Perbedaan utama antara Sunni dan Syiah terhadap 12 Imam terletak pada konsep kepemimpinan (Imamah) dan sifat para imam itu sendiri
Perbedaan utama antara Sunni dan Syiah terhadap 12 Imam terletak pada konsep kepemimpinan (Imamah) dan sifat para imam itu sendiri.
Berikut adalah rangkuman perbedaannya:
1. Kedudukan dan Sifat Imam
- Syiah: Mengimani 12 Imam sebagai pemimpin spiritual dan politik yang ditunjuk langsung oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW. Mereka meyakini para Imam bersifat maksum (terbebas dari dosa dan kesalahan).
- Sunni: Menghormati keturunan Nabi Muhammad SAW (Ahlulbait) sebagai tokoh besar dan ulama yang mulia, namun tidak menganggap mereka sebagai manusia suci tanpa dosa (maksum) dan tidak meyakini mereka memiliki otoritas ilahi untuk memimpin umat.
2. Status Sahabat Nabi
- Syiah: Hanya mengakui kepemimpinan dan otoritas Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya pasca-wafatnya Nabi Muhammad. Mereka umumnya menolak legitimasi tiga khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) dan beberapa sahabat lainnya.
- Sunni: Meyakini bahwa keempat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) adalah penerus sah Nabi Muhammad SAW yang adil, dan menghormati seluruh sahabat Nabi tanpa terkecuali.
3. Nasib Imam ke-12
- Syiah: Meyakini Imam ke-12, Muhammad al-Mahdi, tidak wafat melainkan mengalami gaib (okultasi) atas kehendak Allah dan akan kembali menjelang akhir zaman sebagai penyelamat.
- Sunni: Meyakini bahwa Imam Mahdi akan lahir dari keturunan Nabi Muhammad SAW, namun tidak memiliki kaitan dengan konsep Dua Belas Imam Syiah (seperti keyakinan bahwa ia telah lahir ratusan tahun lalu dan bersembunyi).
Video :
Kaligrafi nama Khulafaurrasyidin dan nama-nama keturunan nabi lewat jalur Ali bin Abi Thalib di Masjid Nabawi Madinah
Pihak Syiah tentu merasa bangga dan menganggapnya sebagai pengakuan terhadap kemuliaan Ahlulbait, namun secara teologis mereka tidak akan pernah reda atau ridho nama-nama suci tersebut disandingkan dengan sahabat yang mereka yakini telah menyimpang atau mengkafirkan imam mereka.
Realitas penyebutan nama-nama ini menimbulkan dilema ideologis, seperti yang diulas oleh tokoh dan publikasi Syiah:
- Pengakuan vs. Keyakinan: Bagi kelompok Syiah (seperti Syiah Itsna Asy'ariyah), penyebutan nama para Imam (seperti Ali bin Abi Thalib dan Ja'far ash-Shadiq) di Masjid Nabawi dipandang sebagai jejak sejarah Ahlulbait yang tidak bisa dihapus oleh siapapun.
- Penolakan terhadap Rekonsiliasi Historis: Meskipun nama-nama tersebut berada di lingkungan masjid yang sama, kelompok Syiah memandang berdampingannya nama ini bukan sebagai bentuk legitimasi atau persetujuan atas kekhalifahan sahabat tertentu. Mereka meyakini adanya ketidakadilan sejarah pasca-wafatnya Nabi, yang menjadikan para sahabat lain perampas hak kekhalifahan imam mereka.
- Posisi Mengkafirkan: Paham Syiah meyakini konsep imamah sebagai prinsip dasar iman, sehingga mereka yang tidak meyakini status imam mereka dianggap menyimpang dari ajaran yang benar. Pandangan ini tertuang jelas dalam kajian akidah seperti yang dijelaskan di (baca, klik disini)
Sehingga, kebanggaan Syiah murni terbatas pada penghormatan terhadap Ahlulbait itu sendiri, tanpa ada rasa penerimaan atau ridho terhadap penyandingan dengan sahabat yang mereka kafirkan atau tentangkan secara ideologis.
---o0o---
Pengertian hadis menurut pandangan Syiah
كلام يحكى قول المعصوم (عليه السلام) أو فعله أو تقريره
Hadis menurut Syiah tidak dibatasi hanya kepda Nabi Muhammad SAW saja, akan tetapi juga kepada salah satu Imam yang maksum. Imam? Imam itu sebenarnya siapa sih?
Imam yang dimaksud di kalangan Syiah adalah 12 Imam Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW, keturunan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menikah dengan Sayyidah Fatimah binti Rasulullah).
Syiah tidak mempercayai Risalah Nabi Muhammad SAW yang dilanjutkan kepada para sahabat (Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Usman), mereka hanya meyakini 12 Imam sebagai pembawa Risalah lanjutan setelah Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali.
Sedangkan Ahlussunnah berpendapat bahwa pengganti Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan petunjuk “Khulafaur Rasyidin” adalah para sahabat Nabi (Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Usman, dan Sayyidina Ali). Meskipun sahabat adalah orang biasa tetapi mereka adalah orang-orang pilihan yang hidup di masa Nabi Muhammad SAW dan mengelilingi Nabi.
Dan kita (Ahlussunnah) tidak mengambil hadis dari Ahlul Bait atau 12 Imam dalam hal ini bukan karena Imamnya tetapi karena pengikut Imam tersebut di mana mereka memiliki kepercayaan bahwa dusta menurut Syiah bagian dari agama, sedangkan dusta menurut Ahlussunnah tidak bisa menjadi syarat diterimanya hadis. -Ustaz Zeed B Smeer
Perbedaan istilah maksum menurut pandangan Ahlussunnah dan Syiah
Lalu kenapa Imam mereka juga diyakini maksum? Bukankah yang maksum hanya Nabi Muhammad saja?
Menurut pandangan Ahlussunnah, maksum hanya untuk para Nabi, kalau Sahabat itu ‘udul. Nabi maksum karena sebagai penyambung Risalah dari wahyu Allah, dan wahyu itu tidak boleh disampaikan dengan salah. Wahyu merupakan bagian dari syariat, selain itu Nabi juga merupakan qudwah (panutan/teladan).
Sedangkan menurut pandangan Syiah, istilah maksum bukan hanya untuk Nabi tetapi juga untuk 12 Imam keturunan Sayyidina Ali. Sehingga apa-apa yang disandarkan kepada Imam tersebut juga merupakan sunnah.
Tapi mengapa harus sampai diyakini maksum juga? Karena mereka berpegangan pada dalil yang mengistimewakan Ahlul Bait:
إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا
Perbedaan yang terlihat jelas dari kedua pandangan antara Syiah dan Ahlussunnah terletak pada siapa yang melanjutkan Risalah setelah Nabi Muhammad dan perbedaan istilah maksum.
Proses periwayatan hadis menurut Syiah
Periwayatan hadis menurut Syiah hanya ke satu orang, yaitu:
• Dari Nabi Muhammad SAW ke Sayyidina Ali bin Abi Thalib (menantunya)
• Dari Sayyidina Ali-Sayyidina Hasan-Sayyidina Husein-Sayyidina Ali Zainal Abidin sampai pada 12 Imam begitu seterusnya sampai yang terakhir yaitu Imam Mahdi.
Menurut kepercayaan Syiah, Imam Mahdi hilang dan ada juga yang mengatakan sedang bersembunyi dan nanti akan turun pada hari akhir. Maka dari itu kaum Syiah sangat menantikan hari akhir karena kebenaran dibawa oleh Imam Mahdi.
Sedangkan menurut pandangan Ahlussunnah, Imam Mahdi belum lahir dan baru akan muncul saat hari akhir bersama turunnya Nabi Isa AS.
Penulisan hadis di kalangan Syiah
Penulisan hadis tuntas pada masa Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, berbeda dengan pandangan Ahlussunnah bahwa hadis tuntas ditulis di abad ketiga. Syiah berpandangan seperti ini karena:
Ummu Salamah meriwayatkan: Nabi meminta adim (kulit dari domba yang sudah disamak) untuk dibawa, dan pada saat itu Ali bersama Nabi SAW. Lalu beliau mendiktekan begitu banyak hadis kepada Ali sehingga kedua sisi kulit domba itu penuh dengan tulisan. (Abu Bakar al-Shan’ani, al-imla’ wa al-mustamli’)
Kodifikasi hadis di kalangan Syiah
• di Abad III oleh Imam ibn Muhammad Al-Barqi (274H/887M) dalam kitab Al-Mahasin
• Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini (328H/939M) dalam kitab Al-Kafi yang berisi hadis-hadis Nabi Muhammad SAW dan ucapan para Imam. Kodifikasi berakhir di Imam Ja’far
Macam-macam hadis di kalangan Syiah
- Hadis Shahih
- Hadis Hasan
- Hadis Muwatstsaq
- Hadis Dhoif
Literatur hadis Syiah :
- Al-Kafi karya Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’qub ibn Ishaq al-Kulaini al-Razi (w. 328/329H/939/940M). Kitab Al-Kafi itu seperti kitab Bukharinya Ahlussunnah
- Man la Yahduru al-Fqih ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad ibn Ali ibn Babawaih al-Qummi (lahir 305H)
- Tahdhib al-Ahkam karya Abu Ja’far Muhammad ibn al-Hasan ibn Ali al-Tusi (lahir di Iran tahun 385H)
- Al-Istibsar fi ma Ukhtulifa min al-Akhbar, al-Tusi
- Kesimpulan perbedaan hadis Ahlussunnah dan Syiah
- Berkaitan dengan jalur. Kalau Ahlussunnah jalur yang diyakini adalah Sahabat Nabi Muhammad, sedangkan Syiah meyakini 12 Imam sebagai penyambung jalur Risalah Nabi.
- Kodifikasi hadis. Syiah mencampurkan antara hadis dhoif dan hadis shahih, salah satu kitabnya yang besar yaitu kitab Biharul Anwar. Sedangkan Ahlussunnah diklasifikasikan semua hadisnya.
- Syarat diterimanya hadis berupa ketersambungan sanad. Dalam syarat diterimanya hadis, antara Ahlussunnah dan Syiah sama, yang membedakan adalah keadilan dan argumen ketersambungan sanad. Keadilan yang dimaksud Syiah adalah jika perawinya merupakan golongan dari para Imam.
Referensi :
Komentar
Posting Komentar