Iran dan Illusory Truth Effect



Illusory Truth Effect :

Pengulangan suatu informasi dapat memicu terjadinya Illusory Truth. (Baca klik disini)

Illusory Truth adalah sebuah fenomena yang terjadi ketika kita mendengar atau melihat suatu informasi secara berulang-ulang kemudian kita merasa yakin bahwa informasi tersebut benar adanya padahal kita belum tahu fakta sesungguhnya. 

Pengulangan itu membuat otak kita merasa familier terhadap hal tersebut yang kemudian akan membentuk suatu validasi secara otomatis mengenai infromasi itu.

Diantaranya adalah ilusi kehebatan farsiyah (iran).


Iran dan Illusory Truth Effect

Sebuah teori klasik dalam studi psikologi kognitif  yang tampaknya tetap relevan untuk diulas kembali. 

Teori tersebut bernama “Illusory Truth Effect” atau di dalam bahasa kita “Efek kebenaran Ilusi”. 

Teori ini telah teruji secara empiris melalui sebuah eksperimen laboratorium yang dilakukan banyak peneliti.

Inti dari teori ini adalah bahwa frekuensi atau pengulangan adalah kriteria yang digunakan otak manusia untuk menetapkan validitas dari informasi yang terdengar masuk akal. 

Artinya manusia memiliki kecenderungan untuk mempercayai bahwa suatu informasi valid, dan level kepercayaan mereka akan meningkat setelah terpapar informasi tersebut berulang kali. 

Itu juga berarti secara praktis seorang penjahat tetap bisa dicitrakan sebagai pahlawan jika ia atau orang lain mampu menyampaikan narasi patriotik tentangnya secara masif dan berulang-berulang di hadapan publik.

Teori ini juga menjawab sebuah pertanyaan yang cukup membuat resah sebagian pengkaji : 

Kok bisa Iran saat ini diposisikan sebagai pahlawan Islam, padahal selama ini jelas-jelas berdasarkan fakta teologis dan fakta historis telah membantai Muslim Sunni di berbagai negara?!

Gak usah jauh-jauh lah, 

Suriah hingga saat ini luka mendalam mereka akibat penindasan Iran masih belum sembuh!

Jutaan yang terbantai dan jutaan yang terpaksa harus terusir dari negaranya tanpa jelas arah. 

Sejujurnya, apa yang dituai oleh Iran saat ini bukanlah pencapaian instan dalam sehari atau dua hari. 

Ia merupakan akumulasi proses produksi narasi yang berlangsung berulang-ulang selama puluhan tahun. 

Khamene’i bersama mesin media Iran selama ini terus mengulang-ulang narasi

 “Negara Arab itu Pengkhianat, Antek Zionis“ dan “ Negara Arab Sunni mengabaikan Gaza”.

Di sisi lain, narasi-narasi tersebut diiringi dengan narasi yang lebih vokal dan tegas

 “Iran pahlawan Islam, Iran Pembela al-Aqsa,Iran Pemberani, dan lain-lain"

Kesuksesan narasi-narasi propaganda Iran tentu saja ditopang oleh dana yang "unlimited" yang menurut salah seorang peneliti strategi geopolitik Iran, dana yang digelontorkan oleh pemerintah Iran untuk operasional media propagandanya tidaklah lebih kecil dari anggaran produksi rudal-rudal militer Iran.

Orang ini (Husein Gaza) yang katanya paling Gaza, paling Palestina, nyatanya juga paling Iran alias paling Rafidhoh (Syi'ah). Dapat fulus berapa dari Iran..???
----

Selanjutnya, narasi- narasi tersebut lalu direproduksi dan direpost oleh pengikut Syi'ah di seantero dunia. 

Ironisnya, juga ikut didukung dan direpost oleh banyak kalangan Sunni terutama dari kalangan “Shufiyun”.  Bahkan, oleh Oknum yang sudah ditokohkan.

Masyarakat awam maupun sebagian da’i dan ustadz telah mengalami kelelahan menentang paparan narasi-narasi fatamorgana yang hingga detik ini terus terulang di beranda-beranda media sosial.





-----

Efek FATAMORGANA “Illusory Truth” yang terus disuarakan oleh Fersiy/Iran menggambarkan bahwa:

Khamene’i pantas mendapatkan apresiasi istimewa berupa gelar “Syahid”.

Sebelumnya Qasim Sulaimani. Panglima Pasukan Garda Revolusi yang notabene merupakan otak pembantaian jutaan Sunni di Syiria oleh Iran berbagai negara Islam juga tak luput dari penyematan gelar prestise "Syahidul Quds".

Meskipun, nyatanya ia tewas di Baghdad oleh Koalisinya ketika membantai Shaddam Husain dan Iraq, AS.

Anda bisa bayangkan, bagaimana para penjahat berdarah dingin bisa diterima begitu saja tanpa resistensi sebagai pahlawan bahkan bergelar syahid. Itu bukan ilusi atau pun fiksi, tapi sebuah fakta pahit di dunia nyata. 

Kita belum berbicara mengenai fakta penyimpangan akidah mereka atau kejahatan mereka terhadap shabat-sahabat Nabi shallalahu 'alaihi wasallam.

Efek lain yang juga tampak saat ini adalah oleh sebagian kalangan Sunni, Iran mulai dicarikan legitimasi (udzur) agar tetap mendapatkan pembelaan sebagai negara Islam yang terzhalimi.

Mulai dari berdalil dengan sebuah ayat di surat alRum, berdalil dengan menggunakan alasan strategi geopolitik, siyasah syar'iyyah, sikap adil, hingga bejibun alasan lainnya.

Anehnya justru tidak diberikan kepada negara-negara Arab (Sunni).


Terlepas dari benar atau tidaknya alasan tersebut, yang jelas sedikit banyak harus diakui kalau itu merupakan efek paparan narasi-narasi patriotik fersiyah/Iran yang terus direpetisi oleh media-media Syi'ah dan pendukungnya hingga saat ini.

Yang kita khawatirkan adalah kalau sampai serangan Iran ke negara teluk juga dilegitmasi dengan dalih bahwa negara Arab adalah negara pengkhianat.

Baca artikel berikut : 

Sumber : https://www.facebook.com/share/

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah