Mengapa Sunni dan Syiah Berbeda dalam Memandang Sahabat?

Mengapa Sunni dan Syiah Berbeda dalam Memandang Sahabat? 

Banyak orang mengira perbedaan Sunni dan Syiah hanyalah konflik politik dalam sejarah Islam. 

Padahal sebenarnya masalahnya adalah perbedaan cara menceritakan sejarah setelah wafatnya Nabi Muhammad. 

Karena ceritanya berbeda, maka tokoh yang dianggap pahlawan oleh satu kelompok bisa dianggap penjahat oleh kelompok lain. 

Narasi Ahlusunnah 

Dalam narasi Ahlusunnah, setelah Nabi wafat umat Islam menghadapi kekosongan kepemimpinan. 

“Nabi sudah tidak ada, Ini siapa yang akan jadi pemimpin selanjutnya ? ” 

Sebab Nabi tidak pernah menunjuk siapa pengganti beliau, maka dari itu Para sahabat berkumpul dan bermusyawarah, lalu memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama. 

Kemudian kepemimpinan dilanjutkan oleh:
Umar ibn al-Khattab
Uthman ibn Affan
Ali ibn Abi Talib 

Dalam cerita ini, para sahabat dipandang sebagai generasi terbaik yang berusaha menjaga umat setelah wafatnya Nabi. 

Narasi Syiah Iran (Imamiyyah) 

Namun dalam narasi Syiah, ceritanya berbeda sejak awal. 

Mereka meyakini Nabi sebenarnya telah menunjuk Ali ibn Abi Talib sebagai pemimpin umat setelah beliau. Serta seringkali mewasiatkan bahwa Ali harus jadi pemimpin. 

Karena itu ketika yang menjadi khalifah justru Abu Bakar, lalu Umar ibn al-Khattab, dan Uthman ibn Affan, peristiwa ini dipandang sebagai merampas kepemimpinan dari keluarga Nabi. 

Menurut Syiah kepemimpinan seharusnya jatuh kepada ahli waris sebagaimana Nabi Dawud Mewariskan Kerajaan kepada Nabi Sulaiman. 

Nabi Muhammad juga mewariskan Kekhalifahannya kepada Ali bukan kepada selainnya. 

Dalam sudut pandang ini, sejarah awal Islam bukan cerita musyawarah yang berhasil, tetapi kisah hilangnya hak kepemimpinan Ahlul Bait, kisah dimana mayoritas manusia bahkan para sahabatnya sendiri telah mengkhianati wasiat Nabi. 

Mengapa sampai mencaci sahabat? 

Karena narasi dasarnya sudah berbeda. 

Jika seseorang percaya bahwa kepemimpinan sebenarnya milik Ali ibn Abi Talib, maka kepemimpinan yang jatuh kepada Abu Bakr, lalu Umar ibn al-Khattab, dan Uthman ibn Affan dipandang sebagai sesuatu yang tidak sah. 

Dari sini lahirlah sikap yang tidak hanya menolak kepemimpinan mereka, tetapi dalam kitab-kitab Syiah Imamiyah (Iran) bahkan sampai pada pengkafiran dan pelaknatannya. 

Gelombangnya kemudian melebar. Tidak berhenti pada tiga khalifah itu saja. Para sahabat yang berdiri bersama mereka ikut terseret dalam arus tuduhan. 

Nama-nama besar seperti Abu Hurairah, Aisha, dan Talhah ibn Ubaydillah kerap dijadikan sasaran kritik keras dalam tradisi Syiah, bahkan sampai digambarkan sebagai pihak yang menyimpang dari jalan Ahlulbait. 

Dampaknya apa ? 

Ribuan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah dan Abu Hurairoh tertolak semua dan hingga kini tidak kita dapati dalam kitab-kitab Syiah. 

Kenapa ? 
Karena Aisyah Kafir
Abu Hurairah Kafir 

Ironinya, pada saat yang sama muncul pula pemuliaan terhadap orang yang justru menumpahkan darah salah satu sahabat terbesar Nabi. 

Misal Pembunuh Umar ibn al-Khattab, saat beliau solat tiba tiba ditikam oleh Abu Lu’lu’a, 

Dalam sebagian tradisi Syiah Persia tidak hanya dikenang sebagai pelaku pembunuhan.  Ia justru diberi gelar “Bābā Shujāʿ al-Dīn” seorang pahlawan yang berjasa bagi agama. 

Kuburan yang diziarahi dan dihormati oleh kalangan Syiah. 

Padahal fakta sejarahnya sangat jelas bahwa Abu Lu’lu’a adalah seorang Majusi Persia, bukan sahabat Nabi, yang membunuh seorang khalifah agung, Umar ibn al-Khattab, salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Islam. 

Bagaimana Pandangan Syiah tentang mereka ? 

Dalam pandangan Syiah Abu Bakar dan Umar selayaknya Samiri, sosok pengikut Nabi Musa yang membuat berhala. 

Adapun isteri-isteri Nabi seperti Aisyah dan Hafsah bukan jaminan orang baik, dipandang durhaka sebagaimana Isteri Nabi Luth yang kafir. 

Sebagian Syiah Imamiyyah (Syiah Iran) meyakini al-Qur’an hari ini tidak asli dengan alasan al-Qur’an sekarang sudah dirubah oleh para sahabat yang murtad sebagaimana Taurat dan Injil yang dirubah oleh pengikut Nabi Musa dan Isa setelah wafatnya. 

Umar bin Khattab menaklukkan Kekaisaran Sasaniyah Persia 

Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab (634–644 M), kekhalifahan Islam berhasil menaklukkan Kekaisaran Sasaniyah Persia, salah satu adidaya dunia saat itu. Melalui strategi brilian dan pasukan, wilayah seperti Irak, Iran, Azerbaijan, hingga Armenia berhasil dikuasai dalam waktu kurang dari dua tahun.  


Kekhalifahan Umar terkenal karena penaklukan yang luas. Dengan dibantu oleh komandan lapangan yang brilian, ia mampu menggabungkan Irak, Iran, Azerbaijan, Armenia, Georgia, Suriah, Yordania, Palestina, Lebanon, Mesir, dan bagian dari Afghanistan, Turkmenistan dan Pakistan barat daya ke dalam Khilafah. Selama masa pemerintahannya, Bizantium kehilangan lebih dari tiga perempat wilayah mereka dan di Persia, dan Umar adalah raja (penguasa) Kekaisaran Sassaniyah sebelum gelar itu dihapuskan.[1] Sejarawan memperkirakan lebih dari 4.050 kota ditaklukkan Umar. 

Sumber video : https://youtu.be/

Menurut syi'ah AlMahdi akan membongkar makam 2 sahabat tercinta nabi. 

Imam Mahdi mengeluarkan jasad Abu Bakar dan Umar dari kuburan mereka berdua lalu menyalib keduanya menurut kitab ajaran syiah. 

Ni'matullahi al-Jazaairi membawakan dialog yang panjang antara al-Mufadhol dan Imam Jaafar As-Sadiq hingga pada pertanyaan
Al-Mufaddhol bertanya : 

"Wahai tuanku, ke manakah al-Mahdi akan berjalan?”, Ia (As-Sadiq) berkata, “Ia pergi ke kota kakekku Rasulullah SAW (Madinah), maka jika ia telah sampai ke Madinah maka ia memiliki kedudukan yang menakjubkan. Nampaklah kegembiran kaum mukminin dan kehinaan orang-orang kafir”. 

Al-Mufaddhol berkata, “Tuanku, apakah itu?”. Ia (As-Sadiq) berkata, “al-Mahdi pergi ke kuburan kakeknya dan berkata, “Wahai manusia, ini adalah kuburan kakekku?”, mereka berkata, “Benar, wahai Mahdi Alu Muhammad”. Ia berkata, “Siapakah yang bersamanya di kuburan?”, mereka mengatakan, “Kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar”. Maka Mahdi berkata –padahal ia lebih tahu-, “Siapa Abu Bakar dan Umar?, bagaimana kok di antara manusia mereka berdua bisa dikuburkan bersama kakekku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam?, jangan-jangan yang dikuburkan bukanlah mereka berdua?”. 

Orang-orang berkata, “Wahai Mahdi ali Muhammad, yang ada di sini mereka berdua, bukan yang lain, dan mereka berdua dikuburkan bersama Nabi karena mereka berdua adalah khalifah Rasulullah, dan mereka berdua adalah ayah mertua dari dua istri Rasulullah”. 

Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian mengenal mereka berdua?”. Orang-orang berkata, “Iya, kami mengenal sifat-sifat mereka berdua”. Mahdi berkata, “Apakah salah seorang dari kalian ragu tentang dikuburkannya mereka berdua di sini?’, orang-orang berkata, “Tidak”. Lalu setelah tiga hari al-Mahdi memerintahkan untuk menggali kuburan mereka berdua dan mengeluarkan keduanya. Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) pun dikeluarkan masih segar sebagaimana bentuk mereka berdua di dunia, lalu Mahdi membuka kafan keduanya, lalu memerintahkan untuk mengangkat keduanya di atas pohon yang kering, lalu keduanya disalib di atas pohon tersebut, maka pohon tersebut bergerak dan mengeluarkan dedaunan serta meninggi dan memanjang cabang-cabangnya. Maka orang-orang yang ragupun –dari kalangan yang berwalaa’ kepada mereka berdua- berkata, “Demi Allah sungguh ini benar-benar merupakan kemuliaan, sungguh kami telah beruntung mencintai mereka berdua dan berwala’ kepada mereka berdua”. Maka tersebarlah kabar mereka berdua, maka setiap orang yang memiliki rasa cinta kepada mereka berdua –meskipun hanya sebesar biji sawi- maka datang ke kota Madinah, lalu merekapun terfitnah dengan keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu seorang penyeru Mahdi berseru, “Kedua orang ini adalah telah bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka barangsiapa yang mencintai mereka berdua maka hendaknya berkumpul di suatu tempat, dan barang siapa yang membenci mereka berdua agar berkumpul juga di suatu tempat”. 

Maka manusiapun terbagi menjadi dua golongan, antara yang berwala dan yang membenci. Maka Mahdipun menunjukkan kepada para pecinta keduanya bahwa ia berbaroah (berlepas diri) dari mereka berdua. Maka mereka berkata, “Wahai Mahdi, kami tidak pernah berlepas diri dari mereka berdua, dan kami tidak pernah mengetahui bahwasanya ternyata mereka berdua memiliki kemuliaan seperti ini, maka bagaimana bisa kami berlepas diri dari mereka berdua, padahal kami telah melihat apa yang telah kami saksikan dari mereka berdua sekarang ini berupa cahaya mereka berdua, segarnya mereka berdua, serta hidupnya pohon yang kering dikarenakan mereka berdua?, bahkan demi Allah justru kami berlepas diri dari engkau dan dari orang-orang yang beriman kepadamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada mereka berdua dan dari orang-orang yang menyalib mereka berdua dan mengeluarkan mereka berdua dan melakukan apa yang telah dilakukan kepada keduanya”. 

Maka Mahdipun memerintahkan angin yang menjadikan mereka seperti batang-batang korma yang tumbang, lalu Mahdi memerintahkan untuk menurunkan mereka berdua lalu menghidupkan mereka berdua dengan izin Allah, lalu memerintahkan manusia untuk berkumpul lalu mahdi menegakan qisos kepada mereka (yakni pembenci AUU)” (Al-Anwaar An-Nu'maniyah 2/52) 

Jadi jelaskan kitab syiah ni menerangkan Abu Bakar dan Umar dlm kedudukan suci dan mulia kerna pokok pn tumbuh segar kerana Allah nak tunjukkna kemuliaan mereka. 

Walaupun terlihat bagi kelompok Nashibi dan Khawarij bahawa Imam Mahdi Syiah itu terlihat zalim kerana membongkar makam sahabat, tapi ada hikmah disini yang mana tujuan Allah hal ini terjadi adalah untuk membuktikan kebenaran Abu Bakar dan Umar disisi Islam. 

Imam mahdi nak buktikan bahawa sesiapa yg pernah berkata Abu Bkar dan Umar itu munafik atau kafir, maka pembenci AUU akan menyedarinya siapa yg benar siapa yg salah. Bahawasanya pembenci AUU adalah salah selama ini dan nyatalah Abu Bakar dan Umar dalam kelompok orang beriman yg mulia disisi Allah. 

Rafidhah, siap sedia untuk menerima Qisosnya nanti jika kamu taknak sadar dari kesilapan mereka. 

Kesimpulan: 

Perbedaan Sunni dan Syiah sebenarnya berasal dari dua cerita sejarah yang berbeda setelah wafatnya Nabi. 

Versi Sunni:
Para sahabat bermusyawarah dan memimpin umat dengan ijtihad. 

Versi Syiah:
Kepemimpinan seharusnya milik Ali dan keturunannya, tetapi diambil oleh sahabat lain. 

Karena ceritanya berbeda, maka penilaian terhadap tokohnya juga menjadi sangat berbeda. 

————— 

Sumber : 

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah