Ajaran Syiah menghina dan menyatakan Ahlus Sunnah sebagai orang kafir.

Sumber video : https://youtu.be/kXHB4-g



Baca berita berikut :

Ajaran Syiah menghina dan menyatakan Ahlus Sunnah sebagai orang kafir. 

Oleh: Ust. Purnomo WD 

"Akidah Syiah terhadap umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah akidah yang penuh kebencian dan penghinaan, bahkan sampai pada kemurtadan dan diperbolehkannya pertumpahan darah dan harta benda"

Kepercayaan Syiah Melawan Sunni 

Akidah Syiah terhadap Muslim Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah akidah yang penuh kebencian dan fitnah, bahkan sampai pada kekafiran dan legalisasi darah dan harta benda. Menurut keyakinan mereka, kekafiran Ahlus Sunnah lebih besar daripada kekafiran Yahudi dan Kristen. Mengapa demikian? Menurut mereka, kekafiran Yahudi dan Kristen adalah kekafiran asal, sedangkan kekafiran Ahlus Sunnah disebabkan oleh kemurtadan. Dan menurut ijma', kekafiran akibat kemurtadan lebih besar daripada kekafiran asal. 

Di sini kami menyebutkan beberapa keyakinan mereka tentang Ahlus Sunnah yang berasal dari perkataan para ulama mereka yang tertulis dalam kitab-kitab mereka sendiri. 

1. Syekh Husain bin Ali ‘Ushfur al-Dararial-Bahrani dalam kitabnya, al-Mahasin al-Nafsaniyyah fii Ajwibah al-Masaa-il al-Khurasaaniyyah , hal. 17: Kaum Syi’ah menyebut kaum Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan al-Naashibah . Menurut kepercayaan Syiah, mereka lebih najis dibandingkan anjing dan lebih menghujat dibandingkan Yahudi dan Nasrani. 

Dia berkata, 

بَلْ اَخْبَارُهُمْ عَلَيْهِمُ السَّلامُ تُنَادِي بِأَنَّ النَّاسِبَ هُوِ yang dia katakan kepadanya adalah matahari 

"Bahkan berita dari mereka (para imam) 'alaihis salam menyebutkan bahwa al-Nashib adalah kelompok yang dikenal di kalangan mereka sebagai Sunni".

2. Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, Vol. 101, hlm. 85: Abu Abdillah berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Tinggi , pertama-tama melihat orang-orang yang mengunjungi makam Husain bin Ali pada sore hari Arafah.” Beliau ditanya, “(Apakah itu) sebelum melihat orang-orang yang berdiri?” Beliau menjawab, “Ya.” Beliau ditanya lagi, “Bagaimana mungkin?” Beliau menjawab ;

"Karena di antara mereka (orang-orang yang berwukuf di Arafah) ada anak-anak hasil zina, sedangkan di antara mereka (jamaah haji ke makam Husain) tidak ada anak-anak hasil zina" 

Syiah menuduh Ahlus Sunnah sebagai anak-anak hasil perzinahan... 

3. Al-Kulaini, dalam al-Raudhah min al-Kaafi , Vol. 8, hal. 285, menyebutkan riwayat Abu Abdillah yang berkata kepada Abu Hamzah: 

وَاللهِ يَا أَبَا حَمْزَةَ, إِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَولادُ زِنَا مَا خَلا شِيْعَتُنَا 

“ Demi Allah, wahai Abu Hamzah, seluruh umat manusia adalah anak-anak pelacur kecuali kaum Syiah kami. ” [1]  

4. Muhammad al-Tijani, dalam bukunya al-Shi'ah Hum Ahlus Sunnah , hlm. 161, secara lebih terbuka menyatakan bahwa al- Nawasib (yang mereka kafir dan tentang) adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Beliau berkata, 

وَعُنِِيَ عَنِ التَّعْرِيْفِ بِأَنَّ مَذْهَبَ النَّوَاصِبَ هُوَ مَذهَبُ ((Ahlِ السُّنَةِ وَالْجَمَعَةِ))) فَنَاصِرُ مَذهَبِ النَّوَاصِبِ اَلْمُتَوَكِّل هُوَ نَفْسُهُ (( مُحْيِي السَُّنَّةِ )) فَافْهَم 

"Dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut bahwa mazhab al-Nawashib adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dan al-Mutawwil adalah pembela mazhab Al-Nawashib, beliau sendiri menyandang gelar muhyis sunnah (pemegang sunnah seumur hidup), jadi pahamilah".

Menurut keyakinan al-Tijani, mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah mereka yang menyimpang dari keluarga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam . Ia menyebut al-Mutawwil sebagai tokoh utama al-Nawashib (musuh) Ali dan Ahlul Bayt. Rasa irinya bahkan sampai pada titik menghancurkan makam Husain, melarang orang mengunjunginya, dan membunuh orang-orang yang menggunakan nama Ali. Al-Khawirizmi dalam Rasail-nya menyebutkan bahwa al-Mutawakkil tidak akan memberikan harta atau bantuan kecuali kepada mereka yang mengkritik keluarga Ali bin Abi Talib dan membela mazhab al-Nawashib. 

(Namun, ini hanyalah tuduhan dari al-Tijani yang menunjukkan kesombongan dan kebenciannya terhadap kaum Muslim Ahlus Sunnah wal Jama'ah). 

5. Muhammad al-'Ayasyi, dalam tafsirnya al-'Ayasyi, Jilid 2, hlm. 398, mengutip sebuah riwayat dari Ibrahim bin Abi Yahya. Dari Ja'far bin Muhammad, beliau berkata: "Tidak ada seorang pun yang lahir kecuali ada Iblis yang datang kepadanya. Jika Allah mengetahui bahwa ia berasal dari Syiah kita, maka Allah akan menutupinya dari setan itu. Dan jika ia bukan dari Syiah kita, maka setan akan memasukkan jari telunjuknya ke dalam anusnya, lalu ia akan menjadi orang jahat, oleh karena itu penisnya akan keluar di depan. Dan jika itu seorang wanita, setan akan memasukkan jari telunjuknya ke dalam alat kelaminnya sampai ia menjadi pezina." Saat itulah bayi akan menangis keras jika keluar dari rahim ibunya. Dan setelah itu, Allah akan menghilangkan dan menegakkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya ada Ummul Kitab." 

Menurut Syiah, wanita Ahlus Sunnah adalah pelacur... 

6. Ni'matullah al-Jazairi, dalam al-Anwar al-Nu'maniyah , 2/307: Bahwa kaum Syiah menganggap darah dan harta Ahlus Sunnah wal Jama'ah halal, yaitu membunuh dan mengambil harta mereka. Diriwayatkan oleh al-Shaduq, ia bertanya kepada Abu Abdillah, "Apa pendapatmu tentang membunuh seorang al-Nashib (Ahlus Sunnah)?" Ia menjawab, "Darahnya halal (diperbolehkan membunuhnya), tetapi aku khawatir tentang keselamatanmu. Jika kamu bisa, robohkan tembok (yang menghalangi) dia atau tenggelamkan dia di air sehingga dia tidak dapat memberikan kesaksian (yang memberatkan) terhadapmu, maka lakukanlah." Aku bertanya lagi, "Apa pendapatmu tentang hartanya?" Ia menjawab, "Ambillah sebanyak mungkin hartanya yang bisa kamu ambil." 

7. Ni'matullah al-Jazaairi, dalam Nuur al-Barahin , hlm. 57, menyatakan bahwa sekte-sekte yang menentang sekte Imamiyyah, berdasarkan banyak teks, menunjukkan bahwa mereka akan tetap berada di neraka. Dan pernyataan iman mereka sama sekali tidak berguna kecuali untuk melindungi darah dan harta benda mereka serta menerapkan hukum-hukum Islam yang berlaku bagi mereka. 

Catatan Penulis: Bagi kaum Syiah, semua Muslim adalah Nawashib, karena mereka tidak memprioritaskan Ali di atas Abu Bakr dan Umar, kecuali kaum Syiah. 

Kaum Syiah menuduh Ahlus Sunnah sebagai orang kafir dan akan tetap berada di neraka. Hingga darah mereka tertumpah secara sah dan harta benda mereka dirampas secara sah... 

8. Yusuf al-Bahrani, dalam al-Hadaa-iq al-Nadhirah fi Ahkaam al-'Ithrah al-Thaahirah , hlm. 136 dalam Bab "Orang yang berselisih (Syiah), sesungguhnya bukanlah seorang Muslim. Dan sesungguhnya orang yang berselisih (Syiah) adalah orang kafir." Beliau tidak membedakan antara kekafiran kepada Allah dan kekafiran kepada para imam, dengan alasan bahwa imamah adalah masalah usuluddin (inti agama) berdasarkan teks ayat dan hadits yang sangat jelas. Di antara pernyataannya, 

"Pertama: kalian telah mengetahui bahwa mereka yang berselisih (Syiah) adalah orang-orang kafir, tidak memiliki bagian dalam Islam dari berbagai sisi, sebagaimana telah kami tegaskan dalam kitab kami al-Shihab al-Shaqib." 

Catatan Penulis: Inilah cara Syiah dengan mudah menuduh orang-orang yang mereka sebut Wahhabi sebagai kafir. Jangan heran jika mereka membenci dan menghina Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena memang inilah ajaran agama mereka. 

9. Muhammad bin al-Hasan al-Tusi, dalam kitabnya Tahdziib al-Ahkaam 3/197, menyebutkan: Imam mereka (Abu Abdillah), ikut serta dalam salat jenazah untuk orang munafik (yang mereka maksudkan adalah Ahlus Sunnah, - red.), tetapi beliau mengutuknya, isi salatnya: 

Tuhan memberkatimu وَبِلادِكَ وَأَصِلْهُ حَرَّ نَارِكَ وَأَذِقْهُ اَشَدَّ عَذَابِكَ فَإِنَّهُ كَانَ يتَوَلى عَعْدَاءََكَ وَيُعَادِيْ Aَولِيَاءَكَ وَيُبغِضُ أَهْلَ بَيْتِ NabiMu 

" Allahu Akbar, Ya Allah, kutuklah si fulan hamba-Mu ini dengan seribu kutukan yang terkumpul, bukan yang tersebar. Ya Allah, hinakanlah hamba-Mu ini di antara hamba-hamba-Mu dan di negeri-Mu, berikanlah kepadanya panasnya neraka-Mu, dan timpakanlah kepadanya azab-Mu yang paling pedih, karena ia telah mengangkat musuh-musuh-Mu sebagai pemimpin, memusuhi orang-orang suci-Mu, dan membenci keluarga Nabi-Mu. " 

Catatan Penulis: Jadi jangan heran jika kita melihat seorang pengikut Syiah ikut berdoa untuk jenazah seorang Muslim, lalu inilah kutukan yang ia bacakan kepadanya. Karena menurut mereka, setiap orang yang tidak setuju dengan Syiah disebut munafik. 

10. Al-Hurr al-'Aamili dalam Wasail al-Shi'ah : 2/771, Bab: Cara berdoa untuk seorang Sunni yang sesat, dari Muhammad bin Muslim dan salah seorang sahabatnya berkata: "Jika dia adalah penentang kebenaran, maka ucapkanlah: 

Semoga Tuhan memberkati dia dan menganugerahkan kedamaian kepadanya. 

"Ya Allah, penuhi perut mereka dengan api, kubur mereka dengan api, dan berikan kekuasaan atas mereka kepada ular dan kalajengking".

Ketika kaum Syiah berdoa untuk Ahlus Sunnah, yang dipanjatkan bukanlah doa untuk kebaikan, melainkan laknat dan hukuman Allah yang mereka mohonkan. . . 

11. Al-Maaqami, dalam Tanqih al-Maqaal fii 'Ilmi al-Rijal , pada manfaat ke-20, hal. 208, kutipan dari al-Muhaqqiq al-Bahrani dan dari banyak riwayat bahwa orang yang bukan Syi'ah Istna 'Asyariyah adalah orang-orang kafir dan musyrik. 

12. Muhsin al-Mu'allim, dalam bukunya al-Nushbu wa al-Nawashib , hlm. 609. Setelah menyebutkan sejumlah tokoh Nawashib, termasuk: Abu Bakr, Umar, Uthman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, Ibn Umar, dan sejumlah sahabat, serta Imam Malik, dan al-Bukhari (semoga Allah meridainya) , beliau menyebutkan kekafiran kaum Nawashib dari pendapat para ulama Syiah: 

“Sayyid al-Khu-i, semoga Allah meridainya, berkata: dan lebih jelas lagi bahwa orang yang najis adalah kafir meskipun ia menunjukkan (pengucapan) dua kata syahadat dan keyakinan akan Hari Kiamat”.

Sayyid al-Sadr berkata tentang orang-orang yang dikecualikannya dari kenajisan orang-orang kafir, beliau memasukkan di antara mereka: Ahlul Kitab, ghulat, kemudian menyebutkan Nawashib. Beliau berkata, "Maka orang-orang nawashib yang menyatakan permusuhan mereka terhadap Ahlul Bayt, yang darinya Allah telah menghilangkan kenajisan (nawashib) dan menyucikan mereka sepenuhnya. Sesungguhnya mereka, para pemberontak dan nawashib, adalah orang-orang kafir. Tetapi mereka suci menurut syariat selama mereka mengakui diri sebagai orang Islam." 

"Berdasarkan apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Ya'fur dalam al-Mautsiq , dari Abu Abdillah, dalam sebuah hadits beliau berkata: Jangan mandi di pemandian umum. Karena pemandian itu digunakan untuk mandi oleh orang-orang Yahudi, Kristen, Majusi, dan al-Nashib (orang-orang yang membenci) kita Ahlul Bayt. Maka dia adalah yang terburuk di antara mereka. Dan sesungguhnya Allah Ta'ala tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih najis daripada anjing. Dan sesungguhnya al-Nashib (orang-orang yang memusuhi) kita Ahlul Bayt, jauh lebih najis daripada anjing." 

13. Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, 23/390 menyebutkan bahwa semua Muslim yang tidak beriman pada imamah dua belas imam (maksudnya; kelompok Syiah) adalah kafir, sesat, dan kekal di neraka. Berikut pernyataannya: 

- “Ketahuilah bahwa penggunaan kata syirik dan kufur secara umum oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Imamah Amirul Mukminin dan para Imam setelahnya dari keturunannya, dan lebih mengutamakan selain mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir yang akan tinggal di Neraka selamanya.” 

Syekh al-Mufid dalam kitab al-Masa'il berkata:

"Mazhab Imamiyyah sepakat bahwa seseorang yang mengingkari imamah salah satu dari dua belas imam dan menentang apa yang telah Allah wajibkan kepadanya berupa kewajiban ketaatan (kepada para imam) adalah seorang kafir, sesat, dan harus tinggal di neraka selamanya." 

Jika ingin tercipta kehidupan yang harmonis dan damai antara Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan Syiah, mereka hendaknya meninggalkan ajaran-ajaran yang mengandung provokasi dan suka menghina kelompok lain. 

Kemudian kembalilah kepada kesatuan ajaran Islam, Al-Quran dan Sunnah yang sahih sesuai dengan apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi (shalawat dan salam Allah kepadanya) . 

Penutup

Dari pernyataan para ulama Syiah dalam kitab-kitab mereka di atas, jelas bahwa Syiah tidak mempercayai Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang merupakan mayoritas umat Islam di Indonesia. Karena itu, wajar jika saudara-saudari kita tersinggung dan marah terhadap ajaran yang diajarkan dan didakwahkan oleh Syiah. Oleh karena itu, jika ingin tercipta kehidupan yang harmonis dan damai antara Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan Syiah, mereka hendaknya meninggalkan ajaran yang mengandung provokasi dan suka menghina kelompok lain. Kemudian kembali kepada kesatuan ajaran Islam, Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Wallahu Ta'ala a'lam. 

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah