Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij
Di Indonesia, konsep "pemimpin yang tidak zalim" (adil) bersifat subjektif karena sangat bergantung pada nilai, kepentingan, dan tantangan yang dihadapi masyarakat pada setiap era.
Secara historis, setiap presiden Republik Indonesia memiliki catatan prestasi dan kritik tersendiri dari publik:
- Ir. Soekarno (1945–1967): Dipuji sebagai Bapak Bangsa dan Proklamator, namun di akhir pemerintahannya dikritik karena otoritarianisme melalui Demokrasi Terpimpin dan krisis ekonomi yang parah.
- Jenderal TNI (Purn.) Soeharto (1967–1998): Dijuluki Bapak Pembangunan karena stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, namun dikritik keras atas praktik Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN) serta pembungkaman kebebasan politik selama 32 tahun.
- Prof. Dr. B.J. Habibie (1998–1999): Dipandang sebagai Bapak Reformasi yang membuka kebebasan pers dan demokrasi, namun sempat dikritik atas kebijakan referendum Timor Timur.
- KH. Abdurrahman Wahid / Gus Dur (1999–2001): Dikenal sebagai tokoh pluralisme dan pembela kelompok minoritas, namun gaya kepimpinannya yang kerap kontroversial memicu gesekan politik hingga berujung pemakzulan oleh MPR.
- Megawati Soekarnoputri (2001–2004): Presiden wanita pertama yang berjasa menjaga stabilitas konstitusi, namun dikritik karena kebijakan privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan penjualan aset negara.
- Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014): Dianggap berhasil menghadirkan stabilitas politik, kebebasan berbicara, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, tetapi dikritik lamban dalam penanganan kasus korupsi dan penegakan hukum tertentu.
- Ir. H. Joko Widodo (2014–2024): Mendapat dukungan luas karena masifnya pembangunan infrastruktur dan bantuan sosial, namun dihadapkan pada kritik terkait pelemahan KPK, isu dinasti politik, serta penyusutan ruang demokrasi.
- Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto (2024–Sekarang): Menjabat dengan visi keberlanjutan dan ketahanan nasional, yang kebijakannya masih terus berjalan dan dinilai oleh publik secara dinamis.
Baca juga artikel berikut :
---o0o---
Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij
Mencela pemimpin merupakan ciri khas manhaj yang ditempuh oleh kaum Khawarij. Awalnya hanya sekedar mengkritik dan membeberkan aib pemimpin di atas mimbar, seminar, koran, dan medsos; tetapi membengkak hingga tiada lain terminal akhirnya kecuali memberontak pemimpin.
Jelas kiranya, metode ini menyelisihi petunjuk Nabi dalam mengingkari penguasa dan merupakan sumber segala fitnah/kerusakan sepanjang sejarah sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim dalam I’lam Muwaqqi’in (3: 7).
Sebagai bukti bahwa metode seperti itu adalah metode yang diterapkan kaum Khawarij adalah riwayat Imam Tirmidzi dan selainnya dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi, katanya,
كُنْتُ مَعَ أَبِيْ بَكْرَةَ تَحْتَ مِنْبَرِ أَبِيْ عَامِرٍ وَهُوَ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ, فَقَالَ أَبُوْ بِلاَلٍ: انْظُرُوْا إِلَى أَمِيْرِنَا يَلْبَسُ لِبَاسَ الْفُسَّاقِ, فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ : اسْكُتْ! سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِيْ الأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ
“Saya pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir yang sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Abu Bilal berkata, “Lihatlah pemimipin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasiq.” Abu Bakrah menegurnya seraya berkata, “Diamlah, saya mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya.“” (Lihat Shahih Sunan Tirmdzi no. 1812 oleh Al-Albani)
Imam Adz-Dzahabi berkata, “Abu Bilal namanya adalah Mirdas bin Udiyyah, seorang Khawarij tulen. Karena kejahilannya, dia menganggap pakaian tipis bagi kaum pria adalah pakaiannya orang fasiq.” (Siyar A’lam Nubala’, 14: 508 oleh Imam Dzahabi)
Demikianlah Khawarij sepanjang zaman, mereka salah kaprah dalam metode mengingkari dan jahil akan hal yang diingkari.
Satu hal lagi yang perlu sekali saya sampaikan di sini bahwa hanya sekedar menghujat pemimpin muslim -sekalipun fasiq- merupakan ciri khas manhaj Khawarij, sebab manusia tidak akan memberontak pemimipin tanpa ada yang menyalakan api kebencian di hati mereka, walaupun dengan dalih menegakkan pilar amar ma’ruf nahi mungkar.
Oleh karenanya, para ulama menilai bahwa para penggerak pemberontakan, pengkritik, dan pencela pemimpin adalah Khawarij sekalipun sepanjang sejarah mereka tidak pernah memberontak. Dalam kitab sejarah dan firaq (kelompok dan golongan), mereka disebut Al-Qa’adiyyah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mensifati sebagian jenis Khawarij, “Dan kaum Al-Qa’adiyyah yaitu kelompok yang melicinkan pemberontakan terhadap pemerintah sekalipun tidak langsung membrontak.”
Bahkan, kadang-kadang orang yang mengompori untuk berontak lebih jelek daripada yang langsung memberontak sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dalam Masail Ahmad (hal. 271) dari Abdullah bin Muhammad berkata, “Khawarij jenis Al-Qa’adiyyah adalah sejelek-jeleknya kelompok Khawarij!”
Para ulama masa kini juga telah membendung dan memerangi pemikiran-pemikiran Khawarij model Al-Qa’adiyyah ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata tatkala menjelaskan hadits Dzil Huwaishiroh, “Hadits ini merupakan dalil yang sangat mendasar bahwa berontak pada pemimpin bukan hanya dengan pedang semata tapi bisa juga dengan perkataan dan ucapan. Perhatikanlah, orang ini (Dzul Huwaishrah), dia tidak mengangkat pedang guna membunuh Nabi, tapi dia hanya mengingkarinya (dengan terang-terangan). Apabila dijumpai dalam sebagian kitab ahli sunnah yang menyatakan bahwa berontak itu adalah dengan pedang, maka maksudnya adalah puncak pemberontakan.” (Lihat Fatawa Ulama Al-Akabir, hal. 94-96 dan Madarik An-Nadhar, hal. 272-275 oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani).

Komentar
Posting Komentar