Kenapa dan alasan kiyai-kiyai Aswaja NU tidak mau mengupas amalan-amalan bid'ah dhalalah

Pernahkah kita bertanya…
kenapa hadis “kullu bid’ah dhalalah” jarang terdengar di sebagian mimbar? 
Padahal hadis ini sangat tegas:

“Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim)
Dalam video ini, kita mengajak berpikir lebih dalam. 

Apakah dakwah hari ini masih murni menyampaikan dalil? 
Ataukah sudah mulai menyesuaikan dengan realitas dan tradisi yang berkembang? 

Fenomena pelabelan seperti “Wahabi” saat hadis disampaikan apa adanya.
Perbedaan antara dalil dan tradisi. 
Dampak jika batas antara sunnah dan budaya mulai kabur. 
Benarkah semua bid’ah bisa dikecualikan?

Jadi.., kalau demikian benarlah "Aswaja" yang di gadang-gadangkan NU adalah tradisi (kebiasaan/jahihiliyah) dengan kata lain Aswaja itu adalah kependekan dari "Ahlussunnah Warisan Jahililiyah (tradisi)" atau "Ahlussunnah Warisan Jawa"

Kemudian sebaliknya kalau begitu.., "Wahabi" adalah kependekan dari kata "Warisan Hadis Nabi"

Simak video berikut :

Kenapa dan alasan kiyai-kiyai Aswaja NU tidak mau mengupas amalan-amalan bid'ah dhalalah

Ahlul bid'ah (orang-orang yang membuat atau mengikuti perkara baru dalam agama) jarang mengupas atau membahas bid'ah dhalalah (bid'ah yang sesat) secara mendalam, terutama jika itu menyangkut amalan yang mereka lakukan, karena beberapa alasan mendasar berdasarkan perspektif Ahlussunnah: 
  • Pembenaran Diri (Defensif): Ahlul bid'ah cenderung menganggap amalan yang mereka lakukan sebagai kebaikan (hasanah) atau ibadah, sehingga mereka menghindari pembahasan yang akan menghakimi amalan tersebut sebagai dhalalah (kesesatan). 

  • Kerancuan Definisi: Mereka sering membagi bid'ah menjadi beberapa kategori (seperti bid'ah hasanah/baik dan sayyi'ah/buruk) dan berupaya memasukkan amalan-amalan mereka ke dalam kategori "baik" atau bahkan "wajib", sehingga tidak lagi dianggap sebagai dhalalah. 

  • Menghindari Kebenaran Hadits: Hadits tegas menyebutkan Kullu bid'atin dhalalah (Setiap bid'ah itu sesat). Mengupas bid'ah dhalalah akan menuntut mereka untuk mengakui bahwa bid'ah tidak memiliki klasifikasi "baik" atau "buruk" dalam konteks ibadah ritual, yang berpotensi meruntuhkan dasar pembenaran amalan mereka. 

  • Keterbatasan Pemahaman: Dalam banyak kasus, pelaku bid'ah tidak menyadari bahwa amalan yang mereka lakukan dianggap sebagai perkara baru yang tidak memiliki contoh dari Nabi SAW, atau mereka mengikutinya berdasarkan dalil yang lemah.  
Oleh karena itu, diskusi mengenai bid'ah dhalalah lebih sering dilakukan oleh Ahlussunnah wal Jama'ah untuk menjelaskan batasan-batasan syariat dan mencegah penyimpangan, daripada oleh pelaku bid'ah itu sendiri. (https://share.google/aimode/pRoEAJLMxc3coVZ6k)

Tradisi budaya lokal yang dilestarikan oleh aswaja NU

Tradisi budaya lokal yang dilestarikan oleh Aswaja NU (Nahdlatul Ulama) berfokus pada sinkretisasi ajaran Islam dengan budaya Nusantara, seperti  

tahlilan, ziarah kubur, maulid nabi, manaqiban, dan ruwahan. Tradisi ini mempertahankan nilai tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran) dalam kehidupan sosial dan keagamaan.  

Berikut adalah beberapa tradisi lokal yang dilestarikan: 
  • Tahlilan & Yasinan: Pembacaan ayat Al-Qur'an dan kalimat thayyibah yang ditujukan untuk orang meninggal, sering dilakukan pada hari ke-3, 7, 40, hingga 1000. 

  • Ziarah Kubur & Haul: Mengunjungi makam wali atau keluarga (nyadran) untuk mendoakan dan merawat spiritualitas. 

  • Maulid Nabi & Diba'an: Perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan pembacaan kitab maulid (Barzanji, Diba', Simthud Durar). 

  • Manaqiban: Pembacaan kisah hidup dan karamah para wali (seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani) untuk mengambil hikmah. 

  • Istighosah & Shalawatan: Doa kolektif untuk memohon pertolongan Allah SWT, sering dilakukan berjamaah. 

  • Tradisi Bulan Suro & Shafar: Amaliyah khusus, seperti doa akhir-awal tahun atau sedekah bumi, yang disesuaikan dengan nilai syariat. 

  • Ngapati dan Mitoni (Tingkepan): Tradisi doa bersama saat kehamilan empat atau tujuh bulan. 

  • Halal Bihalal: Tradisi saling memaafkan setelah Idul Fitri yang khas Nusantara.  
Tradisi ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqorrub) sekaligus menjaga keakraban sosial (silaturahmi). (https://share.google/aimode/5TfL00o4IOkyuIdwY)

---o0o---

Simak video berikut :

》Kiyai Swaja NU membenci dan menuduh Wahabi sesat :

Sumber video : https://youtu.be/
Baca :

》Amalan Aswaja NU mirip dan sama dengan amalan Syi'ah :

Vedeo lengkap (Klik Disini)



Baca juga artikel terkait berikut :

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah