KOPI PINGGIR MASJID : KETIKA DIAM ADALAH SEBUAH KEPUTUSAN MORAL

KOPI PINGGIR MASJID : 
KETIKA DIAM ADALAH SEBUAH KEPUTUSAN MORAL

الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ۝٧٠

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Aḥzāb [33]:70)

Qawlan Sadīdan

“Tidak semua diam itu bijak. Kadang diam adalah kebijaksanaan; tetapi pada keadaan tertentu, diam justru menjadi cara paling nyaman untuk membiarkan kesalahan.”

Malam baru saja turun. Lampu teras masjid menyala satu per satu, sementara warung kopi di sampingnya mulai dipenuhi jamaah selepas Magrib. Televisi kecil di sudut warung menayangkan berita tanpa suara. Orang-orang lebih sibuk dengan telepon masing-masing.

Seorang lelaki tiba-tiba berkata,
“Kalau melihat sesuatu yang salah, lebih baik diam saja daripada ikut masalah.”
Temannya menatap sebentar.
“Selalu begitu?”
“Bukankah diam itu lebih aman?”
Ia mengaduk kopinya.
“Belum tentu. Kadang diam memang menyelamatkan lisan. Tapi kadang diam justru menyelamatkan kesalahan.”

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Aḥzāb [33]:70)

Ungkapan قَوْلًا سَدِيدًا - qawlan sadīdan menarik untuk diperhatikan. Sadīd bukan sekadar “benar” dalam arti tidak bohong. Ia mengandung makna perkataan yang lurus, tepat, kokoh, dan tidak menyimpang dari kebenaran.

Siyāq ayat ini juga penting. Perintah tersebut datang setelah rangkaian ayat yang membicarakan Nabi SAW, gangguan terhadap beliau, serta kewajiban menjaga hubungan dengan Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Allah mengarahkan orang-orang beriman kepada dua hal: "takwa dan perkataan yang lurus". Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengingatkan bahwa kualitas iman tidak hanya terlihat dari apa yang ada dalam hati, tetapi juga dari bagaimana seseorang menggunakan lisannya.

Karena itu, qawlan sadīdan bukan sekadar larangan berbohong. Ia adalah tuntutan moral agar perkataan tidak menjadi alat untuk memutarbalikkan keadaan, menyebarkan fitnah, menutupi kesalahan, atau menyakiti orang tanpa alasan.

Dalam penjelasan-nya Ibnu ‘Abbās,  menerangkan bahwa; qawlan sadīdan berkaitan dengan perkataan yang benar dan lurus. Perkataan semacam itu tidak dibuat untuk mempermainkan manusia, tetapi untuk menjaga kebenaran.

Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam". (HR. Bukhari dan Muslim).

Perhatikan: berkata baik atau diam.
Bukan “diam selalu”.

Ada waktunya diam lebih baik daripada berbicara. Tetapi ada pula keadaan ketika kebaikan justru menuntut seseorang berbicara.

Diam ketika tidak tahu adalah kebijaksanaan. Diam ketika emosi adalah pengendalian diri.
Diam ketika ucapan hanya akan memperkeruh keadaan adalah kedewasaan.

Tetapi diam ketika seseorang dizalimi, ketika kebohongan sedang disebarkan, atau ketika kesalahan membutuhkan peringatan, bisa menjadi persoalan moral yang berbeda.

Secara psikologis, manusia sering memilih diam bukan karena bijaksana, tetapi karena ingin menghindari ketidaknyamanan. Berbicara memiliki risiko: mungkin tidak disukai, dianggap sok tahu, kehilangan teman, atau masuk ke dalam konflik.

Maka kadang kalimat “Saya memilih diam” terdengar luhur, padahal di belakangnya tersembunyi kalimat yang lebih jujur; “Saya tidak ingin repot.”

Warung semakin ramai.
Lelaki tadi kembali bertanya :

“Jadi kapan kita harus bicara?”
“Ketika diam membuat keburukan semakin aman.”
“Dan kapan harus diam?”
“Ketika bicara hanya membuat ego kita merasa menang.”
Ia tertawa kecil.
“Berarti yang sulit bukan bicara atau diam.”
“Ya.”
“Apa?”
“Mengetahui mana yang benar-benar dibutuhkan.”

Di sinilah makna tersembunyi dibalik teks ayat ini terasa: lisan bukan hanya alat komunikasi, tetapi amanah moral. Karena itu, keputusan untuk berbicara maupun diam sama-sama membutuhkan pertanggungjawaban.
Ada orang yang banyak bicara tetapi tidak pernah mengatakan kebenaran.
Ada pula orang yang sangat sedikit bicara, tetapi ketika waktunya tiba, satu kalimatnya mampu menghentikan kesalahan.

Maka jangan terlalu cepat memuji orang yang diam. Dan jangan pula terlalu cepat mencurigai orang yang berbicara.

Tanyakan terlebih dahulu:
Apakah diamnya menjaga kebenaran, atau hanya menjaga kenyamanan dirinya?

Dan ketika hendak berbicara:
Apakah perkataannya memperbaiki keadaan, atau sekadar memenangkan dirinya sendiri?
Sebab dalam pandangan Al-Qur’an, persoalannya bukan sekadar bicara atau diam.

Yang lebih penting adalah ; apakah yang keluar dari diri kita merupakan qawlan sadīdan, -  perkataan yang lurus, benar, dan bertanggung jawab?

Baca juga :

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah