Membedah Prinsip Ketaatan dalam Islam: Tidak Ada Ketaatan dalam Kemaksiatan

Video : 
Nasihat dari Syaikh Prof. Dr. Sulaiman Ar-Ruhaili -Hafizhahullah.

Membedah Prinsip Ketaatan dalam Islam: Tidak Ada Ketaatan dalam Kemaksiatan 

Dalam tradisi Islam, ketaatan kepada penguasa atau pemimpin adalah topik penting yang sering disalahpahami. 

Ulama Ahlu Sunnah di Masjidil Haram menegaskan bahwa kalangan Sunni tidak pernah mengharuskan ketaatan mutlak kepada pemimpin. Ada tuduhan bahwa salafi -yang mereka sebut sebagai madkhali, jahmiyah atau wahabi- mewajibkan ketaatan total kepada penguasa. 

Tuduhan itu hanyalah upaya sebagian pihak untuk mengaburkan ajaran Islam dan memancing permusuhan. Para ulama sepakat bahwa Tha’ah kepada pemimpin bersifat kondisional dan tidak boleh berujung pada maksiat kepada Allah. 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan prinsip ini. Beliau bersabda, “Tidak ada ketaatan (kepada makhluk mana pun) dalam maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad) 

Hadits ini menegaskan bahwa ketaatan dibenarkan selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat. 

Kaum Sunni menganggap prinsip tersebut sebagai bagian dari manhaj Ahlus Sunah. Mereka menghormati pemimpin Muslim tetapi tidak menempatkan penguasa di atas hukum Allah. 

Imam Ahmad meriwayatkan hadis tersebut bersama para ahli hadis lain. Mereka menjadikannya kaidah agar umat tidak menaati perintah yang mengandung kemaksiatan. Ketaatan mutlak hanya untuk Allah dan kepada manusia ketaatan dibatasi oleh kebenaran syariat. 

Jika seorang suami memaksa istrinya menanggalkan cadar yang dia yakini wajib, sang istri tidak boleh menuruti. Demikian pula bila seorang penguasa memerintahkan sebuah dosa, umat Islam tidak boleh mengikuti perintah itu. Mereka tetap berkewajiban taat dalam urusan lain seperti menjaga keamanan dan ketertiban. 

Kesadaran ini penting di tengah wacana publik yang kerap mempolitisasi agama. Hadits tentang “tidak ada taat dalam maksiat” mengajarkan keseimbangan. Islam mendukung stabilitas dan penghormatan terhadap otoritas namun menolak absolutisme. 

Prinsip ini membedakan ketaatan dalam Islam dari kekuasaan otoriter. Para ulama menyeru agar umat tetap setia kepada pemimpin yang adil. Mereka juga meminta umat bersikap kritis dan menolak perintah yang jelas-jelas melanggar hukum Allah. 

Dengan demikian, ajaran Islam menjaga harmoni antara ketaatan dan kebenaran, antara kepatuhan sosial dan integritas moral. Ajaran ini mengajarkan umat untuk tidak menjadi budak buta pada pemimpin, melainkan hamba Allah yang taat dan bermartabat. 

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah