Evolusi Pencucian Ka’bah: Dari Masa Nabi hingga Era Raja Salman
Evolusi Pencucian Ka’bah: Dari Masa Nabi hingga Era Raja Salman
Setiap tahun, di pertengahan bulan pertama tahun Hijriah, sebuah prosesi yang telah berlangsung sejak 1440 tahun silam kembali digelar di Masjidil Haram: pembasuhan Ka’bah. Ritual ini mengikat masa kini dengan masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dipimpin langsung oleh Khadimul Haramain atau wakil yang ditunjuknya, dan disaksikan sejumlah pejabat senior negara.
Saudi Press Agency (SPA) melaporkan hari Selasa (30/06) bahwa mewakili Khadimul Haramain, Wakil Gubernur Wilayah Makkah Al-Mukarramah, Pangeran Saud bin Misy’al bin Abdul Aziz, memperoleh kehormatan membasuh Ka’bah.
Beliau membasuh bagian dalam Ka’bah dengan air Zamzam yang dicampur air mawar dan gaharu pilihan terbaik, lalu menggosok dinding bagian dalam Ka’bah dengan kain yang telah direndam dalam campuran tersebut — kain yang disiapkan sejak awal oleh Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Prosesi tahunan ini menjadi salah satu momen paling jelas yang memperlihatkan besarnya perhatian pemerintah Arab Saudi terhadap Masjidil Haram dan segala urusan yang melekat padanya. Ini juga menjadi contoh nyata bagaimana berbagai lembaga bahu-membahu menjaga warisan Islam yang terkait langsung dengan pelayanan terhadap Ka’bah — warisan yang senantiasa menyita perhatian umat Islam di seluruh dunia.
Awal Mula di Tahun Kedelapan Hijriah
Menurut Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, waktu pelaksanaan pembasuhan ini mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang membasuh Ka’bah sendiri ketika menaklukkan Makkah pada tahun kedelapan Hijriah. Sunnah ini kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin sepeninggal beliau, dan terus terjaga hingga hari ini.
Sepanjang sejarah, pembasuhan Ka’bah pada masa-masa awal berlangsung sekitar tiga kali setahun, kemudian menyusut menjadi dua kali, hingga akhirnya Arab Saudi mengumumkan pada Mei 2016 bahwa pembasuhan cukup dilakukan satu kali dalam setahun.
Keputusan itu diambil, sebagaimana dinyatakan resmi, “Demi mempertimbangkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan perluasan yang diberkahi, serta demi menjaga keselamatan para peziarah Baitullah dan memudahkan mereka menunaikan manasik dan ibadah.”
Perhatian Raja Abdul Aziz dan Para Penerusnya
Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Saud memiliki perhatian yang sangat besar terhadap Haramain. Beliau senantiasa mengajak putra-putranya turut serta dalam prosesi pembasuhan, agar kelak mereka mengikuti jejaknya.
Tradisi ini terus dijaga dengan perhatian luar biasa, tecermin dari terus disempurnakannya proses pembasuhan dan diberikannya kedudukan istimewa pada ritual ini. Hal ini ditandai dengan kehadiran langsung Raja atau wakil yang ditunjuknya untuk memimpin prosesi. Tak sedikit tokoh, pejabat senior, tamu negara, dan lainnya yang berusaha meraih kehormatan untuk turut membasuh kiblat umat Islam ini, sekaligus melaksanakan shalat di dalamnya.
Tangga Ka’bah
Pada masa kini, prosesi dimulai dengan dibukanya Ka’bah dan dipasangnya tangga yang dibuat pada tahun 2000, dilengkapi sejumlah perangkat teknologi dan pencahayaan. Setelah itu, para penjaga Ka’bah dari Bani Syaibah datang untuk membuka pintu Ka’bah
Tangga ini sendiri merupakan sebuah mahakarya rekayasa yang memadukan karakter arsitektur Islam dengan kebutuhan teknis dan fungsional yang dirancang untuk mencapai tingkat kestabilan dan keamanan tertinggi saat digunakan, sekaligus tetap mudah dipindahkan bila diperlukan.
Tangga ini juga dihiasi ukiran dan ornamen Islam yang halus, mencerminkan keindahan seni Islam, sehingga menyatukan nilai arsitektur yang tinggi dengan fungsi praktisnya.
Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengungkapkan bahwa tangga ini dibuat dari kayu jati pilihan berkualitas terbaik, dengan panjang 5,65 meter, tinggi 4,80 meter, dan lebar 1,88 meter, serta bobot mencapai 6.500 kilogram, sehingga memastikan tingkat kekokohan dan kestabilan yang maksimal.
Tahun ini, terjalin pula kemitraan antara Otoritas terkait dengan Institut Kerajaan untuk Seni Tradisional “Wirts”, dengan tujuan menonjolkan identitas nasional dalam pelayanan terhadap Dua Tanah Suci, sekaligus memperkuat kehadiran seni dan kerajinan tradisional Saudi dalam salah satu momen keimanan paling menonjol yang menyita perhatian umat Islam.
Kemitraan ini diwujudkan melalui penyediaan peralatan pembasuhan Ka’bah sesuai standar kualitas dan ketelitian tertinggi, mencakup penggunaan perangkat dari tiga cabang seni tradisional — seni logam, seni sulam tangan, dan seni pertukangan kayu — yang seluruhnya dikerjakan oleh para mahasiswa dan perajin Wirts.
Peralatan yang dihasilkan mencakup kereta dorong khusus untuk membawa dan menata perlengkapan selama prosesi pembasuhan, wadah untuk menyiapkan bahan-bahan yang digunakan, tempat penuang air, wadah penyimpan cairan, kotak penyimpanan perlengkapan, pedupaan untuk mengasapi Ka’bah dengan bukhur, tempat penyimpan tisu atau lap, serta kain khusus untuk proses membasuh dan mengeringkan.
Dalam merancang seluruh peralatan ini, ketelitian fungsional dipadukan dengan keindahan seni: setiap perangkat dihiasi ornamen yang terinspirasi dari seni Islam dan ukiran Arab yang autentik, menggunakan bahan berkualitas tinggi yang menjamin daya tahan dan keberlangsungannya.
Dari basuhan pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di tahun kedelapan Hijriah, hingga sentuhan tangan para perajin Wirts pada tahun ini, satu benang merah tetap terjaga: penghormatan yang tak pernah putus terhadap Rumah Suci, yang terus diwariskan dan diperbarui bentuknya dari generasi ke generasi, tanpa pernah kehilangan maknanya.
Setiap tahun, di pertengahan bulan pertama tahun Hijriah, sebuah prosesi yang telah berlangsung sejak 1440 tahun silam kembali digelar di Masjidil Haram: pembasuhan Ka’bah. Ritual ini mengikat masa kini dengan masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dipimpin langsung oleh Khadimul Haramain atau wakil yang ditunjuknya, dan disaksikan sejumlah pejabat senior negara.
Saudi Press Agency (SPA) melaporkan hari Selasa (30/06) bahwa mewakili Khadimul Haramain, Wakil Gubernur Wilayah Makkah Al-Mukarramah, Pangeran Saud bin Misy’al bin Abdul Aziz, memperoleh kehormatan membasuh Ka’bah.
Beliau membasuh bagian dalam Ka’bah dengan air Zamzam yang dicampur air mawar dan gaharu pilihan terbaik, lalu menggosok dinding bagian dalam Ka’bah dengan kain yang telah direndam dalam campuran tersebut — kain yang disiapkan sejak awal oleh Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Prosesi tahunan ini menjadi salah satu momen paling jelas yang memperlihatkan besarnya perhatian pemerintah Arab Saudi terhadap Masjidil Haram dan segala urusan yang melekat padanya. Ini juga menjadi contoh nyata bagaimana berbagai lembaga bahu-membahu menjaga warisan Islam yang terkait langsung dengan pelayanan terhadap Ka’bah — warisan yang senantiasa menyita perhatian umat Islam di seluruh dunia.
Awal Mula di Tahun Kedelapan Hijriah
Menurut Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, waktu pelaksanaan pembasuhan ini mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang membasuh Ka’bah sendiri ketika menaklukkan Makkah pada tahun kedelapan Hijriah. Sunnah ini kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin sepeninggal beliau, dan terus terjaga hingga hari ini.
Sepanjang sejarah, pembasuhan Ka’bah pada masa-masa awal berlangsung sekitar tiga kali setahun, kemudian menyusut menjadi dua kali, hingga akhirnya Arab Saudi mengumumkan pada Mei 2016 bahwa pembasuhan cukup dilakukan satu kali dalam setahun.
Keputusan itu diambil, sebagaimana dinyatakan resmi, “Demi mempertimbangkan proyek-proyek yang sedang berjalan dan perluasan yang diberkahi, serta demi menjaga keselamatan para peziarah Baitullah dan memudahkan mereka menunaikan manasik dan ibadah.”
Perhatian Raja Abdul Aziz dan Para Penerusnya
Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Saud memiliki perhatian yang sangat besar terhadap Haramain. Beliau senantiasa mengajak putra-putranya turut serta dalam prosesi pembasuhan, agar kelak mereka mengikuti jejaknya.
Tradisi ini terus dijaga dengan perhatian luar biasa, tecermin dari terus disempurnakannya proses pembasuhan dan diberikannya kedudukan istimewa pada ritual ini. Hal ini ditandai dengan kehadiran langsung Raja atau wakil yang ditunjuknya untuk memimpin prosesi. Tak sedikit tokoh, pejabat senior, tamu negara, dan lainnya yang berusaha meraih kehormatan untuk turut membasuh kiblat umat Islam ini, sekaligus melaksanakan shalat di dalamnya.
Tangga Ka’bah
Pada masa kini, prosesi dimulai dengan dibukanya Ka’bah dan dipasangnya tangga yang dibuat pada tahun 2000, dilengkapi sejumlah perangkat teknologi dan pencahayaan. Setelah itu, para penjaga Ka’bah dari Bani Syaibah datang untuk membuka pintu Ka’bah
Tangga ini sendiri merupakan sebuah mahakarya rekayasa yang memadukan karakter arsitektur Islam dengan kebutuhan teknis dan fungsional yang dirancang untuk mencapai tingkat kestabilan dan keamanan tertinggi saat digunakan, sekaligus tetap mudah dipindahkan bila diperlukan.
Tangga ini juga dihiasi ukiran dan ornamen Islam yang halus, mencerminkan keindahan seni Islam, sehingga menyatukan nilai arsitektur yang tinggi dengan fungsi praktisnya.
Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengungkapkan bahwa tangga ini dibuat dari kayu jati pilihan berkualitas terbaik, dengan panjang 5,65 meter, tinggi 4,80 meter, dan lebar 1,88 meter, serta bobot mencapai 6.500 kilogram, sehingga memastikan tingkat kekokohan dan kestabilan yang maksimal.
Tahun ini, terjalin pula kemitraan antara Otoritas terkait dengan Institut Kerajaan untuk Seni Tradisional “Wirts”, dengan tujuan menonjolkan identitas nasional dalam pelayanan terhadap Dua Tanah Suci, sekaligus memperkuat kehadiran seni dan kerajinan tradisional Saudi dalam salah satu momen keimanan paling menonjol yang menyita perhatian umat Islam.
Kemitraan ini diwujudkan melalui penyediaan peralatan pembasuhan Ka’bah sesuai standar kualitas dan ketelitian tertinggi, mencakup penggunaan perangkat dari tiga cabang seni tradisional — seni logam, seni sulam tangan, dan seni pertukangan kayu — yang seluruhnya dikerjakan oleh para mahasiswa dan perajin Wirts.
Peralatan yang dihasilkan mencakup kereta dorong khusus untuk membawa dan menata perlengkapan selama prosesi pembasuhan, wadah untuk menyiapkan bahan-bahan yang digunakan, tempat penuang air, wadah penyimpan cairan, kotak penyimpanan perlengkapan, pedupaan untuk mengasapi Ka’bah dengan bukhur, tempat penyimpan tisu atau lap, serta kain khusus untuk proses membasuh dan mengeringkan.
Dalam merancang seluruh peralatan ini, ketelitian fungsional dipadukan dengan keindahan seni: setiap perangkat dihiasi ornamen yang terinspirasi dari seni Islam dan ukiran Arab yang autentik, menggunakan bahan berkualitas tinggi yang menjamin daya tahan dan keberlangsungannya.
Dari basuhan pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di tahun kedelapan Hijriah, hingga sentuhan tangan para perajin Wirts pada tahun ini, satu benang merah tetap terjaga: penghormatan yang tak pernah putus terhadap Rumah Suci, yang terus diwariskan dan diperbarui bentuknya dari generasi ke generasi, tanpa pernah kehilangan maknanya.
Baca juga artikel terkait berikut :
Komentar
Posting Komentar