ORANG TUA NABI DI MASA FATRAH?

ORANG TUA NABI DI MASA FATRAH? 

Sebagian orang mengatakan bahwa orang tua nabi tidak kafir, karena wafat di masa fatrah. Masa dimana belum sampainya dakwah Rasul atau tidak adanya yang memberikan peringatan. Kemudian mereka mengutip ayat alquran, 

Allah Ta'ala berfirman, 

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا 

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15) 

Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu tentang ayat di atas,

"إخبار عن عدله تعالى ، وأنه لا يعذب أحدا إلا بعد قيام الحجة عليه بإرسال الرسول إليه" 

Makna ayat ini menggambarkan tentang keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala, bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun melainkan setelah tegaknya hujah terhadap dirinya melalui rasul yang diutus oleh Allah kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir). 

Didalam ayat lain, Allah Ta’ala menerangkan bahwa tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. Ini menunjukkan, tiada suatu umat pun dari anak Adam melainkan Allah telah mengutus kepada mereka orang-orang yang memberi peringatan. 

Allah Ta’ala berfirman, 

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۚ وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ 

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. [Fâthir : 24]. 

Berkata Ibnu Katsir rahimahullahu, 

"أي: بشيرا للمؤمنين ونذيرا للكافرين ، { وإن من أمة إلا خلا فيها نذير } أي: وما من أمة خلت من بني آدم إلا وقد بعث الله إليهم النذر ، وأزاح عنهم العلل ، كما قال تعالى : { إنما أنت منذر ولكل قوم هاد } [ الرعد : 7 ] ، وكما قال تعالى : { ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت فمنهم من هدى الله ومنهم من حقت عليه الضلالة } الآية [ النحل : 136 ] ، والآيات في هذا كثيرة ." 

Tiada suatu umat pun dari anak Adam melainkan Allah telah mengutus kepada mereka orang-orang yang memberi peringatan yang menyingkapkan hakikat kebenaran kepada mereka dan melenyapkan semua penyakit kekafiran. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: 

Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. (Ar-Ra'd: 7) 

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu, " maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. (An-Nahl: 36), hingga akhir ayat. (Tafsir Ibnu Katsir). 

Bagaimana dengan orang-orang di jazirah arab, terkhusus orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam, apakah telah sampai dakwah Rasul atau telah ada pemberi peringatan kepada mereka atau belum? 

Risalah milah Ibrahim atau ajaran Nabi Isa alaihissalam sudah nyampe ke orang-orang jazirah arab, dengan adanya pendeta pendeta atau pemeluk nasrani yang hidup ditengah-tengah mereka. Perhatikan beberapa kisah berikut ini, 

" ولما بلغ – صلى الله عليه وسلم – الثانية عشرة خرج به عمه أبو طالب إلى الشام، فلما بلغوا بصرى رآه بحيرى الراهب، فتحقق فيه صفات النبوة فأمر عمه برده، فرجع. 

Saat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam menginjak usia 12 tahun, Abu Tholib membawanya ke Syam. Ketika mereka sampai di Bushra, seorang pendeta bernama Buhaira melihatnya. Pendeta ini mendapati sifat-sifat kenabian pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ia pun meminta Abu Tholib untuk memulangkannya, maka ia pun kembali. (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Musa al-Asy’ari. Hadits Shahih). 

Di dalam kitab Tarîkh Madînah Dimasyq Omam Ibnu ‘Asakir disebutkan, 

أن زيد بن عمرو وورقة بن نوفل خرجا يلتمسان الدين حتي انتهيا إلي راهب بالموصل فقال لزيد بن عمرو: من أين أقبلت يا صاحب البعير؟ فقال: من بنية إبراهيم، قال: وما تلتمس؟ قال: ألتمس الدين، قال: ارجع فإنك يوشك أن يظهر في أرضك، قال: فأما ورقة فتنصّر وأما أنا فعدمت علي النصرانية فلم يوافقني، فرجع 

“Sesungguhnya Zaid bin Amr dan Waraqah bin Naufal keduanya berkelana mencari agama (yang benar) hingga keduanya sampai kepada seorang pendeta di Mosul. Pendeta itu berkata kepada Zaid bin ‘Amr: ‘Dari mana kau berasal, wahai penunggang unta?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Dari rumah Ibrahim (Ka’bah/Makkah).’ Pendeta itu berkata: ‘Apa yang sedang kau cari?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Aku sedang mencari agama (yang benar).’ Pendeta itu berkata: ‘Kembalilah, sesungguhnya kau telah dekat dengan kemunculan (agama yang benar) di tanahmu (daerahmu).’ Zaid bin Amr berkata: ‘Adapun Waraqah menjadi seorang Nasrani, tapi aku kehilangan (ketertarikan) terhadap agama Nasrani, karenanya Waraqah tidak sependapat denganku. Kemudian Zaid bin Amr kembali (ke Makkah).” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1995, juz 19, h. 500)" 

Waraqah bin Naufal (sepupu Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi shallallahu alaihi wasallam). 

أَبْشِرْ، ثُمَّ أَبْشِرْ، فَأَنَا أَشْهَدُ أَنَّكَ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ ابْنُ مَرْيَمَ، وَأَنَّكَ عَلَى مِثْلِ نَامُوسِ مُوسَى، وَأَنَّكَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَأَنَّكَ سَوْفَ تُؤْمَرُ بِالْجِهَادِ بَعْدَ يَوْمِكَ هَذَا، وَلَئِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ لَأُجَاهِدَنَّ مَعَكَ 

“Berbahagialah, kemudian berbahagialah. Aku bersaksi bahwa kau adalah orang yang (dijanjikan) membawa kabar gembira oleh (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya kau (didatangi malaikat) seperti Namus (Jibril) untuk Musa. Sesungguhnya kau adalah nabi yang diutus. Sesungguhnya kau akan diperintahkan untuk berjihad setelah harimu (diangkat menjadi nabi) ini, dan andai aku masih bertemu masa itu, sungguh, aku akan berjihad bersamamu.” (Imam Abu Bakr al-Baihaqi, Dalâ’il al-Nubuwwah, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1988, juz 2, hlm 158-159)" 

Ibnu Ishaq berkata, 

وكانت خديجة بنت خويلد قد ذكرتْ لورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزّي—وكان ابن عمّها، وكان نصرانيّا قد تتبّع الكتب، وعلم من علم النّاس—ما ذكر لها غلامها ميسرة من قول الرّاهب، وما كان يري منه إذ كان الملكان يظلّانه، فقال ورقة: لئن كان هذا حقا يا خديجة، إنّ محمّدا لنبيّ هذه الأمة، وقد عرفْت أنه كائن لهذه الأمة نبيّ ينتظر، هذا زمانه 

“Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza—ia adalah anak pamannya, seorang Nasrani yang bersungguh-sungguh mengikuti kitab-kitab, dan orang yang berilmu di (kalangan) manusia—apa yang diceritakan pembantunya, Maisarah, kepadanya tentang perkataan seorang pendeta, bahwa ia melihat Muhammad selalu dinaungi oleh dua malaikat. Waraqah bin Naufal berkata: ‘Jika (ceritamu) ini benar, wahai Khadijah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi umat ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa ada nabi yang dinantikan untuk umat ini, dan inilah waktunya’.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 364). 

"فمات ورقة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رأيت القس في الجنة عليه ثياب خضر 

“Kemudian Waraqah meninggal (tak lama setelah meyakini kenabian Muhammad), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat sang pendeta (Waraqah bin Naufal) di surga mengenakan baju hijau.” (Imam Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, Beirut: Darul Qiblah lil-Tsaqafah al-Islamiyyah, 2006, juz 20, h. 233). 

Imam Abu al-Qasim al-Suhaili (508-581 H) dalam al-Raudl al-Unuf menulis satu paragraf khusus membahas kedudukan Waraqah bin Naufal di akhirat. Beliau menulis: 

وهو أحد من آمن بالنّبي قبل البعث، وروي الترمذي أن رسول الله قال: (رَأَيْتُه في الْمَنام وعليه ثِيَابٌ بيضٌ، ولو كان مِن أهلِ النّارِ لَمْ يَكنْ عليه ثيابٌ بيضٌ)، وهو حديث في إسناده ضعفٌ، لأنّه يدُور علي عثمان بن عبد الرحمن ولكنْ يُقَوّيه ما يأْتي بعد هذا من قوله صلي الله عليه وسلم: (رأيتُ القسّ-يعني ورقة-وعليه ثيابٌ حَرِيرٌ لِأَنَّهُ أوَّل مَنْ آمن بي وصدّقنِي) ـ 

“Waraqah adalah seseorang yang beriman kepada nabi sebelum masa diutus, al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Aku melihat Waraqah bin Naufal dalam mimpi, dia mengenakan baju putih. Jika dia termasuk ahli neraka, dia tidak akan mengenakan baju putih). Hadits ini lemah dalam isnadnya karena ada Utsman bin Abdurrahman, tetapi hadits tersebut dikuatkan dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini: (Aku melihat pendeta—maksudnya Waraqah—dia mengenakan baju sutera, karena dia adalah orang pertama yang beriman kepadaku dan membenarkanku).” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 362). 

وكانت فيهم الملة الحنيفية الإسلامية، والشريعة الإبراهيمية، ومن أهلها كان قس بن ساعدة الإيادي، ورقة بن نوفل الأسدي، وزيد بن عمرو من بني عدي، وقتلته الروم لذلك 

“Di dalamnya terdapat (penganut) agama lurus yang islamiyyah dan syariat Nabi Ibrahim, sebagian dari mereka adalah Quss bin Sâ’idah al-Iyâdî (w. 23 SH), Waraqah bin Naufal al-Asadî, Zaid bin ‘Amr dari Bani ‘Adi yang terbunuh oleh orang Romawi karena melakukan pencarian.” (Syekh Abdussalam Muhammad Harun, Nawâdir al-Mahthûthât, Kairo: Mathba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1973, juz 1, h. 327). 

Kisah-kisah di atas menunjukkan bahwa jazirah arab, terkhusus orang tua Nabi shallallahu alaihi bukan di masa fatrah, karena risalah atau pemberi peringatan telah sampai kepada mereka. 

Terlepas apakah orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam ada di masa fatrah atau tidak, maka dalil yang shahih, yang jelas dan yang khusus menjelaskan bahwa orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam mati dalam keadaan kafir dan berada di neraka, begitu pula penjelasan ulama tentang orang tua Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لأُمِّى فَلَمْ يَأْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِى 

Aku minta izin kepada Rabku untuk memohonkan ampunan bagi IBUKU, namun Dia tidak mengizinkanku. Lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburannya, kemudian Dia (Allah) mengizinkanku. (HR. Muslim, Abu Daud, Nasai dan Ahmad). 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: 

أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِى؟ قَالَ: “فِى النَّارِ.” فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِى وَأَبَاكَ فِى النَّارِ 

Ada seseorang yang bertanya, “Ya Rasulullah, dimana ayahku?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di neraka.” Ketika orang ini pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memangilnya, dan bersabda, “Sesungguhnya AYAHKU dan ayahmu di neraka.”(HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud). 

Berkata Imam An-Nawawi rahimahullah, 

وفيه أن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو في النار ، وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة ؛ فإن الدعوة كانت قد بلغتهم دعوة إبراهيم وغيره من الأنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم 

Hadis ini dalil bahwa orang arab penyembah berhala yang mati di masa fatroh (sebelum diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), mereka di neraka. Dan ini bukan berarti mereka disiksa sebelum dakwah sampai. Karena dakwah telah sampai kepada mereka, dakwahnya Ibrahim dan para nabi yang lainnya shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim. (Syarh Sahih Muslim, 3/79). 

Berkata Al-Baihaqi rahimahullah, 

وكيف لا يكون أبواه وجدُّه بهذه الصفة في الآخرة ، وكانوا يعبدون الوثن حتى ماتوا ، ولم يدينوا دين عيسى ابن مريم عليه السلام 

Bagaimana ayah, ibu, serta kakek beliau tidak seperti ini keadaannya ketika di akhirat. Sementara mereka menyembah berhala sampai mati. Dan mereka tidak mengikuti agama nabi Isa bin Maryam ‘alaihis salam. (Dalail Nubuwah, 1/192). 

Berkata al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah, 

وإخباره صلى الله عليه وسلم عن أبويه وجده عبد المطلب بأنهم من أهل النار لا ينافي الحديث الوارد من طرق متعددة أن أهل الفترة والأطفال والمجانين والصم يمتحنون في العرصات يوم القيامة 

Berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedua orang tuanya dan kakeknya Abdul Muthalib,  bahwa mereka termasuk ahli neraka, tidak bertentangan dengan hadis yang jalurnya banyak, bahwa ahlul fatrah, anak-anak, orang gila, orang budeg, akan diuji di padang mahsyar di hari kiamat. (as-Sirah an-Nabawiyah, 1/239). 

Berkata Al-Imam Ibnul-Jauzi rahimahullah, 

وأما عبد الله فإنه مات ورسول الله صلى الله عليه وسلم حمل ولا خلاف أنه مات كافراً، وكذلك آمنة ماتت ولرسول الله صلى الله عليه وسلم ست سنين 

”Adapun ’Abdullah (ayah Nabi), ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallammasih berada dalam kandungan, dan ia mati dalam keadaan kafir tanpa ada khilaf. Begitu pula Aminah (tentang kekafirannya tanpa ada khilaf), dimana ia mati ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berusia enam tahun” [Al-Maudlu’aat juz 1 hal. 283]. 

Berkata Al-’Allamah ’Ali bin Muhammad Sulthan Al-Qaari rahimahullah, 

وأما الإجماع فقد اتفق السلف والخلف من الصحابة والتابعين والأئمة الأربعة وسائر المجتهدين على ذلك من غير إظهار خلاف لما هنالك والخلاف من اللاحق لا يقدح في الإجماع السابق سواء يكون من جنس المخالف أو صنف الموافق 

”Adapun ijma’, maka sungguh ulama salaf dan khalaf dari kalangan shahabat, tabi’in, imam empat, serta seluruh mujtahidin telah bersepakat tentang hal tersebut (kafirnya kedua orang tua Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) tanpa adanya khilaf. Jika memang terdapat khilaf setelah adanya ijma’, maka tidak mengurangi nilai ijma’ yang telah terjadi sebelumnya. Sama saja apakah hal itu terjadi pada orang-orang menyelisihi ijma’ (di era setelahnya) atau dari orang-orang yang telah bersepakat (yang kemudian ia berubah pendapat menyelisihi ijma’) [Adilltaul-Mu’taqad Abi Haniifah hal. 7 ]. 

Beragama itu berdasarkan dalil dan memahami dalil dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh. Bukan dengan perasaan, akal atau hawa nafsu. 

Kalau jelas dalil yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang kondisi orang tuanya yang di neraka, ya terima saja. Karena siapa saja yang menolak hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, para ulama menghukuminya kafir. 

Berkata Imam Ishaq bin Rohawaih rahimahullah : 

" ﻣﻦ ﺑﻠﻐﻪ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﺒﺮٌ ﻳُﻘﺮُّ ﺑﺼﺤﺘﻪ ﺛﻢ ﺭﺩﻩ ﺑﻐﻴﺮ ﺗﻘﻴﺔ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ " . (ﻣﻔﺘﺎﺡ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻲ ﺍﻻﺣﺘﺠﺎﺝ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ : ﺹ 14‏) 

"Barangsiapa yang sudah sampai kepadanya hadits /berita dari rosulillah dan telah jelas derajat keshohihannya kemudian dia menolaknya tanpa taqiyah maka dia telah KAFIR." (Miftahul Jannah Fihtijaj Bissunnah hal 14). 

Berkata Imam Suyuthi rahimahullah : 

" ﺍﻋﻠﻤﻮﺍ ﺭﺣﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥَّ ﻣَﻦ ﺃﻧﻜﺮ ﻛﻮﻥ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﻮﻻ ﻛﺎﻥ ﺃﻭ ﻓﻌﻼ ﺑﺸﺮﻃﻪ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﻮﻝ - ﺣﺠﺔ ﻛﻔﺮ ، ﻭﺧﺮﺝ ﻋﻦ ﺩﺍﺋﺮﺓ ﺍﻹﺳﻼﻡ ، ﻭﺣﺸﺮ ﻣﻊ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺃﻭ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﻣﻦ ﻓﺮﻕ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ " ﺍﻧﺘﻬﻰ .
(ﻣﻔﺘﺎﺡ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﻲ ﺍﻻﺣﺘﺠﺎﺝ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ : ﺹ 14/ ‏) 

"Ketahuilah, siapa yang mengingkari keberadaan hadits nabi shallallahu alaihi wa sallam baik perkataan maupun perbuatan beliau dengan perrsyaratannya yang telah diketahui dalam kaidah-kaidah dasar, maka dia terkena hujjah KAFIR dan dia keluar dari keislaman. Dan kelak dia akan dikumpulkan bersama Yahudi, Nashrani atau kelompok-kelompok kafir." ( (Miftahul Jannah Fihtijaj Bissunnah hal 14). 

Berkata Al'Allamah Ibnu Wazir rahimahullah: 

" ﺍﻟﺘﻜﺬﻳﺐ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﻛﻔﺮ ﺻﺮﻳﺢ " ﺍﻧﺘﻬﻰ .
(ﺍﻟﻌﻮﺍﺻﻢ ﻭﺍﻟﻘﻮﺍﺻﻢ : 2/274 ‏) 

"Mendustakan hadits nabi dan dia juga mengetahui bahwa itu adalah hadits nabi maka dia KAFIR."  (Miftahul Jannah Fihtijaj Bissunnah hal 14). 

Berkata Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (para ulama' KSA): 

" ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﻜﺮ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ ﻳﻜﻮﻥ ﻛﺎﻓﺮﺍ ؛ ﻷﻧﻪ ﻣﻜﺬﺏ ﻟﻠﻪ ﻭﻟﺮﺳﻮﻟﻪ ﻭﻹﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ " ﺍﻧﺘﻬﻰ .( ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻋﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ : 3/194 ‏). 

"Dan orang-orang yang mengingkari beramal dengan sunnnah, dia menjadi KAFIR, karena dia mendustai Allah, RasulNya dan Ijma' kaum muslimin." (Al Majmu'ah Ats Tsaniyah 3/194). 

Berkata Imam Ahmad rahimahullah : 

"ﻣﻦ ﺭﺩ ﺣﺪﻳﺚ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻬﻮ ﻋﻠﻰ ﺷﻔﺎ ﻫﻠﻜﺔ" 

"Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka dia berada pada tepi kebinasaan." (Syarah Ushul I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah Al Lalikai). 

Copas dari berbagai sumber ;

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah