tetap tinggi di atas), semua makna ini benar, dan semuanya menjelaskan makna istiwa` “.
Dengan demikian, jika digabungkan seluruh makna tadi, maka tafsir bahwa Allah “استوى على العرش ” adalah Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.
Catatan penting :
1. Dalam kamus bahasa Arab, makna ارتفع dan صَعِدَ – pada sebagian makna-maknanya- kedua kata tersebut bisa bermakna علا , sehingga jika kedua kata tersebut diterjemahkan, maka menjadi : tinggi di atas.
Oleh karena itu, seorang pakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah, dalam kitab terkenalnya : Maqayisul Lughah, mengatakan :
( صعد ) الصاد والعين والدال أصل صحيح يدل على ارتفاع ومشقة
“Sha’ida (shad,’ain, dal) adalah kata asal shahih, yang menunjukkan makna tinggi di atas dan kesulitan (kondisi berat).”
Dalam kitab kamus Lisanul ‘Arab, Ibnu mandzur rahimahullah mengartikan kata “irtafa’a” dengan tinggi di atas :
ويقال : ارتفع الشيء ارتفاعا بنفسه إذا علا
“Disebutkan (suatu contoh dalam bahasa Arab): “Sesuatu itu irtafa’a dengan sendirinya”, maknanya jika sesuatu tersebut tinggi berada di atas”
Hal ini sesuai dengan penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarh Aqidah Wasithiyyah, bahwa ‘ala, irtafa’a, dan sha’ida, ketiga-tiganya bermakna sama, yaitu : “tinggi di atas”, beliau berkata:
وأهل السنة والجماعة يؤمنون بأن الله تعالى مستو على عرشه استواء يليق بجلاله ولا يماثل استواء المخلوقين.
فإن سألت: ما معنى الاستواء عندهم؟ فمعناه العلو والاستقرار.
وقد ورد عن السلف في تفسيره أربعة معاني: الأول: علا، والثاني: ارتفع، والثالث: صعد. والرابع: استقر.
لكن (علا) و: (ارتفع) و: (صعد) معناها واحد، وأما (استقر)، فهو يختلف عنها
“Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa Allah Ta’ala di atas ‘arsy-Nya (al-istiwa’), dan istiwa’-Nya sesuai dengan Kemahaagungan-Nya, tidak bisa disamakan dengan istiwa’nya makhluk.
Jika anda ditanya: “Apa makna istiwa’ menurut Ahlus Sunnah wal Jaama’ah?”, maka maknanya adalah tinggi di atas dan tetap tinggi di atas (‘arsy).
Dan terdapat penjelasan dari para Salafush Sholeh tentang tafsir istiwa’, yaitu ada empat makna: عَلاَ (tinggi di atas), ارْتَفَعَ (tinggi di atas), صَعِدَ (tinggi di atas), استقر (tetap di atas).
Akan tetapi ‘ala, irtafa’a, sha’ida, maknanya satu (sama), adapun istaqarra maknanya berbeda dengan yang lainnya (makna konsekuensi -pent.).”
2. Ketika seurang ulama Salaf menafsirkan istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dengan salah satu dari empat makna di atas, bukan berarti menafikan/menolak makna yang lain yang tidak mereka sebutkan diantara keempat makna tersebut.
Dan yang tepat dalam memahami makna dari istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah membawakannya kepada keseluruhan dari empat makna tersebut (makna gabungan).
Berikut ini beberapa nukilan dari para imam Salafush Sholeh tentang tafsir yang masyhur dari lafadz istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dan makna bahasa dari Ahli bahasa Arab :
Tafsir yang masyhur dari para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang makna istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى)
a. Pakar tafsir di kalangan Tabi’in, Imam Mujahid (wafat tahun 102 H) rahimahullah berkata:
استوى: علا على العرش
“{اسْتَوَى} (yaitu) : tinggi di atas ‘Arsy“.
b. Bisyr bin ‘Amr Az-Zahrani berkata (wafat tahun 207 H) menuturkan:
سمعت غير واحد من المفسرين يقول :{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}: ارتفع
“Saya mendengar tidak hanya satu orang dari kalangan Ahli Tafsir menafsirkan :
{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}, (yaitu ) : “tinggi di atas”.
c. Imam Ahli Tafsir yang wafat tahun 310 H,Ibnu Jariir Ath-Thabari rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala :{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}, berkata :
الرحمن على عرشه ارتفع وعلا
“Ar-Rahman tinggi di atas ‘Arsy”.
d. Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata :
﴿اسْتَوَى﴾ هذه فسرها السلف بعدة تفسيرات قالوا:
﴿اسْتَوَى﴾ علا ، ﴿اسْتَوَى﴾ استقر ، ﴿اسْتَوَى﴾ ارتفع ، ﴿اسْتَوَى﴾ صعد
“(Istawa) ,ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan beberapa tafsiran, mereka berkata :
Istawa bermakna : tinggi di atas (‘alaa) , istawa bermakna : tetap tinggi di atas (istaqarra), istawa bermakna: irtafa’a (tinggi di atas), Istawa bermakna : sha’ida (tinggi di atas)”.
3. Tafsir Ahli Bahasa Arab
Berkata pakar bahasa Arab, Abul ‘Abbas Tsa’lab (wafat tahun 291 H) :
استوى على العرش: علا
{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}, (yaitu ) : “ tinggi di atas”.
Penukilan tafsir etimologi dari para ulama
• Imam Ibnul Qayyim dan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahumallahu telah menukilkan bahwa :
والاستواء في اللغة معلوم مفهوم وهو العلو والارتفاع على الشيء والاستقرار
“Istiwa` dalam bahasa Arab maknanya sudah jelas dan bisa dipahami,yaitu : tinggi di atas sesuatu serta tetap tinggi di atas (tidak beralih dari keadaanya)”.
Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata :
{ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} هذه فسرها السلف بـ ( علا وارتفع وصعد واستقر ) وهذه كلها من التفسيرات اللغوية
“{ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ}, ayat ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan : ‘ala (tinggi di atas),irtafa’a (tinggi di atas), sha’ida (tinggi di atas) dan istaqarra (tetap tinggi di atas), semua tafsiran ini merupakan makna bahasa (juga)”.
Khusus makna استقرّ, Syaikhul Islam rahimahullah menukilkan dari sebagian Salafush Shalih :
وقال عبد الله بن المبارك ومن تابعه من أهل العلم وهم كثير أن معنى استوى على العرش استقر وهو قول القتيبي
“Berkata Abdullah ibnul Mubarak dan Ulama yang mengikuti beliau (dan jumlah mereka banyak), bahwa: makna “istawa ‘alal ‘Arsy” bermakna tetap tinggi di atas ‘Arsy (tidak beralih dari keadaannya), dan ini perkataan Al-Qutaibi”.
Catatan:
Kata kerja “استوى” jika bersambung dengan “على“, maka tidak boleh dipalingkan dari makna “tinggi di atas”, sedangkan seluruh makna-makna lainnya dari makna “استوى” yang disebutkan oleh para ahli bahasa Arab itu adalah jika “استوى” tidak bersambung dengan “على“, atau “استوى” bersambung dengan selain “على“.
Adapun kesimpulan yang bisa kita tarik dari penjelasan di atas tentang makna “ استوى على ” ,in sya Allah akan dilanjutkan pada bagian yang ke -4 dari artikel : Menyoal konsekuensi penerjemahan Istiwa`. Semoga bermanfa’at luas.
4. Makna “bersemayam” dalam bahasa Indonesia.
Dalam KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia) kata tersebut diartikan :
semayam /se·ma·yam/, bersemayam /ber·se·ma·yam/ v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal:Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yang – dl hati;
menyemayamkan /me·nye·ma·yam·kan/ v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka;
persemayaman /per·se·ma·yam·an/ n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.
Dengan demikian, makna “bersemayam” -menurut KBBI- kembali kepada lima makna :
- Duduk.
- Tinggal
- Tersimpan
- Menginap
- Berbaring
Penerjemahan “استوى على العرش ” yang benar
Dari penjelasan tentang makna “ استوى على ” dalam bahasa sumber (bahasa Arab) di artikel yang sebelumnya, dapat diambil ringkasan, bahwa :
Makna istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah gabungan dari empat makna tersebut di atas,yaitu:
- صَعِدَ (tinggi di atas)
- عَلاَ (tinggi di atas)
- ارْتَفَعَ (tinggi di atas)
- استقرّ (tetap tinggi di atas)
Sehingga tafsir bahwa Allah “استوى على العرش ” adalah Allah tinggi di atas ‘Arsy dan tetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.
Dengan demikian terjemahan yang tepat dari kalimat istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) adalah “tinggi di atas” atau cukup diterjemahkan “di atas”, karena kata-kata “di atas” telah menunjukkan makna tinggi, sedangkan disini, makna istaqarra (tetap tinggi di atas) tidak dimasukkan dalam terjemahan, karena itu adalah makna/tafsir konsekuensi.
Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata dalam Syarhul Aqidah Al-Wasithiyyah tentang makna/tafsir konsekuensi dari istawa :
﴿اسْتَوَى﴾ هذه فسرها السلف بعدة تفسيرات قالوا:
﴿اسْتَوَى﴾ علا ، ﴿اسْتَوَى﴾ استقر ، ﴿اسْتَوَى﴾ ارتفع ، ﴿اسْتَوَى﴾ صعد.
علا ، ارتفع ، استقر ، صعد ، هذه التفاسير المنقولة عن السلف.
“ {اسْتَوَى}, ayat ini ditafsirkan oleh Salafush Shalih dengan beberapa tafsiran, mereka menafsirkan:
{اسْتَوَى} berarti ‘ala (tinggi di atas),{اسْتَوَى} berarti istaqarra (tetap tinggi di atas), {اسْتَوَى} berarti irtafa’a (tinggi di atas), dan{اسْتَوَى} berarti sha’ida (tinggi di atas).
‘Ala, irtafa’a , istaqarra, dan sha’ida, semua tafsiran ini dinukilkan dari Salafush Shalih”.
{اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ} فسر باستقر …
هو لازمها كما ذكرت ، تفسير باللازم ، يعني علا وارتفع ولم يزل على استوائه استقر على هذه الصفة ، استقر على العرش ، يعني هو جل وعلا استوى عليه ولم يتخل من استوائه عليه
“ “Dia di atas ‘arsy” ini ditafsirkan dengan istaqarra, (Istaqarra) adalah menafsirkan (istiwa`) dengan makna konsekuensinya, sebagaimana yang telah saya sebutkan.
Tafsir dengan konsekuensi ini maksudnya : {اسْتَوَى} berarti: (Allah) itu ‘ala (tinggi di atas) dan irtafa’a (tinggi di atas), dan senantiasa istiwa’ (di atas ‘arsy), tetap bersifat dengan sifat ini, dan tetap di atas ‘arsy.
Jadi, maksudnya adalah Allah Jalla wa ‘Ala di atas ‘arsy dan Allah tidak terlepas dari sifat di atas ‘arsy.”
5. Konsekwensi jika “استوى على العرش ” diterjemahkan dengan “bersemayam di atas ‘Arsy”
Setelah kita mengetahui makna bahasa lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dalam bahasa sumber (bahasa Arab), maupun makna “semayam” dalam bahasa sasaran (bahasa Indonesia), maka dapat dipahami bahwa jika dipaksakan lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) diterjemahkan dengan “bersemayam di atas”, maka terjemah Surat Thaahaa : 5 (demikian pula ayat yang semisalnya) :
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
adalah salah satu dari terjemahan berikut ini :
- Yang Maha Pengasih duduk di atas ‘Arsy (singgasana).
- Yang Maha Pengasih tinggal di atas ‘Arsy (singgasana).
- Yang Maha Pengasih tersimpan di atas ‘Arsy (singgasana).
- Yang Maha Pengasih menginap di atas ‘Arsy (singgasana).
- Yang Maha Pengasih berbaring di atas ‘Arsy (singgasana).
Dan kelima makna tersebut tidak sesuai dengan makna lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى), baik menurut tafsir ulama Salafush Shaleh yang masyhur, maupun secara makna etimologi dalam bahasa Arab.
Seorang Muslim adalah sosok yang berhati-hati berbicara tentang Allah Ta’ala
Tentulah seorang Muslim yang bijak tidaklah berani berbicara tentang Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa ilmu, karena :
1. Allah Ta’ala telah memperingatkan :
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) berbicara tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui”. (QS. Al-A’raf:33)
2. Sesuai dengan kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Bahwa penetapan nama dan sifat Allah adalah ”Tauqifiyyah”, harus ada dasar dalilnya!Oleh karena itu dalam definisi Tauhidul Asma` wash Shifat disebutkan :
توحيد الأسماء والصفات هو:
إفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى الواردة في القرآن والسنة،
والإيمان بمعانيها وأحكامها
“Tauhid Nama dan Sifat adalah mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang termulia,yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah,dan beriman terhadap makna-makna dan hukum-hukumnya”
Dari petikan definisi di atas:
الواردة في القرآن والسنة (yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah),diambil kesimpulan :
Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah “Tauqifiyyah”,yaitu ada dasar dalilnya dari Al-Qur`an dan As-Sunnah,maka tidak boleh kita menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Maksudnya :
- Jika ada peniadaan (nafy) sifat aib dan kurang sempurna dari diri Allah dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah,kitapun ikut meniadakannya (menolaknya).
- Jika ada penetapan (itsbat) kesempurnaan/sifat mulia bagi Allah, dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah,kitapun ikut menetapkannya.
- Jika tidak ada dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah nafy dan itsbat, kitapun tidak menetapkan dan tidak pula meniadakannya,kecuali jika mengandung makna aib/kekurangan bagi Allah, maka wajib langsung ditolak.
Sebagai contoh :
Karena dalam dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah tidak terdapat peniadaan “Allah mendengar dengan dua telinga” dan tidak pula ada penetapan “Allah mendengar dengan dua telinga”,maka tidak boleh kita katakan :”Allah mendengar dengan dua telinga” dan tidak boleh pula kita katakan : “Allah mendengar tanpa dua telinga”.
Itulah prinsip “Tauqifiyyah”. (Baca : Apakah Allah mendengar dengan dua telinga?, di www.kajiantauhid.com)
6. Kesimpulan
Ustadz Anas Burhanuddin, Lc,MA, beliau mengatakan:
Penerjemahan kata istawa (اِسْتَوَى) dengan “bersemayam” perlu di tinjau ulang, karena dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa bersemayam berarti duduk, tinggal, berkediaman. Padahal arti istawa bukanlah ini, sebagaimana telah dijelaskan.
Dan berdasarkan pemaparan di atas, maka terjemahan yang tepat dari kalimat istawa ‘ala
(اِسْتَوَى عَلَى) adalah “tinggi di atas” atau cukup diterjemahkan “di atas”.
Dari pemaparan di atas, kita ambil kesimpulan bahwa terjemahan ayat Al-Qur`an berikut ini :
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
adalah :
“Yang Maha Pengasih di atas ‘Arsy (singgasana).”
(Surat Thaahaa : 5). Demikian pula terjemahan ayat-ayat yang semisalnya, maka semisal itu pula
Wallahu a’lam walhamdulillahi Rabbil ‘alamin Semoga bermanfa’at luas.
Penulis artikel : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Baca juga artikel terkait berikut :
- Tiga Model Penafsiran Alquran Menurut Ibnu Taimiyah
- Al-Qur'an NU online menterjemahkan ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ "berkuasa atas ʻArasy
- Isra’ Mi’raj adalah Bukti Bahwa Allah Ada di Langit
- Allah bersemayam di Arsy
- Tidak Meyakini Allah Di Atas ‘Arsy, Apakah Keluar Dari Islam (Kafir) ?
- Ketika Mereka Menolak Sifat ‘Uluw dan Istiwa’
- Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa
- Allah berada di mana-mana?
- Kisah: Fitrah Manusia Tidak Mungkin Mengingkari bahwa Allah Berada Di Atas Langit
- Benarkah Arsy alamat palsu?
- Mengiyakan semut pakai antena kenapa?
- Allah di Arsy, menurut Kiyai NU
- Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas Langit
- Ta’wil Terhadap Ayat Tentang Sifat Allah dan hukumnya
- CIRI AHLUL BID'AH MALING TERIAK MALING
- Shahih kah perkataan Ali. RA bahwa Allah tidak di Arsy..?
- KEYAKINAN YANG BENAR TERHADAP NAMA DAN SIFAT ALLAH
- Memahami Allah turun di sepertiga malam terakhir
- Penetapan Nama Allah Berdasarkan Hakikat, Bukan Majaz (Kiasan)
Sumber: https://muslim.or.id/
Komentar
Posting Komentar