APAKAH ALLAH MEMILIKI WAJAH DAN TANGAN ?
APAKAH ALLAH MEMILIKI WAJAH DAN TANGAN ?
Di antara sifat yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya dan juga yang ditetapkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi Allah adalah sifat wajah dan tangan. Ini merupakan sifat Dzatiyah Al-Khabariyah, maksudnya adalah sifat yang ada pada dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sifat tersebut tiada dalil atau sumber penetapannya kecuali hanya wahyu (khabar dari Allah dan Rasul-Nya) dan tidak bisa direkayasa, tidak bisa dilogikakan. Maka wajib bagi kita untuk mengimani bahwa Allah memiliki wajah dan tangan. Tanpa menolaknya dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. Ini adalah akidah seluruh ulama Ahlussunnah tanpa ada perselisihan.
Di antara dalil yang menjelaskan hal itu, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah). Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 26)
Makna “ziyadah” (زِيَادَةٌ) adalah tambahan nikmat bagi penduduk surga yaitu melihat wajah Allah sebagaimana ahli tafsir ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, beliau berkata:
وأفضل من ذلك وأعلاه النظر إلى وجهه الكريم
“Tambahan yang paling baik dan tertinggi adalah melihat kepada wajah Allah yang mulia” (Tafsir Ibnu Katsir)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله عز وجل
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang mengucapkan Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam berdo'a:
أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ
“Dan aku memohon kenikmatan memandang wajah-Mu” (HR. An-Nasai, Ahmad dan lainnya shahih).
Beberapa dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang tegas menetapkan sifat tangan bagi Allah ta’ala. Diantaranya:
Allah ta’ala berfirman:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka lebar; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki” (QS. Al-Maidah: 64).
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
يقبِضُ اللهُ الأرضَ، ويَطوي السَّماواتِ بيَمينِه، ثمَّ يقولُ: أنا الملِكُ، أين مُلوكُ الأرضِ؟
“Allah ta’ala mengenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian mengatakan: Aku adalah Raja Diraja! Dimana para raja dunia?” (HR. Al-Bukhari no. 4812, Muslim no. 2787).
Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah mengatakan:
وأجمعوا على أنه عزَّ وجلَّ يسمع ويرى، وأنَّ له تعالى يدين مبسوطتين
“Para ulama sepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla mendengar dan melihat. Dan Allah ta’ala memiliki dua tangan yang terbuka lebar” (Risalah ila Ahlits Tsughur, hal. 225).
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan:
لله تبارك وتعالى أسماء وصفات جاء بها كتابه، وأخبر بها نبيه صلى الله عليه وسلم أمَّته…، وأن له يدين بقوله: ﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾، وأن له يمينًا بقوله: ﴿وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾
“Allah tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an. Dan sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya … dan bahwa Allah ta’ala memiliki dua tangan. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya) “Bahkan kedua tangan Allah terbuka lebar” (QS. Al-Maidah: 64), dan bahwasanya Allah memiliki tangan kanan, berdasarkan firman-Nya (yang artinya) “Langit digulung dengan tangan kanan-Nya” (QS. Az-Zumar: 67).” (Thabaqat Al-Hanabilah, 1/282).
Hukum asal suatu kata di dalam ayat maupun hadits harus dimaknai dengan makna hakiki. Tidak boleh menyimpangkan makna hakiki kepada makna lainnya kecuali apabila ada dalilnya yang tepat. Demikian pula hukum asal kata dalam ayat atau hadits adalah dimaknai sebagaimana adanya (zhahir nash). Tidak boleh menta’wilnya kecuali apabila ada dalilnya yang tepat. (silakan baca kitab-kitab Ushul Fiqih) Oleh sebab itu kita katakan bahwa kata wajah dan tangan adalah bermakna wajah dan tangan yang sebenarnya, bukan majas dan bukan makna yang lainnya.
Dari Walid bin Muslim rahimahullah (wafat tahun 195 H), dia berkata,
قال سألت مالك بن أنس و سفيان الثوري و الليث بن سعد و الأوزاعي عن الأخبار التي جاءت في الصفات فقالوا أمروها كما جاءت بلا كيف
“Aku pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d, Al-Auza’i tentang dalil yang berbicara tentang sifat-sifat Allah. Lalu mereka semua memerintahkan untuk mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa membagaimanakannya” (Syarhus Sunnah Al-Baghawi, hal 177/I).
Maka wajib kita mengimaninya apa adanya sesuai yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits shahih, dengan makna wajah dan tangan yang layak bagi keagungan Allah, dan tanpa mendeskripsikan bagaimana wajah maupun tangan Allah. Dan Menetapkan nama dan sifat Allah apa adanya secara hakiki, bukanlah termasuk menyerupakan Allah dengan makhluk.
Sumber : https://www.facebook.com/share/
Komentar
Posting Komentar