Benarkah kaum Syiah melarang shalat di belakang kaum Sunni?

Benarkah kaum Syiah melarang shalat di belakang kaum Sunni? 

Salah satu isu yang sering menimbulkan kekhawatiran di kalangan umat Islam adalah bagaimana sikap Syiah terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam hal ibadah. Pertanyaan besar yang muncul adalah: Apakah Syiah melarang shalat di belakang imam Sunni? Jawabannya, menurut literatur Syiah sendiri, adalah bahwa Syiah memiliki pandangan ekstrem yang pada dasarnya tidak mengizinkan shalat berjamaah di belakang imam Sunni , karena mereka menganggap shalat tersebut tidak sah. 

1. Pandangan Ulama Syiah tentang Salat di Balik Pandangan Sunni 

Dalam banyak kitab referensi Syiah, dinyatakan bahwa shalat berjamaah di belakang seorang Sunni tidak sah. Hal ini didasarkan pada keyakinan Syiah bahwa: 
  • Imam salat harus berasal dari sekte Syiah dan mengikuti mazhab Ahlul Bayt. 
  • Sunni dianggap tidak memenuhi persyaratan imam , dan sering dicap sebagai kafir atau bid'ah. 
  • Konsep "jemaah" bagi Syiah hanya berlaku dalam lingkaran internal mereka, bukan dengan umat Muslim secara umum. 
Imam Khomeini dalam Tahrir al-Wasilah menegaskan bahwa tidak sah untuk berdoa bagi seorang Sunni , kecuali dalam keadaan darurat yang membutuhkan penyamaran ( taqiyyah ). 

Mereka saling bertaqiyyah ? simak video berukut :

2. Konsep Taqiyyah dalam Praktik Ibadah 

Kaum Syiah memang memiliki doktrin khusus yang disebut taqiyyah , yaitu berpura-pura atau menyembunyikan keyakinan demi keselamatan pribadi atau demi dakwah. Dalam konteks salat, jika seorang Syiah berada di tengah mayoritas Sunni dan khawatir menimbulkan masalah, maka ia dapat salat di belakang imam Sunni. Namun salat tersebut tidak dimaksudkan sebagai salat yang sah, melainkan hanya sebagai bentuk penyamaran. 

Artinya, mereka sebenarnya tidak mengakui keabsahan doa di kalangan Sunni , kecuali sebagai sebuah sandiwara. 

3. Bertentangan dengan Prinsip Persaudaraan Islam 

Sikap Syiah ini jelas bertentangan dengan prinsip persaudaraan yang diajarkan dalam Islam. Nabi ﷺ bersabda: 

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

“Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dalam Islam, syarat sahnya seorang pemimpin salat adalah ia seorang Muslim, berwawasan luas, dan mengetahui cara salat. Tidak ada persyaratan tambahan untuk berasal dari kelompok tertentu. Para sahabat dan tabi'in biasa salat di belakang siapa pun dari komunitas Muslim tanpa fanatisme kelompok. 

4. Bahaya Pemahaman Syiah 

Jika ajaran Syiah ini dibiarkan menyebar, dampaknya sangat berbahaya: 
  • Perpecahan dalam komunitas : karena jemaah Syiah akan membentuk kelompok eksklusif dan menolak untuk bersatu dalam ibadah dengan umat Muslim. 
  • Ketidakpercayaan itu terselubung : dengan menolak imam-imam Sunni, itu berarti bahwa Syiah menganggap Sunni tidak sah sebagai Muslim yang sempurna. 
  • Merusak ukhuwah : meskipun Islam memerintahkan untuk memperkuat shaf, bukan untuk mematahkannya. 
Allah ﷻ berfirman: 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat : 10) 

Ayat ini menegaskan bahwa semua Muslim adalah bersaudara tanpa terkecuali, dan salat berjamaah adalah simbol persatuan, bukan perpecahan. 

5. Kesimpulan 

Fakta dari literatur Syiah menunjukkan bahwa kaum Syiah tidak mengakui keabsahan shalat di belakang imam Sunni . Sekalipun ada pengecualian, itu hanya dalam kerangka taqiyyah , bukan pengakuan yang tulus. Sikap ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang murni, yang menekankan persaudaraan dan persatuan umat manusia dalam beribadah. 

Kaum Sunni hendaknya berhati-hati, karena ajaran ini dapat menjadi pintu bagi semakin melebarnya perpecahan jika tidak dipahami dengan benar. 

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah