Syarif Husain : PENGKHIANATAN dan AMBISI KEKUASA'AN
Syarif Husain : PENGKHIANATAN dan AMBISI KEKUASA'AN
Pada awal abad ke-20, dunia Islam masih berada di bawah bayang-bayang Daulah Utsmaniyah, meskipun dalam kondisi yang lemah.
Di tengah situasi ini, di Hijaz, tepatnya di Mekkah, berdiri seorang tokoh bernama Syarif Hussein bin Ali, seorang keturunan Bani Hasyim yang menjabat sebagai Gubernur Mekkah yang ditunjuk oleh Kekhalifahan Turki Utsmani.
Syarif Hussein, yang seharusnya bertugas menjaga Ka'bah dan melayani umat Islam yang datang beribadah haji, ternyata menyimpan ambisi tersembunyi untuk meraih kekuasa'an.
Ketika Perang Dunia Pertama pecah, Inggris datang dengan tawaran menggiurkan, dukungan untuk menjadi raja seluruh bangsa Arab jika bersedia MEMBERONTAK terhadap Turki Utsmani.
Tergiur oleh janji tersebut, Syarif Hussein menjalin komunikasi rahasia dengan Sir Henry McMahon, Komisaris Tinggi Inggris di Mesir.
Korespondensi McMahon-Hussein pada tahun 1915 menjanjikan wilayah Arab, termasuk Syam dan Hijaz, kepada Hussein jika ia MEMBERONTAK
Pada tahun 1916, Syarif Hussein mengumumkan PEMBERONTAKAN terhadap Kekhalifahan Utsmaniyah.
Di balik panji-panji PEMBERONTAKAN Arab, tersimpan kepentingan Inggris, termasuk dukungan senjata, dana, dan penasihat seperti T.E. Lawrence atau yang dikenal sebagai Lawrence of Arabia.
PENGKHIANATAN ini membuka jalan bagi deklarasi Balfour pada tahun 1917, yang menjanjikan tanah Palestina kepada bangsa Yahudi untuk mendirikan negara mereka. Tanah suci para nabi pun mulai dikorbankan.
Setelah MENGKHIANATI Kekhalifahan Turki Utsmani, Syarif Hussein mengangkat dirinya sebagai Raja Hijaz pada tahun 1916.
Bahkan, setelah Kekhalifahan Turki Utsmani dihapuskan oleh Kamal Attaturk pada tahun 1924, Hussein mendeklarasikan dirinya sebagai Khalifah Umat Islam, namun ditolak oleh umat Islam karena dianggap sebagai pengkhianat.
Meskipun demikian, Inggris tetap memberikan hadiah kepada anak-anaknya.
Faisal bin Hussein diangkat menjadi Raja Irak pada tahun 1921, sementara Abdullah bin Hussein menjadi Raja Trans Yordan, yang kemudian menjadi Yordania.
Namun, pembalasan datang pada tahun 1925. Abdul Aziz bin Saud, seorang pemimpin dari padang pasir yang penuh dengan semangat Tauhid, menyerang Hijaz dan berhasil merebut Mekkah dan Madinah.
Keraja'an Syarif Hussein pun runtuh, dan ia melarikan diri ke Siprus, hingga akhirnya meninggal dalam pengasingan.
Pada tahun 1932, Abdul Aziz bin Saud mendirikan Kerajaan Arab Saudi, menyatukan tanah Arab di bawah panji Tauhid.
Mekkah dan Madinah dibersihkan dari praktik Bid'ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik yang sebelumnya berkuasa di bawah Syarif Hussein.
Keturunan Syarif Hussein pun mengalami nasib tragis. Pada tahun 1958, Raja Faisal II dari Irak, cucu Syarif Hussein, ditembak mati dalam revolusi berdarah. Hanya sedikit dari kerabatnya yang berhasil melarikan diri.
Kisah Syarif Hussein menjadi pelajaran pahit tentang PENGKHIANATAN dan AMBISI KEKUASA'AN yang membawa kehancuran.
Sementara itu, Abdul Aziz bin Saud berhasil mengembalikan tanah suci ke jalan Tauhid dan mendirikan keraja'an yang kokoh.
Baca juga artikel terkait :

Komentar
Posting Komentar