Opsi : Kalender Administratif Hijriyah Global & Kalender Hijriyah Ibadah
Baca :
Opsi : Kalender Administratif Hijriyah Global & Kalender Hijriyah Ibadah
Mungkinkah Kalender Hijriyah Universal?
Selama ini saya merasa kita belum benar-benar “hidup” dengan kalender Hijriah sebagai kalender peradaban. Ia hadir, kita menghormatinya, tetapi fungsinya sering berhenti di level penanda seremonial: untuk menyebut Ramadan, Syawal, Zulhijjah—bukan sebagai sistem tanggal yang menggerakkan administrasi sehari-hari.
Dalam praktiknya, hampir semua urusan yang menuntut kepastian—jadwal akademik, kalender kerja, kontrak, agenda lembaga, timeline proyek—secara default kembali ke kalender Masehi. Hijriah lebih sering menjadi “lapisan tambahan”: disebut di poster, di pengumuman, di khutbah, di ucapan, tetapi jarang menjadi tulang punggung penanggalan institusi. Akibatnya, ia terasa seperti kalender yang “kita rayakan”, bukan kalender yang “kita jalani”.
Dan ini bukan semata-mata karena kita tidak menghargai Hijriah, melainkan karena tanpa standar yang stabil dan terprediksi, kalender Hijriah sulit dipakai sebagai fondasi administratif lintas wilayah. Jadi kalau ada dorongan untuk membangun kalender universal, itu berangkat dari kegelisahan sederhana: kalau Hijriah ingin menjadi kalender peradaban, ia perlu naik kelas dari simbol menjadi infrastruktur.
Mengapa sampai hari ini belum ada kalender Hijriah global yang rapi?
Karena perdebatan biasanya terjebak pada asumsi yang keliru: seolah-olah kalau ada kalender Hijriah global, maka seluruh dunia harus terikat secara ritual pada kalender itu.
Padahal secara astronomi, hilal memang tidak mungkin terlihat serentak di seluruh bumi. Konjungsi terjadi pada satu waktu global, tetapi visibilitas hilal bergantung pada kondisi lokal saat maghrib: ketinggian bulan, elongasi, terang langit, atmosfer, cuaca, horizon, dan metode pengamatan. Karena bumi berotasi, wilayah yang lebih barat sering “mendapat” hilal yang lebih tua beberapa jam pada waktu maghribnya. Maka, memaksa “serentak ritual” adalah memaksa satu aturan untuk realitas langit yang memang tidak seragam.
Kalender Hijrirah Global
Kita bisa membayangkan sebuah “kalender Hijriah global” yang bekerja seperti ini: dunia sepakat punya satu tanggal Hijriah administratif yang sama, tetapi tanggal itu ditentukan dengan memakai satu titik acuan yang jelas.
Titik acuannya dipilih Makkah. Jadi, awal bulan Hijriah secara administratif ditetapkan ketika—pada saat maghrib di Makkah—hilal dinilai sudah memenuhi kriteria untuk memulai bulan baru (misalnya memenuhi syarat visibilitas, atau memenuhi aturan hisab yang disepakati). Karena posisi bulan–matahari bisa dihitung dengan astronomi modern, momen-momen kuncinya (konjungsi, waktu terbenam bulan, ketinggian/elongasi saat maghrib di Makkah) pada dasarnya bisa diprediksi jauh hari dengan ketelitian tinggi.
Itu berarti kalender administratif ini bisa disusun dan dipublikasikan jauh sebelum Ramadan, sehingga institusi tidak perlu “menunggu keputusan last minute” untuk urusan jadwal. Setelah Makkah “masuk” tanggal 1 secara administratif, kalender global juga bergerak ke tanggal 1, sehingga lembaga di berbagai negara bisa memakai tanggal yang sama untuk urusan dokumen dan koordinasi lintas negara.
Sementara itu, urusan ibadah di tiap daerah tetap boleh mengikuti keputusan lokal masing-masing (rukyat/hisab/matla’). Kerangka patokan Makkah untuk tanggal administratif global inilah yang saya sebut Universal Makkan Time (UMT).
Universal Makkan Time (UMT)/Kalender ibadah
Di sinilah proposal Universal Makkan Time (UMT) menjadi jalan tengah yang ilmiah dan sekaligus pragmatis: kalender global dibuat dua layer.
Layer pertama adalah tanggal Hijriah global sebagai indeks administratif—dipakai untuk kalender institusi, perencanaan lintas negara, jadwal resmi, logistik, event internasional, dan urusan birokrasi.
Layer kedua adalah waktu ritual lokal—puasa dan Eid tetap mengikuti otoritas masing-masing (rukyat/hisab/matla’), tanpa dipaksa seragam. Kalimat kuncinya sederhana: Universal Makkan (tempat) Time menyatukan label ibadah, bukan memaksa langit yang sama.
Mengapa referensinya Makkah?
Setiap standar global butuh patokan—seperti UTC punya meridian acuan. Makkah adalah patokan yang paling natural dan paling minim friksi bagi umat: ia pusat simbolik bersama (kiblat) dan secara sosiologis sudah ada preseden koordinasi berskala kolosal yang terpusat.
Haji adalah ibadah paling massal, paling terjadwal, dan seluruh dunia menerima bahwa puncaknya—Arafah dan hari-hari manasik—bergantung pada koordinasi yang terpusat.
Menjadikan Makkah sebagai referensi administratif bukan klaim “Makkah mengatur ibadah semua orang”, melainkan memilih acuan yang paling wajar untuk koordinasi global kalender Hijriah.
Sekarang bayangkan konsekuensi praktis UMT pada kasus Ramadhan yang sebentar lagi (Februari 2026). Indonesia akan melakukan pemantauan hilal dan sidang penetapan sekitar 17 Februari 2026. Secara prediksi visibilitas global, pola tahun ini sangat jelas: pada 17 Feb 2026 hilal diperkirakan tidak terlihat di mana pun; pada 18 Feb 2026 hilal sudah “mudah terlihat” mulai dari India ke arah barat; dan pada 19 Feb 2026 hilal “mudah terlihat” di seluruh dunia. Artinya, jika UMT dipakai sebagai indeks administratif berbasis referensi Makkah, maka sangat mungkin administratif menyatakan 1 Ramadan UMT ketika wilayah Makkah dan wilayah barat sudah masuk kondisi memadai. Sementara Indonesia—yang jauh di timur—mungkin baru memulai puasa sehari setelahnya karena keputusan ritual lokal.
Konsekuensinya
"Indonesia memulai puasa pada 2 Ramadan UMT"
Di awal, ini memang terdengar aneh:
“kok mulai puasa di 2 Ramadan?”
Tapi justru di sinilah analogi paling kuat: kita sudah sangat terbiasa dengan zona waktu. WIB, WITA, WIT berbeda jam, tetapi tidak membuat ibadah kita “lebih lambat” atau “lebih cepat”—kita paham bahwa standar global diperlukan, sementara praktik lokal mengikuti realitas setempat. UMT melakukan hal yang sama pada level tanggal: perbedaan (jika terjadi) diekspresikan sebagai offset yang transparan, bukan sumber kebingungan tahunan.
Lalu, seberapa banyak dunia yang “sinkron” dengan 1 Ramadan UMT tahun ini? Agar sederhana, kita pakai ukuran yang mudah: rentang bujur (longitude). Karena pada 18 Feb hilal sudah mudah terlihat mulai dari India ke arah barat, maka wilayah yang kemungkinan sinkron dengan 1 Ramadan UMT mencakup kira-kira bujur 180°BB hingga sekitar 80°BT (sekitar India). Itu rentang sekitar 260° dari 360°, atau kira-kira 72% dunia berdasarkan bujur yang akan “masuk” 1 Ramadan UMT pada hari yang sama secara administratif. Sisanya—terutama Asia Tenggara sampai Australia—lebih berpotensi mengalami offset +1 hari pada layer ritual lokal. Angka ini bukan klaim fiqh, melainkan cara cepat menggambarkan “berapa luas” zona yang selaras pada pola visibilitas tahun ini.
Bahkan kalau kita ambil skenario paling pesimis (situasi terburuk) —anggap semua wilayah timur Makkah selalu berpotensi +1 hari sementara semua wilayah barat Makkah sinkron—UMT tetap punya jaminan minimal: wilayah barat mencakup 180° bujur, yaitu 50% dunia. Jadi, dalam model terburuk pun, setidaknya setengah dunia sinkron dengan 1 Ramadan UMT sebagai indeks administratif. Dan yang lebih penting: perbedaannya terstruktur secara geografis dan biasanya hanya beda 1 hari, bukan chaos.
Kesimpulannya
UMT bukan proyek “menggantikan rukyat dengan matematika”, juga bukan upaya menyeragamkan ibadah.
Ini murni desain sistem waktu: administrasi butuh standar global yang dapat diprediksi; ritual tetap menghormati otoritas lokal; dan perbedaan—kalau ada—diubah menjadi offset yang jelas, persis seperti kita memahami zona waktu.
Kalau kita ingin kalender Hijriah naik kelas menjadi kalender peradaban modern (bukan sekadar simbol), pendekatan dua layer seperti UMT adalah kompromi yang paling rasional: tertib untuk dunia, tetap sah untuk ibadah.

Komentar
Posting Komentar