Anus sebut Islam di Arab tidak ramah ?


 

Anus sebut Islam di Arab tidak ramah ?

Islam di negeri Arab (saya tidak mengatakan 'Islam Arab') sering digambarkan oleh pegiat Agama Islam NUSantara -selanjutnya saya sebut Anus- sebagai Islam yang tidak ramah, penuh kekerasan dan pertumpahan darah. Terpengaruh oleh orang-orangnya (Arab) yang mempunyai watak kasar dan minim budaya. Dicontohkanlah beberapa peperangan dalam sejarah Islam.... sampai kejadian kontemporer di Suriah, Yaman, dan lain-lain. Berbeda dengan jejak agama Anus yang penuh kedamaian, katanya. Karakter bangsa Indonesia semenjak dulu mereka nilai cinta damai, berbudaya tinggi, penuh sopan-santun, dan anti kekerasan.

Klaim pegiat agama Anus ini sebenarnya omong kosong. Mereka tidak pandai memanipulasi sejarah sehingga dustanya terlihat vulgar. Contohnya Sriwijaya. Wilayah kerajaan Sriwijaya yang sangat luas diperoleh melalui jalan penaklukan dan peperangan. Di akhir masanya setelah lemah, Sriwijaya akhirnya keok disikat Majapahit. Di masa Majapahit, sama. Banyak perang. Lihat Perang Bubat yang dilatarbelakangi ambisi Gajah Mada (Majapahit) menganeksasi Pajajaran. Pasukan Gajah Muda membantai rombongan Pajajaran secara culas di daerah Bubat - karena itulah disebut Perang Bubat. Atau Perang Paregreg, yang merupakan perang saudara antara Majapahit blok barat dan blok timur. Majapahit akhirnya runtuh yang salah satu sebabnya karena kalah perang dari Kerajaan (Kesultanan) Demak. And sorry to say.... Demak juga melakukan ekspansi di berbagai wilayah Pulau Jawa. Tentu ekspansi tersebut tidak dilakukan dengan tawaran minum kopi dan makan pisang goreng di warung.

Selain perang, nenek moyang pegiat agama Anus senang bikin cerita aneh-aneh. Kisah Sangkuriang misalnya. Bayangkan, ada babi minum air kencing raja, hamil. Lahir Dayang Sumbi. Dayang Sumbi kawin sama anjing, lahir Sangkuriang.

Sangkuriang makan ayahnya sendiri. Diusir. Ia lalu naksir ibunya, ditolak, nendang perahu, jadi gunung. Melebihi daya khayal kru Warner Bross. Atau cerita versi Anus.., ada pemuda suka maling, lalu tobat. Dalam proses tobatnya, dia dikubur, kemudian bersemedi di pinggir kali nungguin tongkat. Nggak gerak-gerak, nggak shalat, nggak ngapa-ngapain. Setelah selesai semedi, jadi wali.

Dari mana bisa jadi wali?
Sejarah kita menuliskan banyak hal.., dari yang fiktif sampai yang nyata terjadi. Termasuk oknum-oknum raja Jawa yang malah menjadi kaki tangan penjajah dan doyan wanita...

Apakah di atas sisi hitam ini lembar agama Anus dibangun?. Jika iya, maka wajar jika petilasannya masih nampak di masa sekarang. Seperti, gerombolan oknum yang suka kekerasan lagi arogan modal otot (tanpa otak) membubarkan pengajian, gemar klenik dan kesaktian, suka menjilat, dan lain-lain.

Sejarah perang di semua bangsa itu ada. Indonesia, India, Eropa, Afrika, Arab, dan Amerika. Yang membedakan adalah motifnya; membela diri, melenyapkan kemunkaran, ambisi kekuasaan, menambang harta, atau syahwat wanita. Value masing-masing akan berbeda. 


Terlepas dari sejarah nenek moyang pegiat agama Anus - yang juga nenek moyang kita - di atas, mereka (nenek moyang) mempunyai nilai positif berupa keramahan, kelembutan, dan suka menolong yang wajib kita lestarikan. 

Nilai-nilai itu juga dimiliki bangsa Arab, karena sifatnya universal. Karena karakter menusia berbeda-beda, maka Islam datang memberikan panduan untuk mewujudkan maslahat kehidupan mereka di dunia (dan akhirat). 

Yang baik dipertahankan, yang jelek ditinggalkan. Syari'at Islam mengikis budaya arogan, demen klenik dan cerita konyol, serta sifat penjilat. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia.

Artikel oleh : Ustadz Abul  Jauza

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah