EVALUASI DIRI : HAMBA RAMADHAN ATAU HAMBA ALLAH?

EVALUASI DIRI : HAMBA RAMADHAN ATAU HAMBA ALLAH? 

Jangan sampai kita hanya menjadi “hamba Ramadhan” yang rajin beribadah ketika bulan suci tiba, lalu kembali lalai setelah ia berlalu. Betapa banyak orang mengucapkan Alhamdulillah saat Idul Fitri, bukan karena siap melanjutkan hasil latihan Ramadhan, melainkan karena merasa terbebas dari rutinitas ibadah. Padahal, seorang mukmin sejati adalah hamba Allah sepanjang waktu, bukan hanya pada musim tertentu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR Muslim: 1164).

Dalam hadits qudsi, Allah ﷻ berfirman:

قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya’.” (HR Bukhari: 1761 dan Muslim: 1946).

Ramadhan sejatinya merupakan madrasah yang melatih kita agar istiqamah dalam puasa sunnah, qiyamulail, dan berbagai ketaatan lainnya setelahnya. Karena itu, mari kita evaluasi diri: apakah kita hanya beribadah secara musiman atau benar-benar menjadi hamba Allah yang konsisten dalam ketaatan? Semoga Allah ﷻ meneguhkan hati kita dalam ketaatan sepanjang hayat dan menerima seluruh amal ibadah kita. Āmīn.

Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah