Jenis-jenis Syafaat pada Hari Kiamat dan Kekhususan Syafaat Nabi Muhammad ﷺ
Jenis-jenis Syafaat pada Hari Kiamat dan Kekhususan Syafaat Nabi Muhammad ﷺ
Oleh: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi
Sesungguhnya Nabi ﷺ pada Hari Kiamat memiliki berbagai macam syafaat, di antaranya:
1. Syafaat Al-Uzhma (Yang Agung):
Syafaat ini merupakan syafaat yang paling agung, yaitu kedudukan terpuji (Al-Maqam Al-Mahmud) yang disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79). Ini terjadi ketika manusia pada Hari Kiamat memohon pertolongan kepada Adam, kemudian Nuh, kemudian Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isa ‘alaihimus salam, hingga akhirnya urusan sampai kepada Nabi kita Muhammad ﷺ. Mereka berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi, Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Berikanlah syafaat untuk kami kepada Rabbmu! Tidakkah engkau melihat keadaan kami sekarang?! Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami?!”
Maka aku pun pergi dan mendatangi (tempat) di bawah ‘Arsy, lalu aku bersujud kepada Rabbku. Kemudian Allah membukakan untukku (ilham) dan menganugerahkanku pujian-pujian dan sanjungan yang indah kepada-Nya, sesuatu yang belum pernah dibukakan untuk seorang pun sebelumku. Kemudian dikatakan, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah niscaya akan dikabulkan, katakanlah niscaya akan didengar, dan berilah syafaat niscaya akan diterima.” Maka aku angkat kepalaku dan berkata, “Wahai Rabb, (selamatkan) umatku, umatku.” Lalu dikatakan, “Wahai Muhammad, masukkanlah ke dalam Surga dari umatmu orang-orang yang tidak dihisab melalui pintu kanan dari pintu-pintu Surga, dan mereka akan berbagi dengan manusia lainnya pada pintu-pintu yang lain.” Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya jarak antara dua daun pintu dari daun-daun pintu Surga adalah seperti jarak antara Mekkah dan kota Busra.” (HR. Al-Bukhari No. 4312, Muslim No. 193)
Ini berarti bahwa dari umat Muhammad ﷺ, orang-orang yang tidak dihisab akan langsung masuk Surga tanpa melalui kengerian-kengerian yang dilalui oleh manusia lainnya. Setelah syafaat ini, hisab pun dimulai. Syafaat ini khusus untuk Nabi kita ﷺ. (Al-Yaum Al-Akhir fi Al-Qur’an Al-‘Azhim, Dr. Abdul Muhsin Al-Muthairi, hal. 299)
2. Kekhususan Beliau ﷺ untuk Membuka Pintu Surga:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku adalah manusia pertama yang memberi syafaat untuk (masuk) Surga, dan aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya.” (HR. Muslim No. 196). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Aku akan datang ke pintu Surga pada Hari Kiamat lalu meminta izin masuk. Maka penjaganya berkata, ‘Siapakah kamu?’ Aku menjawab, ‘Muhammad.’ Lalu dia berkata, ‘Karena kamulah aku diperintahkan, aku tidak akan membukanya untuk seorang pun sebelummu.'” (HR. Muslim No. 333)
Dan umat pertama yang masuk Surga adalah umatnya ﷺ. Beliau bersabda: “Kita adalah (umat) yang terakhir (di dunia) dan yang pertama pada Hari Kiamat, dan kitalah yang pertama kali masuk Surga.” (HR. Muslim No. 855)
3. Syafaat untuk Meninggikan Derajat Sebagian Penghuni Surga Melebihi yang Sepatutnya dari Pahala Amal Mereka:
Terdapat beberapa hadits mengenai hal ini. Dalil untuk jenis syafaat ini adalah hadits yang shahih dalam Ash-Shahihain dan lainnya dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu tentang kesyahidan Abu ‘Amir radhiyallahu ‘anhu. Di dalamnya disebutkan bahwa Abu ‘Amir berkata, “Wahai anak saudaraku, temuilah Rasulullah ﷺ, sampaikan salamku untuknya, dan katakan bahwa Abu ‘Amir berkata untukmu (wahai Rasulullah), ‘Mohonkanlah ampunan untukku.'” Abu Musa berkata, “Abu ‘Amir menunjukku sebagai penggantinya memimpin pasukan, dan ia hidup tidak lama kemudian wafat. Ketika aku kembali kepada Nabi ﷺ, aku menemuinya di dalam sebuah rumah di atas tempat tidur yang dialasi kulit, dengan sebuah selimut di atasnya. Bekas pasir di tempat tidur itu terlihat di punggung dan kedua sisi Rasulullah ﷺ. Lalu aku menceritakan kisah kami dan kisah Abu ‘Amir kepadanya, dan aku katakan, ‘Dia berkata, Katakanlah untuknya, Mohonkanlah ampunan untukku.’ Maka Rasulullah ﷺ meminta air lalu berwudhu dengannya, kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu Abu ‘Amir,’ sampai aku melihat putih ketiak beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Ya Allah, jadikanlah dia pada Hari Kiamat berada di atas kebanyakan makhluk-Mu atau manusia.’ Aku (Abu Musa) berkata, ‘Dan untukku juga, wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan.’ Maka Nabi ﷺ berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais (Abu Musa) dan masukkanlah ia pada Hari Kiamat ke tempat yang mulia.'” (HR. Al-Bukhari No. 4322, Muslim No. 2498)
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Salamah (saat wafat) dan matanya terbuka lebar, maka beliau menutupkannya. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ruh ketika dicabut, pandangan mata akan mengikutinya.” Lalu sebagian keluarganya berteriak histeris. Beliau bersabda: “Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali dengan kebaikan, karena para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya di antara orang-orang yang mendapat petunjuk, berilah pengganti yang baik untuk keturunannya yang masih hidup, ampunilah kami dan dia, wahai Rabb semesta alam, luaskanlah kuburnya dan berilah cahaya di dalamnya.” (HR. Muslim No. 920)
4. Syafaat untuk Sebagian Orang Kafir Penghuni Neraka agar Diringankan Siksaannya:
Syafaat ini khusus untuk Nabi ﷺ kepada pamannya, Abu Thalib. Dalil untuk jenis syafaat ini adalah hadits dalam Ash-Shahihain dari Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah memberi manfaat kepada Abu Thalib dengan sesuatu? Karena dahulu dia melindungi dan membelamu.” Beliau menjawab: “Ya. Dia berada di neraka yang paling dangkal. Kalau bukan karena aku, niscaya dia akan berada di kerak neraka yang paling bawah.” (HR. Al-Bukhari No. 6208 dan Muslim No. 209)
Ini adalah syafaat untuk meringankan, bukan syafaat untuk mengeluarkan dari neraka, meskipun dia adalah penghuni neraka yang paling ringan siksanya. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib. Dia mengenakan dua sandal (dari api) yang mendidihkan otaknya.” (HR. Muslim No. 362)
5. Syafaat untuk Pelaku Dosa Besar:
Syafaat beliau ﷺ untuk pelaku dosa besar dari umatnya yang masuk neraka, agar mereka dikeluarkan darinya. Hadits-hadits tentang jenis syafaat ini mencapai derajat mutawatir. Dalam syafaat jenis ini, beliau ﷺ ditemani oleh para malaikat, nabi, dan orang-orang beriman. Syafaat ini diulangi oleh beliau ﷺ sebanyak empat kali. (Al-Minhah Al-Ilahiyyah fi Tahdzib Ath-Thahawiyah karya Al-Ghunaimi, hal. 292). Di antara hadits-hadits tentang jenis ini adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Syafa’atku adalah untuk pelaku dosa besar dari umatku.” (HR. At-Tirmidzi No. 2435, beliau berkata: Hasan Shahih Gharib).
6. Syafaat untuk Suatu Kaum yang Masuk Surga Tanpa Hisab:
Sebagai dalil untuk jenis syafaat ini, dapat dikemukakan hadits ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Akan masuk Surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah (minta diruqyah), tidak minta diruqyah, tidak percaya pada thiyarah (sial burung), dan hanya kepada Rabb mereka mereka bertawakal.” Lalu ‘Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Berdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk golongan mereka.” Beliau bersabda: “Engkau termasuk mereka.” Kemudian seorang laki-laki (lain) berdiri dan berkata, “Wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku termasuk golongan mereka.” Beliau bersabda: “Engkau telah didahului oleh ‘Ukasyah.” (HR. Muslim No. 216)
7. Syafaat Rasulullah ﷺ untuk Suatu Kaum yang Amal Kebaikan dan Keburukan Mereka Seimbang:
Beliau memberi syafaat bagi mereka agar dapat masuk Surga, dan juga bagi orang lain yang telah diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka, agar mereka tidak memasukinya. (Al-Yaum Al-Akhir Al-Qiyamah Al-Kubra, Dr. ‘Umar Al-Asyqar, hal. 189; Fath Al-Bari, 11/436).
Baca juga artikel berikut :
- JANGANLAH KAMU BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH
- Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka
- Siapakah Manusia Yang Paling dicintai Allah?
Sumber : https://risalah.id/
Komentar
Posting Komentar