APAKAH BENAR IBN SINA (AVICENNA) ADALAH SEORANG SYIAH?

APAKAH BENAR IBN SINA (AVICENNA) ADALAH SEORANG SYIAH? 

Ibnu Sina, atau nama lengkapnya Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina, lahir di Bukhara, Timur Tengah pada tahun 980 Masih atau setara dengan 370 Hijriah. Ia dikenal sebagai Avicenna di dunia Barat. Ia wafat pada tahun 1037 Masih di Hamadan, Iran. Ia menghafal Al-Quran sejak muda sebelum menguasai ilmu logika, filsafat, dan kedokteran, yang juga sejak muda. 

Dia adalah seorang dokter, matematikawan, ahli pengobatan, dan filsuf yang sangat terkenal, dan kontribusinya di bidang-bidang ini diakui oleh seluruh dunia hingga saat ini. 

Dikisahkan bahwa suatu hari raja Bukhara terserang penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh semua tabib istana. Ibnu Sina dibawa ke istana dan ditakdirkan bahwa ia berhasil menyembuhkan penyakit tersebut. Sebagai ucapan terima kasih, raja membuka perpustakaan kerajaan khusus untuk Ibnu Sina yang kemudian memperkenalkannya lebih dalam pada dunia ilmu pengetahuan dan filsafat. [1] 

Komentar Para Cendekiawan tentang Ibnu Sina 

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah termasuk ulama yang memiliki pendapat paling keras terhadap Ibnu Sina. Menurutnya, Ibnu Sina memiliki akidah Qaramitah Bathiniyyah yang tidak percaya pada prinsip-prinsip dasar Islam, hari kiamat, tidak percaya kepada Allah SWT sebagai Pencipta dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan yang diutus oleh Allah. (Lihat Ighasah al-Lahafan 2/266). Bahkan, ulama Syiah sendiri seperti Qadi Nurullah Mar'ashi melalui tulisannya Majalis al-Mu'minin menyatakan bahwa mazhab Ibnu Sina adalah Syiah Ismailiyyah. (Lihat A'yan al-Syi'ah 1/160) 

Suatu ketika beliau ditanya tentang Ibnu Sina, dan beliau mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa haram bagi kita untuk mengelompokkannya sebagai salah satu ulama Islam, juga haram bagi seseorang untuk membaca buku-bukunya karena hanya akan menimbulkan fitnah dan keraguan terhadap pemahaman agama seseorang; bahkan ia adalah setan yang berwujud manusia. Beliau menambahkan bahwa Ibnu Sina adalah pemimpin kaum ateis. (Lihat al-Sowa'iq al-Mursalah 3/1105) 

Sementara Ibn Hajar al-'Asqalani mewajibkan kita untuk menjauhkan diri dari kekafirannya, serta berhati-hati terhadap bid'ah dan penyimpangannya. Para ulama pada zamannya dan sesudahnya berbicara tentang kekafirannya dan kekafiran al-Farabi, tetapi ada pendapat yang menyatakan bahwa Ibn Sina telah bertaubat. Maka, kita berdoa semoga ia mendapat kesempatan untuk bertaubat kepada Allah SWT dan semoga semua dosanya diampuni. (Lihat Lisan al-Mizan 2/293) 

Imam Hujjah al-Islam al-Ghazali menulis sebuah buku khusus untuk menjelaskan penyimpangan dan kekafiran beberapa doktrin filosofis yang dibawa oleh para filsuf Muslim seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Beliau mencantumkan 17 akidah filosofis yang dinilai sebagai bid'ah, dan 3 yang mengarah kepada kekafiran, yaitu: 

  • Percayalah bahwa Allah SWT hanya mengetahui kulliyat (hal-hal universal), dan tidak mengetahui juz'iyyat. 
  • Percayalah bahwa alam semesta ini adalah qadim, dan telah ada sejak zaman dahulu kala, yang bertentangan dengan akidah Islam yang menyatakan bahwa alam semesta ini adalah hadits (baru). 
  • Percayalah bahwa manusia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat hanya dalam bentuk ruh tanpa tubuh fisik. (Lihat Tahafut al-Falasifah 1/307-308) 

Sementara al-Imam al-Zahabi menulis bahwa ayah Ibnu Sina adalah seorang penulis mazhab Syiah Ismailiyah, yang menulis banyak buku dalam bidang kedokteran, filsafat, dan logika. Namun, ia juga mengutip pendapat Ibnu Khallikan bahwa Ibnu Sina telah bertaubat dari kesalahannya, memberikan sedekah kepada fakir miskin, mengembalikan hak-hak orang yang ditindasnya, membebaskan budaknya, menyelesaikan membaca Al-Quran setiap tiga hari sekali, dan wafat pada hari Jumat di bulan Ramadhan. Diriwayatkan bahwa ia mengucapkan sebuah puisi: 

“Amal terbaik adalah shalat, keheningan terbaik adalah puasa, amal kebaikan yang paling bermanfaat adalah sedekah, hati yang paling suci adalah hati yang memiliki pemahaman yang baik, amal terburuk adalah riya', dan kamu tidak akan pernah membersihkan jiwamu jika kamu menyibukkan diri dengan perdebatan, amal terbaik adalah amal yang berasal dari niat yang murni, dan niat terbaik adalah niat yang berasal dari ilmu.” (Lihat Siyar A'lam Al-Nubala' 17/531-535) 

Sementara itu , al-Imam al-Shahrastani – seorang ahli akidah dan kepercayaan – mengakui Ibnu Sina sebagai filsuf Aristoteles terbaik, yang memiliki metodologi dan teori terdalam. (Lihat Al-Milal wa al-Nihal 2/157). 

Sementara al-Imam Ibn Kathir mengakui dia sebagai ahli kedokteran pada zamannya. Mempelajari dan menguasai ilmu Al-Quran sejak usia sepuluh tahun, kemudian mempelajari dan menguasai matematika, aljabar, Euklides [2] dan gagasan Ptolemy [3]. Masyarakat pada zamannya mengakui pengetahuannya dan bahkan belajar darinya sejak usia 16 tahun. 

Kemudian, beliau menguasai metafisika (ilahiyyat/teologi) dan fisika, dan menurut Ibnu Khallikan, tulisannya mencapai 100 buku; besar maupun kecil, di antaranya adalah al-Qanun fi al-Tibb, al-Shifaa, al-Najat, al-Isyarat wa al-Tanbihat, Salaman dan lain-lain. Ibnu Khallikan juga mengakui beliau sebagai salah satu filsuf Muslim. Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa sebelum wafat, beliau sempat bertaubat dari akidah sesat yang dianutnya semasa hidupnya, dan hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui. (Lihat Al-Bidayah wa al-Nihayah 12/53-54) 

Kesimpulan 

Oleh karena itu, bukan hanya satu, tetapi sejumlah ulama yang menyatakan tentang penyimpangan akidah Bathiniyyah Qaramitah dan Isma'iliyyah yang dianutnya serta filsafat teologis yang dibawa oleh Ibnu Sina melalui buku-bukunya. 

Namun, perdebatan dan perselisihan yang berlebihan di masa lalu tidak memberikan manfaat besar. Terutama ketika tidak ada keterlibatan dalam ajaran agama seperti tauhid, fiqih, dan hadits. Namanya tidak pernah disebutkan dalam ilm al-rijal (para perawi hadits) dan al-jarh wa al-ta'dil . Jadi, mengukuhkan keyakinan Ibnu Sina tidak memiliki hubungan maupun pengaruh langsung terhadap Islam. 

Suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang pendiriannya mengenai perselisihan para Sahabat selama perang Siffin dan Jamal. Imam Ahmad menyadari bahwa perdebatan dan pertanyaan-pertanyaan itu tidak bermanfaat, maka beliau menjawabnya dengan firman Allah SWT: 

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

Itu adalah bangsa yang telah berlalu. Ia akan menanggung konsekuensi dari apa yang telah ia peroleh, dan kamu akan menerima apa yang telah kamu peroleh. Dan kamu tidak akan ditanya tentang apa yang dulu mereka lakukan. (Surah al-Baqarah 134) 

Ibnu Sina telah wafat dan meninggalkan kontribusi yang sangat besar bagi dunia Muslim khususnya dan bagi seluruh umat manusia pada umumnya, terutama di bidang kedokteran. Kekurangan dalam keyakinannya tidak menghalangi kita untuk mengambil manfaat dari ilmu kedokteran yang diwariskan kepada kita. 

Kami tidak mengambil sikap terhadap akidah dan filsafat teologis yang terdapat dalam tulisannya yang menyimpang dari ajaran Islam otentik yang dibawa oleh para nabi, yang kemudian dilanjutkan oleh para ulama. Namun, kami tetap berpegang pada pemikiran yang baik bahwa Ibnu Sina memiliki kesempatan untuk bertaubat dari akidah filosofis yang bertentangan dengan ajaran Islam sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir, Ibnu Khallikan dan Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani, dan semoga taubatnya diterima oleh Allah SWT. 

Wallahua'lam.

https://www.muftiwp.gov.my/

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah