Gelar "Imam" dan "Ayatollah" dalam keyakinan Syi'ah

Gelar "Imam" dan "Ayatollah" dalam keyakinan Syi'ah

1. Imam : 

Dalam teologi Syi'ah, seorang Imam diangkat langsung oleh Allah SWT. Penetapan ini disampaikan melalui wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, dan kemudian setiap Imam mengangkat atau menunjuk Imam penerusnya berdasarkan petunjuk ilahi tersebut (disebut nash). 

Berikut adalah rincian konsep pengangkatan Imam dalam ajaran Syi'ah: 

• Pilihan Ilahi (Nushush): Umat manusia, termasuk para sahabat, tidak memiliki hak atau otoritas untuk memilih seorang Imam. Imam dipilih dan ditetapkan oleh Allah SWT untuk memimpin umat. 

• Penunjukan Berantai: Setiap Imam yang sedang menjabat berwenang menunjuk penerusnya melalui nash (wasiat atau penunjukan langsung) sebelum ia wafat. Contohnya, Ali bin Abi Thalib diangkat oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian Ali menunjuk Hasan bin Ali, dan seterusnya. 

• Sifat Maksum: Karena diangkat langsung oleh Allah, para Imam dalam Syi'ah diyakini bersifat maksum (terbebas dari dosa dan kesalahan), serta memiliki pengetahuan agama yang sempurna. 

2. Ayatollah : 

Ayatollah (bahasa Arab: Ayatullah, secara harfiah berarti "Tanda Tuhan") adalah gelar keagamaan tertinggi yang diberikan kepada ulama senior dalam mazhab Syiah Dua Belas Imam (Imamiyah). Gelar ini mencerminkan keahlian luar biasa seseorang dalam hukum Islam (fikih), teologi, filsafat, dan metodologi hukum (ushul al-fiqh). 

Seorang Ayatollah memiliki otoritas untuk melakukan Ijtihad (mengeluarkan fatwa atau keputusan hukum baru secara mandiri) dan menjadi pemimpin spiritual yang diikuti oleh jutaan umat Syiah. 

Berikut adalah rincian mengenai makna gelar, fungsi, serta bagaimana para tokoh seperti Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei mendapatkan kedudukan tersebut: 

Tingkatan Gelar Ayatollah 

• Ayatollah: Ulama yang telah menyelesaikan studi tingkat tertinggi (Dars-e-Kharej) di lembaga pendidikan tinggi Islam (Hawza) dan diakui sebagai seorang Mujtahid (ahli hukum independen). 

• Ayatollah al-Uzma (Grand Ayatollah): Tingkatan yang jauh lebih tinggi. Mereka tidak hanya seorang ahli, tetapi juga diakui sebagai Marja' at-Taqlid (Sponsor/Referensi Penyelarasan). Umat Syiah awam wajib memilih salah satu Grand Ayatollah sebagai panduan utama mereka dalam menjalankan ibadah dan hukum sehari-hari.  

Siapa yang Mengangkat Seorang Ayatollah? 

Tidak ada lembaga tunggal atau upacara pelantikan formal untuk mengangkat seseorang menjadi Ayatollah. Gelar ini diperoleh melalui proses pengakuan informal dan konsensus ilmiah (peer recognition): 

• Validasi Guru dan Ulama Senior: Ketika seorang siswa Hawza dinilai mampu berijtihad, guru-gurunya (yang sudah menjadi Ayatollah senior) akan memberikan sertifikat ijtihad (ijazah). 

• Penerimaan Komunitas Ilmiah: Reputasi akademik, kualitas buku yang ditulis, serta ceramah ilmiah tingkat tinggi yang dibawakannya di pusat seminari (seperti di Qom, Iran atau Najaf, Irak) diakui secara luas oleh sesama ulama. 

• Pengikut Akar Rumput: Dukungan umat yang mulai merujuk pada fatwa-fatwanya dan membayar dana keagamaan (Khums) kepadanya mengukuhkan posisinya sebagai seorang Ayatollah. 

Perbedaan Kasus: Ayatollah Khomeini vs. Ayatollah Khamenei 

Dalam konteks politik modern Iran, posisi keagamaan "Ayatollah" kerap beririsan dengan jabatan politik tertinggi negara, yaitu Pemimpin Tertinggi Iran (Rahbar atau Vali-ye Faqih). 

Ayatollah Ruhollah Khomeini : 

Mendapat Gelar Ayatollah? Bagaimana Menjadi Pemimpin Negara? 

Ayatollah Ruhollah Khomeini Naik pangkat murni melalui jalur akademis tradisional di Hawza Qom sejak era 1920-an hingga diakui sebagai Grand Ayatollah. 

Menjadi pemimpin negara setelah memimpin Revolusi Islam Iran 1979 yang meruntuhkan monarki Shah Pahlavi. Otoritasnya muncul dari dukungan masif akar rumput. 


Ayatollah Ali Khamenei : 

Berlatar belakang ulama dan pernah belajar di bawah bimbingan Khomeini. Pada saat naik takhta, ia masih berada di level ulama menengah (Hojjatoleslam). 

Diangkat oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) pada 4 Juni 1989 untuk menggantikan Khomeini yang wafat. Majelis Ahli (badan yang berisi 88 ulama senior) bahkan mengamendemen konstitusi agar Khamenei bisa memimpin meskipun belum mencapai tingkat Marja' tertinggi pada waktu itu. Gelar kepakarannya kemudian dikukuhkan seiring waktu oleh komunitas ulama di Teheran dan Qom. 

(Catatan Historis: Ali Khamenei memimpin Iran hingga awal tahun 2026, dan setelah kematiannya, posisinya dalam masa transisi melibatkan otoritas ulama senior seperti Ayatollah Alireza Arafi sebelum kepemimpinan negara dilanjutkan oleh Mojtaba Khamenei). 

Imam Khomeini "Yahudi, ayat setan"

Ustadz Khalid Basalamah secara konsisten menganggap paham Syiah yang dianut oleh para pemimpin atau Ayatollah di Iran sebagai ajaran yang menyimpang atau sesat dan bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam pandangan beliau, penyimpangan ini bersifat mendasar, bukan sekadar perbedaan fikih biasa. 

Dalam berbagai kajiannya mengenai sekte-sekte Islam, beliau menekankan bahwa akidah Syiah, khususnya Imamiyah yang menjadi mazhab resmi negara Iran, memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan Islam mayoritas. Beliau juga kerap menyoroti friksi sejarah dan ideologis antara kelompok tersebut dengan dunia Islam Sunni. 

Untuk memverifikasi rincian penjelasan dan konteks sejarah yang beliau sampaikan, Anda dapat merujuk pada rekaman kajian beliau mengenai akidah Syiah di platform resmi seperti Khalid Basalamah Official YouTube.

Dikalangan Syi'ah, ucapan Ust
Khalid Basalamah di video ini adalah fitnah, tapi dari pada hakikat kekafiran Imam Khomeini dengan ajaran Syi'ahnya berasal dari orang Yahudi dan berucap ucapan setan, simak selanjutnya di video berikut ini :

Baca artikel berikut :

Dalam literatur keislaman, penyebutan istilah "Ayat Setan" (atau yang sering dipadankan dengan Ayatullat sebagai plesetan dari Ayatullah) terhadap tokoh Syiah seperti Ruhollah Khomeini memang kerap muncul dalam perdebatan dan kajian dari beberapa tokoh agama yang mengkritik keras ajaran Syiah. Kritik tersebut biasanya didasarkan pada perbedaan teologis yang sangat mendasar antara Sunni dan Syiah. 

Beberapa poin teologis yang umumnya menjadi landasan kritik terhadap pandangan Syiah antara lain: 

• Konsep Imamah: Dalam Syiah, Imam dianggap memiliki kedudukan maksum (terjaga dari dosa) dan memiliki otoritas spiritual yang mirip dengan kenabian. Paham ini ditolak keras dalam Sunni, yang meyakini bahwa wahyu dan kenabian telah tertutup dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. 

• Taqiyyah: Ajaran Syiah memperbolehkan taqiyyah (menyembunyikan keyakinan atau berkata yang tidak sebenarnya dalam kondisi terancam). Praktik ini sering dikritik oleh ulama Sunni sebagai bentuk manipulasi atau ketidakjujuran dalam beragama. 

• Pandangan terhadap Sahabat: Terdapat perbedaan besar dalam menyikapi sahabat Nabi Muhammad SAW. Aliran yang mengkritik Syiah sering menyoroti doktrin sebagian kelompok Syiah yang mencela atau mengkafirkan sahabat utama, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. 

Perbedaan-perbedaan ini yang kemudian memicu polarisasi pandangan, di mana tokoh-tokoh yang berseberangan dengan Syiah menganggap ajaran tersebut menyimpang jauh dari prinsip dasar Islam (Ahlussunnah wal Jamaah).

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah