Doa Nabi Ibrahim untuk Ayahnya dan Pertemuan Nabi Ibrahim dan Ayahnya di Hari Kiamat

Doa Nabi Ibrahim untuk Ayahnya dan Pertemuan Nabi Ibrahim dan Ayahnya di Hari Kiamat

Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim pernah mendoakan ayahnya yang mati dalam keadaan tidak beriman. Namun Allah menghalangi ampunan Nabi Ibrahim untuk ayahnya tersebut. Dan di dalam Al-Qur’an, Allah melarang nabi dan orang beriman untuk mendoakan orang yang mati dalam keadaan kafir, meskipun mereka adalah kerabat. Dan doa Nabi Ibrahim untuk ayahnya tersebut tidak lain karena janji yang pernah diutarakan beliau kepada ayahnya. Setelah beliau menyadari bahwa ayahnya adalah musuh Allah maka Nabi Ibrahim berlepas diri darinya.

Dan janji Nabi Ibrahim untuk mendoakan ayahnya tercantum di dalam surat Maryam.

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45) قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آَلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا (46) قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا (47) وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا (48)

“Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.”Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam [19]: 45-47)

Dan doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk ayahnya tercantum di dalam Al-Qur’an.

“(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan..” (QS. Ash-Shu`arā’:83-87)

Dan doa Nabi Ibrahim lainnya yang dipanjatkan untuk kedua orang tuanya adalah:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلـِوَا لِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَا بُ

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu-bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim 14: Ayat 41)

Namun doa ini pada gilirannya ditarik kembali oleh Ibrahim, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا كَا نَ لِلنَّبِيِّ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۤ اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَ لَوْ كَا نُوْۤا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya) setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni Neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 113)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَا نَ اسْتِغْفَا رُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَ بِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَاۤ اِيَّاهُ ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗۤ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّـلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُ ۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَ وَّاهٌ حَلِيْمٌ

Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 114)

Bahkan kita dapat menjadikan banyak hal dalam diri Nabi Ibrahim sebagai suri teladan yang baik bagi diri kita, kecuali satu, yaitu ketika beliau berdoa memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk ayahnya yang mati dalam keadaan tidak beriman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ كَا نَتْ لَـكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْۤ اِبْرٰهِيْمَ وَا لَّذِيْنَ مَعَهٗ ۚ اِذْ قَا لُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰٓ ؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَا لْبَغْضَآءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِا للّٰهِ وَحْدَهٗۤ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَ بِيْهِ لَاَ سْتَغْفِرَنَّ لَـكَ وَمَاۤ اَمْلِكُ لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ

Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sesungguhnya, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku tidak dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah.” (QS. Al-Mumtahanah 60: Ayat 4)

Dan Nabi Ibrahim pun bertemu dengan ayahnya di Hari Kiamat sebagaimana dijelaskan di dalam beberapa hadits.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

“Sungguh, Ibrahim melihat ayahnya pada hari Kiamat nanti dengan wajah yang tertutup debu dan kegelapan (maksudnya, kehinaan dan kesusahan).” (Fat-hul Baari (VIII/357). [Al-Bukhari (no. 4768)])

Sedangkan di dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ibrahim dipertemukan dengan ayahnya. Ia berkata, ‘Wahai Rabb-ku! Sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku bahwa engkau tidak akan menghinakan aku pada hari Kebangkitan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya aku haramkan Surga bagi orang-orang yang kafir.'” (Fat-hul Baari (VI/445) [Al-Bukhari (no. 4769])

Pertemuan Nabi Ibrahim dan ayahnya juga dicantumkan oleh Al-Bukhari dalam Kitaabu Ahaadiitsil Anbiyaa’ (hadits-hadits yang berkaitan dengan Nabi-Nabi), dengan lafazh:

“Nabi Ibrahim akan bertemu bapaknya, Azar, pada hari Kiamat kelak. Saat itu wajah Azar tertutup oleh kegelapan dan debu. Ibrahim berkata, ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, ‘Jangan menentang ajakanku.’ Ayahnya berkata, ‘Hari ini aku tidak akan menentang dan mendurhakai ajakanmu.’ Ibrahim berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya Engkau telah berjanji untuk tidak menghinakan aku pada hari Kebangkitan. Tidak ada satu kehinaan yang lebih hina dari yang dialami oleh ayahku yang jauh dari rahmat-Mu.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku haramkan Surga bagi orang-orang kafir. Kemudian dikatakan kepada Ibrahim, ‘Wahai Ibrahim, lihatlah di bawah kakimu!’ Maka Ibrahim melihat ayahnya dalam jelmaan serigala yang berlumuran darah, lalu kaki-kakinya direnggut dan dilemparkan ke dalam api Neraka.” (Fat-hul Baari (VI/445) [Al-BUkhari (no. 3350)])

Allahu a’lam.

Baca juga : 

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah