Sejatinya Pergantian tahun adalah Pengingat bahwa Jarak antara kita dan kematian semakin dekat.

Menunggu Tahun Baru, Melupakan Kematian: Refleksi atas Waktu, Harapan, dan Kenyataan 

Banyak orang menganggap pergantian tahun sebagai simbol harapan baru, kesempatan baru, dan permulaan untuk memperbaiki hidup. Euforia countdown, pesta kembang api, hingga tradisi resolusi menjadikan momen pergantian tahun sebagai sesuatu yang spesial. Namun, di balik suasana meriah itu, ada kenyataan yang sering kita abaikan, waktu yang bergulir bukan hanya membawa peluang, tetapi juga membawa kita lebih dekat pada akhir kehidupan. Kalimat bijak “Banyak manusia menunggu detik-detik tahun baru, namun mereka lupa bahwa kuburan juga menunggunya di tahun itu” menjadi pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang kesadaran akan kefanaan. 

Dalam psikologi, fenomena ini disebut sebagai optimism bias, yaitu kecenderungan manusia meyakini bahwa hal buruk tidak akan menimpa dirinya dalam waktu dekat. Banyak orang merasa masa depan akan selalu memberi kesempatan, padahal statistik justru menunjukkan sebaliknya. Menurut data WHO tahun 2024, lebih dari 56 juta orang meninggal setiap tahunnya di seluruh dunia, angka yang konsisten dari tahun ke tahun. Artinya, setiap pergantian tahun secara matematis selalu membawa sejumlah orang menuju akhir hidupnya, tetapi kesadaran ini jarang muncul dalam benak manusia karena kita lebih fokus pada harapan daripada kenyataan. 

Selain itu, budaya modern juga sering menempatkan refleksi diri sebagai sesuatu yang musiman, hanya muncul saat tanggal 31 Desember atau momen tertentu. Padahal, menyadari kefanaan hidup sebenarnya dapat membantu seseorang memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Penelitian dari Journal of Positive Psychology menunjukkan bahwa orang yang memahami batas hidupnya cenderung lebih berhati-hati mengambil keputusan, lebih menghargai hubungan sosial, dan lebih mindful dalam menjalani hari. Dengan kata lain, kesadaran akan kematian bukan untuk menakuti, tetapi untuk menuntun hidup yang lebih berarti. 

Pada akhirnya, artikel ini mengajak setiap pembaca untuk tidak hanya menunggu tahun baru sebagai momentum perubahan. Kesadaran bahwa hidup bisa berakhir kapan saja seharusnya membuat kita lebih bijak dalam memanfaatkan waktu. Pergantian tahun adalah pengingat bahwa jatah hidup terus berkurang, bukan hanya bertambah peluang. Dengan memahami hal ini, kita bisa menjalani hidup lebih tenang, lebih tulus, dan lebih penuh rasa syukur. Tahun baru memang pantas disambut dengan harapan, tetapi kesadaran akan kematian membuat kita tidak terlena oleh euforia.

Memaknai Pergantian Tahun 

Pergantian tahun sebagai tadzkirah bahwa jatah hidup kita di dunia berkurang meskipun secara matematika usia bertambah 

Kita akan kembali melewati pergantian tahun. Peristiwa pergantian tahun ini sejatinya sebagai tadzkirah bahwa jatah hidup kita di dunia berkurang meskipun secara matematika usia bertambah. Imam Hasan Al-Basri mengingatkan, 

“Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, maka berlalu pulalah sebagian hidupmu.” 

Dengan pemaknaan seperti itu semestinya setiap pergantian tahun dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri (muhasabah) sejauhmana bekal yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian, bukan untuk berhura-hura hingga menghabiskan biaya yang tidak sedikit. 

Khalifah Umar bin Khatab pernah menyatakan, 

“Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dievaluasi. Timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang. Bersiaplah untuk menghadapi hari yang amat dahsyat. Pada hari itu segala sesuatu yang ada pada diri kalian menjadi jelas, tidak ada yang tersembunyi.” 

Rasulullah SAW bersabda, 

“Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum dievaluasi empat hal: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan.” (HR Tirmidzi). 

Terkait usia, Rasulullah SAW bersabda, 

“Sebaik-baiknya manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruknya manusia adalah yang panjang umurnya, tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi). 

Selain itu, pergantian tahun juga mengingatkan tentang hakikat waktu. Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata, 

“Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri.” 

Dengan begitu, manusia yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya berarti tidak memahami arti kehidupan. Ulama kharismatik Dr Yusuf Qaradhawi dalam bukunya Al-Waqtu fi Hayatil Muslim menjelaskan tentang tiga ciri waktu, yaitu cepat berlalu, tidak akan kembali lagi, dan sebagai harta yang paling mahal. 

Pertanyaannya, jika waktu cepat berlalu dan tidak mungkin kembali lagi, serta harta yang paling berharga, apakah pantas jika kita menyia-nyiakannya?

Sumber :

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah