Hancurnya Ka’bah, Tanda Dekatnya Kiamat
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ
"Ingatlah bahwa Kami telah menjadikan Rumah (Ka'bah) sebagai tempat berkumpulnya manusia dan tempat aman berlindung."
( Al-Qur'an 2:125 )
Al-Qur'an menyatakan bahwa Allah telah menjadikan Mekah dan Ka'bah sebagai tempat berlindung universal.
---o0o---
Hancurnya Ka’bah, Tanda Dekatnya Kiamat
KA’BAH merupakan kiblat umat Islam yang menjadi pusat ibadah shalat dan tempat suci yang diagungkan sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ka’bah tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi simbol tauhid dan persatuan umat Islam. Namun, dalam beberapa hadis sahih disebutkan bahwa salah satu tanda mendekatnya Hari Kiamat adalah hancurnya Ka’bah. Peristiwa ini akan menjadi salah satu tanda besar sebelum dunia ini berakhir.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar bahwa Ka’bah akan dihancurkan oleh seorang laki-laki dari Habasyah (Ethiopia). Hadis ini berbunyi,
يُخَرِّبُ الكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الحَبَشَةِ
“Ka’bah akan dihancurkan oleh seorang laki-laki yang memiliki betis kecil dari Habasyah.” (HR. Bukhari, no. 1595; Muslim, no. 2909)
Hadis ini menunjukkan bahwa penghancuran Ka’bah bukanlah sekadar kejadian biasa, melainkan bagian dari takdir yang telah Allah tetapkan sebagai tanda akhir zaman. Sosok yang disebut dalam hadis sebagai “Dzu as-Suwaqatayn” dari Habasyah akan menghancurkan Ka’bah secara fisik. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia akan mencabut batu demi batu dari Ka’bah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjaga Ka’bah sepanjang sejarah. Bahkan, saat pasukan Abrahah dari Yaman mencoba menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajah, Allah menurunkan burung Ababil yang melempari mereka dengan batu dari neraka. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
“Apakah engkau tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (Qs. Al-Fil: 1-5)
Namun, menjelang Kiamat, Allah tidak lagi melindungi Ka’bah seperti saat peristiwa Abrahah. Ini menunjukkan bahwa dunia sudah mendekati akhirnya, dan Allah mengizinkan kehancurannya sebagai bagian dari ketetapan-Nya. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada lagi yang menjaga kesucian Islam, dan fitnah di akhir zaman telah merajalela.
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa sebelum Ka’bah dihancurkan, manusia akan meninggalkannya dan tidak ada lagi yang berhaji dan berumrah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُحَجَّ البَيْتُ
“Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi orang yang berhaji ke Baitullah.” (HR. Ahmad, no. 3641; Ibnu Hibban, no. 6747)
Hadis ini menunjukkan bahwa sebelum Ka’bah dihancurkan, dunia Islam sudah mengalami kemerosotan iman yang sangat parah. Perjalanan haji dan umrah akan terhenti, baik karena fitnah besar, perang dahsyat, atau kekacauan global yang menghalangi umat Islam untuk mendatanginya.
Salah satu sebab Ka’bah dihancurkan adalah karena tidak adanya orang beriman yang menjaga dan mengagungkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa di akhir zaman, iman akan semakin berkurang, hingga akhirnya tidak ada lagi yang menyebut nama Allah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللَّهُ، اللَّهُ
“Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi di bumi yang mengucapkan: ‘Allah, Allah’.” (HR. Muslim, no. 2900)
Dari sini, dapat disimpulkan bahwa Ka’bah dihancurkan setelah agama Islam benar-benar ditinggalkan oleh manusia. Tidak ada lagi yang beriman, tidak ada yang menjaga kesuciannya, dan dunia telah dipenuhi dengan kebatilan. Hal ini sejalan dengan dalil bahwa menjelang Kiamat, Islam akan kembali asing seperti saat pertama kali datang.
Hancurnya Ka’bah menjadi simbol berakhirnya syariat Islam di dunia. Allah telah menetapkan bahwa agama Islam akan bertahan hingga waktu yang telah ditentukan. Setelah kehancuran Ka’bah, berbagai tanda besar Kiamat lainnya akan semakin cepat terjadi, seperti munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, serta terbitnya matahari dari barat.
Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini, termasuk yang paling suci seperti Ka’bah, memiliki batas waktu. Islam mengajarkan bahwa dunia adalah tempat yang sementara, dan yang kekal hanyalah kehidupan akhirat. Allah berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi ini akan binasa. Dan yang tetap kekal adalah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (Qs. Ar-Rahman: 26-27)
Sebagai umat Islam, kita harus memahami bahwa tanda-tanda besar Kiamat ini bukan sekadar peristiwa yang akan datang, tetapi juga peringatan bagi kita agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Selama masih ada waktu, kita harus menjaga ibadah, menegakkan tauhid, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Hancurnya Ka’bah adalah salah satu peristiwa dahsyat yang menandakan berakhirnya dunia ini. Kejadian tersebut bukan hanya menggambarkan kehancuran fisik Ka’bah, tetapi juga hilangnya nilai-nilai Islam dari muka bumi. Oleh karena itu, kita harus berpegang teguh pada ajaran Islam selama masih ada kesempatan, karena setiap hari yang berlalu semakin mendekatkan kita kepada hari yang telah Allah janjikan, yaitu Hari Kiamat.
Kapan Ka'bah Dihancurkan
Mengenai kapan kejadian yang berbahaya ini terjadi, para ulama berselisih pendapat tentangnya. Ada yang mengatakan, hal itu terjadi di zaman Isa putra Maryam. Ada yang mengatakan hal itu terjadi setelah binasanya Ya'juj dan Ma'juj di mana orang-orang berhaji dan berumrah, sebagaimana hal itu termaktub di dalam hadits Abu Said Al-Khudri berkata, Rasulullah saw bersabda, Demi Allah, sungguh akan dilaksanakan haji dan umroh kepada rumah ini (baitullah) sesudah keluarnya Ya'juj dan Ma'juj. (HR. al-Bukhari)
Setelah membunuh Dajjal, Isa bin Maryam akan singgah di Rauha' “tempat di antara Madinah dan lembah Shafra di jalan ke Mekkah“ di sini Isa berniat haji atau umrah atau menggabungkan antara keduanya. Dari Abu Hurairah berkata, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, Sungguh Ibnu Maryam akan berihlal di jalan Rauha' untuk menunaikan haji atau umrah atau menggabungkan keduanya. (HR. Muslim).
Faidah yang bisa diambil dari hadits-hadits adalah bahwa dihancurkannya ka'bah terjadi setelah matinya al-Masih Isa bin Maryam dan bertiupnya angin yang karenanya siapa pun dengan iman di hatinya walaupun sekecil semut hitam akan mati. Setelah itu Ka'bah dihancurkan, kemudian tidak tegak untuk selama-lamanya.
Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya terheran-heran, bagaimana Allah membiarkan penjahat besar ini merobohkan baitullah al-Haram? Bagaimana hal itu bisa terjadi sementara Allah telah berfirman, Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya kami telah menjadikan negeri mereka tanah suci yang aman (Al-Ankabut: 67).
Dan firman-Nya, Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara dzalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih. (Al-Haj: 25).
Dalam sejarah kita membaca bahwa Allah swt telah menjaga Ka'bah dari tentara gajah Abrahah, sementara penduduk Makkah pada saat itu adalah orang-orang kafir musyrik. Bagaimana Allah swt membiarkan orang Habasyah ini menghancurkan Ka'bah sementara ia adalah kiblat kaum muslimin dan kepadanyalah haji yang merupakan salah satu rukun Islam ditunaikan?
Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/461-462 memberikan jawaban, beliau berkata, Hal itu terjadi di akhir zaman menjelang Kiamat di mana di bumi tidak ada lagi orang yang berucap Allah, Allah sebagaimana termaktub di dalam Shahih Muslim. "Kimat tidak datang sehingga di bumi tidak ada yang mengatakan Allah, Allah. Oleh karena itu dalam riwayat Said bin Sam'an disebutkan, ˜Sesudah itu Ka'bah tidak tegak untuk selamanya. Sebelum ini telah terjadi perang dan penyerbuan dari penduduk Syam kepada Ka'bah pada zaman Yazid bin Muawiyah kemudian sesudah itu terjadi banyak peperangan, salah satunya adalah perang al-Qaramithah yang terjadi setelah abad ketiga hijriyah. Di mana mereka membunuh kaum muslimin dalam jumlah yang tidak terhitung, mereka mencongkel hajar aswad dan memboyongnya ke negara mereka, kemudian dikembalikan setelah masa yang panjang. Setelah itupun ia diserang berkali-kali. Semua itu tidak bertentangan dengan firman Allah, "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan negeri mereka tanah suci yang aman" (QS. Al-Ankabut: 67). Karena semua itu dilakukan sendiri oleh kaum muslimin, maka selaraslah ia dengan sabda Nabi SAW, "Tidak ada yang menghalalkan perang di rumah ini kecuali keluarganya (kaum muslimin sendiri), jika mereka menghalalkannya maka jangan ditanya tentang kebinasaan orang Arab, kemudian datanglah orang-orang Habasyah mereka meratakannya dengan tanah dan ia tidak lagi tegak untuk selama-lamanya. Merekalah yang mengeluarkan kekayaannya" (HR. Ahmad dari Abu Hurairah). Terjadilah apa yang beliau sampaikan. Dan ini merupakan salah satu tanda kenabian beliau. Sementara ayat di atas tidak menunjukkan bahwa rasa aman itu akan terus berlangsung.
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Aqidah Wasithiyah berkata, Hal ini wallahu'alam yakni diangkatnya al-Qur`an di akhir zaman- sama halnya dengan dirobohkanya Ka'bah di akhir zaman, di mana seorang laki-laki dari Habasyah berpostur pendek, berkulit hitam, berkaki renggang, dia hadir dengan bala tentaranya dari laut ke Masjidil Haram, dia mencongkeli Ka'bah bata demi bata. Setiap kali dia mencongkel bata dia memberikannya kepada orang berikutnya, lalu kepada orang berikutnya, begitu seterusnya sampai orang terakhir melemparkannya ke laut. Allah membiarkan mereka melakukan itu, padahal Abrahah yang hadir dengan gajahnya, lengkap dengan dukungan pasukan berkuda dan berjalan kaki serta pasukan gajah dihancurkan oleh Allah sebelum dia sampai di Masjidil Haram, karena Allah mengetahui bahwa seorang nabi akan diutus, keagungan dan wibawa Masjidil Haram hendak dikembalikan, hanya saja di akhir zaman tidak ada lagi nabi yang diutus setelah Muhammad. Apabila orang-orang sudah tidak lagi memuliakan Baitul Haram niscaya Allah akan menguasakan laki-laki dari Habasyah ini. Wallahu a'lam.
Sumber :
Komentar
Posting Komentar