Teknologi Teleportasi Zaman Nabi Sulaiman dalam Sudut Pandang Alquran dan Sains

Kisah Nabi Sulaiman 
Memindahkan Singgasana Ratu Balqis 

Oleh : Yunahar Ilyas 

Nabi Sulaiman AS menyuruh utusan Ratu Balqis untuk membawa kembali hadiah-hadiah yang mereka bawa dari Kerajaan Saba’. Pesan Sulaiman dalam suratnya jelas, Ratu Balqis dan para pembesarnya harus datang menemui beliau sebagai orang-orang yang berserah diri (wa âtûni muslimîn).

Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Sulaiman dari Ratu Balqis. Apakah sekadar tunduk kepada beliau atau ingin agar Ratu Balqis dan para pembesarnya serta penduduk Saba’ tidak lagi menyembah matahari seperti yang dilaporkan oleh Hud-hud sebelumnya.

Dalam surat yang dikirimkan tersebut tidak ada perintah untuk menghentikan penyembahan matahari, juga tidak ada perintah untuk menyembah Allah SWT semata. Sulaiman hanya melarang Ratu Balqis dan para pembesarnya berlaku sombong kepadanya, dan memerintahkannya untuk datang beserah diri. 

Sebagai seorang Nabi dan Raja tentu Sulaiman menginginkan kedua-duanya. Tetapi tentu beliau tidak boleh memaksa siapa pun untuk masuk Islam. Maka langkah srategis yang dilakukan Sulaiman adalah menundukkan Kerajaan Saba’ berada di bawah kekuasaannya, dengan demikian ada jalan untuk menghentikan penyembahan matahari. Itu sebab para mufassir tidak menafsirkan kalimat wa âtûni muslimîn sebagai datanglah kepadaku untuk masuk Islam, tapi datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.

Nabi Sulaiman sama sekali tidak tertarik dengan  persembahan rupa-rupa hadiah yang dikirimkan Ratu Balqis. Beliau menolaknya mentah-mentah. Bahkan mengancam akan mengerahkan pasukan menyerang Kerajaan Saba’. Jelas sudah misi utusan Ratu Balqis gagal. 

Jika pasukan Sulaiman datang menyerang dengan kekuatan penuh, Ratu Balqis dan pasukannya tidak akan sanggup bertahan, apalagi mengalahkan balatentara Sulaiman yang perkasa itu.  Dengan demikikan, kerusakan besar akan terjadi. Ratu dan para pembesar kerajaan akan digiring ke Kerajaan Sulaiman sebagai tawanan yang hina.

Ratu kembali berunding dengan para pembesar kerajaan dan kemudian mengambil keputusan akan datang langsung menghadap Raja Sulaiman. Ratu akan diiringi oleh pembesar kerajaan dan dikawal oleh pasukan secukupnya. Keputusan itu segera dikabarkan kepada Sulaiman melalui utusan berikutnya. 

Mendapat kabar bahwa Ratu Balqis akan datang, Nabi Sulaiman punya ide untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis dari istananya di Saba’ ke istana Sulaiman di Palestina. Sulaiman  menanyakan kepada para  pembesar kerajaannya,  siapa yang sanggup memindahkan singgasana itu secepatnya sebelum Ratu Balqis dan rombongan datang. Allah SWT berfirman: 

قَالَ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ أَيُّكُمۡ يَأۡتِينِي بِعَرۡشِهَا قَبۡلَ أَن يَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ ٣٨ قَالَ عِفۡرِيتٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَۖ وَإِنِّي عَلَيۡهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٞ ٣٩ 

"Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. (Q.S. An-Naml 27: 38-39) 

Menurut Muhammad ibn Ishaq, seperti dikutip Ibn Katsir dalam Kitab Tafsirnya (10:407), setelah para utusan kembali dan melaporkan penolakan dan ancaman Sulaiman, Ratu Balqis menyatakan: “Aku sudah tahu bahwa Sulaiman  itu bukan (hanya) seorang Raja. Kita tidak punya kemampuan untuk menghadapinya.” Kemudian Ratu mengirim utusan menyampaikan pesannya kepada Sulaiman: “Aku akan datang menemui engkau bersama para pembesar kaumku. Aku akan lihat apa titahmu, dan apa agama yang engkau ajak kami mengikutinya”. 

Setelah itu Ratu melakukan persiapan perjalanan. Singgasananya yang terbuat dari emas berhiaskan batu-batu mulia yaqut, zabarjad dan lu’lu’ dia perintahkan untuk dimasukkan dalam sebuah peti besar dengan penutup tujuh lapis. Sepeninggal dia tidak seorang pun boleh membukanya apalagi duduk di atas singgasananya. 

Setelah rombongan besar dari Yaman berangkat, Nabi Sulaiman memerintahkan pasukan jinnya untuk memantau siang dan malam perjalanan rombongan tersebut. Setelah dekat, Nabi Sulaiman menanyakan kepada para pembesar kerajaannya, siapa yang sanggup memindahkan singgasana Ratu Balqis ke Istana beliau, sebelum Ratu dan rombongannya sampai. 

Yang pertama menyatakan kesanggupannya adalah Jin Ifrit. Dia sanggup memindahkan singgasana tersebut sebelum Baginda Sulaiman berdiri dari duduknya. Jika Nabi Sulaiman setuju, kemudian langsung berdiri, maka singgasana tersebut sudah berada di dalam istana beliau. 

Menurut M. Quraish Shihab, Ifrit berarti yang sangat kuat lagi sangat cerdas dan tidak dapat dicederai, tidak juga dapat terkalahkan. Biasanya kata ini hanya menunjuk kepada makhlus halus,dan bila digunakan menyifati manusia, maka itu dalam konteks  mempersamakannya dengan makhluk halus itu” (Tafsir Al-Mishbah 10:224) 

Belum lagi Nabi Sulaiman menjawab, muncul lagi tawaran yang lebih hebat dan lebih cepat. Kali ini datang bukan dari bangsa jin, tapi dari bangsa manusia. Allah SWT berfirman: 

قَالَ ٱلَّذِي عِندَهُۥ عِلۡمٞ مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن يَرۡتَدَّ إِلَيۡكَ طَرۡفُكَ 

"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”...  (Q.S. An-Naml 27: 40) 

Kalau Jin Ifrit sanggup memindahkan singgasana itu sebelum Sulaiman berdiri dari duduknya, maka laki-laki yang punya ilmu al-Kitab ini sanggup melakukannya dalam sekejap mata. Tentu saja tidak ada  lagi yang akan bisa menandinginya. Al-Qur’an tidak menceritakan lagi jawaban Nabi Sulaiman. Begitu mata tapi Sulaiman berkedip secara refleks seperti umumnya manusia, maka tiba-tiba singgasana Ratu Balqis sudah ada di hadapan beliau. 

Menyaksikan singgasana itu sudah ada di hadapan beliau, Sulaiman sangat bersyukur, dan menyatakan bahwa ini semua adalah karunia dari Allah SWT yang diberikan kepada beliau, untuk mengaujinya, apakah di dapat bersyukur atau kufur. “Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. Allah SWT berfirman melanjutkan ayat 40 di atas: 

فَلَمَّا رَءَاهُ مُسۡتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّي لِيَبۡلُوَنِيٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّٞ كَرِيمٞ ٤٠ 

“… Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.(Q.S. An-Naml 27: 40) 

Siapakah laki-laki yang menguasai ilmu al-Kitab tersebut?

Simak video berikut :





Sumber video : https://www.facebook.com/sha


Baca artikel : 

Teknologi Teleportasi Zaman Nabi Sulaiman dalam Sudut Pandang Alquran dan Sains 

Teleportasi adalah konsep berpindah tempat dalam waktu singkat. Teknologi ini, sudah didengungkan sejak dulu. Tetapi, hingga kini belum ada ilmuwan yang berhasil mewujudkannya. 

Adapun salah satu peristiwa yang cukup terkenal dan banyak menjadi legenda untuk menggambarkan aktivitas teleportasi adalah pemindahan singgasana Ratu Bilqis atas perintah Nabi Sulaiman, di mana kerajaan keduanya berjarak lebih dari 2.000 km, tetapi dapat disatukan hanya dalam sekejap mata. 

Kejadian itu pun tertulis dalam Alquran, Allah SWT berfirman: 

"Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?” (QS: An-Naml 38) 

"‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” (QS: An-Naml 39) 

"Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).
Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (QS: An-Naml 40). 

Dari penjabaran di atas, dapat dipahami bahwa teknologi teleportasi sudah ada di zaman Nabi Sulaiman dan hal itu dilakukan tanpa sihir, d imana Baginda Sulaiman memilih seorang manusia yang bernama Asif Bin Barkhiya. 

Berdasarkan kitab yang ditulis oleh Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, dijelaskan jika ahli kitab sekaligus ilmuwan tersebut melakukan pemindahan singgasana secepat cahaya itu dengan memanjatkan do'a kepada Allah SWT yang mana do'a itu berbunyi: 

"Ya Allah Ya Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, tidak ada Tuhan selain Engkau. Datangkan padaku singgasana itu." 

Lantas bagaimana sains menjelaskan fenomena tersebut? Ternyata ada 2 cara yang telah diungkapkan oleh para ahli fisika dan membuktikan bahwa teleportasi bisa saja dilakukan, meski tentu masih sulit diterima secara akal. 

Pertama adalah dengan membuat medan magnet yang sangat kuat sehingga seluruh partikel yang akan dipindahkan berubah karakter. Contoh konkretnya adalah peristiwa difusi nuklir yang melibatkan energi sangat kuat. 

Prinsip itu digunakan dalam Teori Kuantum Teleportasi yakni partikel-partikel diubah dan dibuat berputar lebih cepat dan dilakukan decoding atau penyatuan di tempat tujuan. Sesampainya di lokasi, kemudian di encoding sehingga wujud asli partikel kembali. 

Cara kedua adalah Asif Bin Barkhiya sang penemu teknologi teleportasi Nabi Sulaiman itu mampu memasuki sebuah dimensi dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi pembatas. 

Itulah yang dinamakan dengan dimensi malaikat atau dalam fisika dinamakan black-hole, yang memungkinkan siapapun untuk berpindah tempat tanpa jarak dan waktu. 

An-Naml, ayat 38-40 dalam tafsir Ibnu Katsir : 

{قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (38) قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40) } 

Sulaiman berkata, "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?” 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat­Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.” 

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Ruman yang telah mengatakan bahwa setelah utusan-utusan itu kembali kepada ratunya dengan membawa pesan Nabi Sulaiman, maka ratu mereka berkata, "Sesungguhnya, demi Allah, aku mengetahui bahwa dia bukanlah seorang raja, dan kita tidak akan mampu melawannya, tiada pula artinya kebesaran kita di hadapannya." Kemudian Ratu Balqis mengirimkan kurirnya untuk memberitahukan kepada Nabi Sulaiman bahwa ia akan datang bersama semua pembesar kaumnya untuk menyaksikan sendiri keadaan Nabi Sulaiman dan agama yang diserukannya. Kemudian Ratu Balqis memerintahkan agar singgasana yang biasa dipakai duduk olehnya diamankan. Singgasananya terbuat dari emas yang dihiasi dengan batu yaqut, zabarjad, dan mutiara, lalu disimpan di bagian yang terdalam dari tujuh ruangan yang berlapis-lapis; masing-masing ruangan dikunci pintunya. Dan Balqis berkata kepada petugas yang diserahi tugas untuk menggantikan kedudukannya selama ia pergi, "Jagalah singgasana kerajaanku ini dengan segenap kekuatan dan fasilitas yang ada pada kamu, jangan biarkan seorang manusia pun masuk ke dalamnya dan jangan sekali-kali kamu memperlihatkannya kepada seorang pun sebelum aku datang." 

Kemudian berangkatlah Balqis menuju negara Nabi Sulaiman bersama dua belas ribu iring-iringan yang terdiri dari semua raja negeri Yaman; masing-masing iringan terdiri dari ribuan prajurit. Nabi Sulaiman Menugaskan jin-jin untuk memantau perjalanan Ratu Balqis dan melaporkan kepadanya setiap hari dan malamnya. Manakala Ratu Balqis beserta iringannya telah dekat, maka Nabi Sulaiman mengumpulkan semua jin dan manusia yang berada di bawah kekuasaannya, lalu ia berkata kepada mereka: Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri? (An-Naml: 38) 

Qatadah mengatakan bahwa ketika sampai kepada Nabi Sulaiman bahwa Balqis akan tiba dan telah diceritakan kepadanya perihal singgasana Balqis, maka ia merasa kagum dengan kisahnya. Disebutkan bahwa singgasana Balqis terbuat dari emas, kaki-kakinya terbuat dari mutiara dan batu permata, sedangkan penutupnya terbuat dari kain sutra tebal dan kain sutra tipis; dan singgasana itu diletakkan di balik pintu sembilan lapis. Maka Nabi Sulaiman tertarik ingin merampas singgasana itu, tetapi ia tidak suka bila merampasnya, sedangkan pemiliknya telah masuk Islam. Nabi Sulaiman 'alaihissalam telah mengetahui bahwa bilamana mereka telah masuk Islam, maka haramlah harta benda dan darah mereka baginya. Untuk itu ia berkata: Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri? (An-Naml: 38) 

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, dan Zuhair ibnu Muhammad. 

{قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ} 

sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri? (An-Naml: 38) 

Bila telah demikian, berarti haram bagiku harta benda mereka karena mereka telah masuk Islam. 

{قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ} 

'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata. (An-Naml: 39) 

Menurut Mujahid, 'Ifrit artinya jin yang jahat. Syu'aib Al-Jiba-i mengatakan bahwa nama 'Ifrit itu adalah Kauzan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Muhammad ibnu Ishaq, dari Yazid ibnu Ruman; dan hal yang sama dikatakan pula oleh Wahb ibnu Munabbih dan Abu Saleh, disebutkan bahwa besarnya 'Ifrit tersebut sama dengan sebuah bukit. 

{أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ} 

Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepada­mu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. (An-Naml: 39) 

Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebelum Nabi Sulaiman bangkit meninggalkan majelisnya. Mujahid mengatakan, dari tempat duduknya. As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa Sulaiman 'alaihissalam biasa duduk di majelisnya untuk melakukan peradilan dan keputusan hukum di antara orang-orang, juga untuk memberi makan mulai dari permulaan siang hari hingga matahari tergelincir. 

{وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ} 

sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya. (An-Naml: 39) 

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa 'Ifrit itu kuat membawanya lagi dapat dipercaya untuk menjaga semua permata yang ada di dalam singgasana itu. Maka Nabi Sulaiman berkata, "Aku menginginkan lebih cepat dari itu." 

Dapat disimpulkan bahwa Nabi Sulaiman bermaksud mendatangkan singgasana itu untuk menampakkan kebesaran dari apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya, yaitu kerajaan dan bala tentara yang ditundukkan untuknya; belum pernah ada seorang pun yang dianugerahi pemberian seperti itu dan tidak pula sesudahnya. Agar hal tersebut dijadikan sebagai bukti kenabiannya di hadapan Ratu Balqis dan kaumnya. Karena suatu hal yang luar biasa bila singgasananya didatangkan seperti apa adanya (utuh) sebelum mereka datang ke hadapan Sulaiman 'alaihissalam Padahal singgasana itu ditaruh di tempat yang terkunci berlapis-lapis dan di bawah pengawalan dan penjagaan yang sangat ketat. Ketika Sulaiman 'alaihissalam mengatakan bahwa ia menginginkan yang lebih cepat dari itu, 

{قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ} 

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab. (An-Naml: 40) 

Ibnu Abbas mengatakan bahwa nama orang itu adalah Asif, sekretaris Nabi Sulaiman. Hal yang sama diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq, dari Yazid ibnu Ruman yang telah mengatakan bahwa nama orang tersebut adalah Asif ibnu Barkhia, dia adalah seorang yang jujur lagi mengetahui Ismul A'zam. 

Qatadah mengatakan bahwa nama orang tersebut adalah Asif, seorang yang beriman dari kalangan manusia. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Saleh, Ad-Dahhak, dan Qatadah, bahwa dia adalah seorang manusia. Qatadah menyebutkan keterangan yang lebih lengkap, bahwa orang itu berasal dari Bani Israil. Mujahid mengatakan bahwa nama orang itu adalah Astum. Menurut Qatadah dalam riwayat lain yang bersumber darinya, menyebutkan bahwa nama orang itu adalah Balikha. 

Zuhair ibnu Muhammad mengatakan, dia adalah seorang lelaki yang dikenal dengan nama Zun Nur. Abdullah ibnu Lahi'ah menduga bahwa lelaki tersebut adalah Khidir, tetapi pendapatnya ini aneh sekali. 

***** 

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

{أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ} 

Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. (An-Naml: 40) 

Orang itu berkata kepada Sulaiman 'alaihissalam, "Angkatlah pandangan matamu ke atas dan lihatlah sejauh matamu memandang, maka sesungguhnya bila matamu merasa lelah dan berkedip, singgasana itu telah berada di hadapanmu." 

Wahb ibnu Munabbih mengatakan, "Layangkanlah pandangan matamu sejauh mataku memandang, maka sebelum pandangan matamu mencapai pemandangan yang terjauh, aku telah dapat mendatangkan singgasana itu." Para ulama menyebutkan bahwa Asif meminta kepada Sulaiman 'alaihissalam agar memandang ke arah negeri Yaman tempat singgasana itu terdapat, lalu Asif berwudu dan berdoa kepada Allah. Mujahid mengatakan bahwa Asif mengatakan dalam doanya, "Ya Zal Jalali Wal Ikram," yang artinya "Ya Tuhan yang memiliki keagungan dan kemuliaan". 

Az-Zuhri mengatakan bahwa Asif mengatakan dalam doanya, "Ya Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Engkau, datangkanlah 'Arasynya kepadaku." Maka seketika itu juga singgasana ('Arasy)nya berada di hadapannya. , 

Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ishaq, Zuhair ibnu Muhammad, dan lain-lainnya mengatakan bahwa setelah berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar singgasana Balqis didatangkan di hadapannya, saat itu singgasana berada di negeri Yaman, sedangkan Nabi Sulaiman berada di Baitul Maqdis, maka singgasana Balqis hilang dan masuk ke dalam tanah kemudian muncul di hadapan Sulaiman 'alaihissalam 

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, Sulaiman tidak menyadari bahwa singgasana Balqis dalam sekejap mata telah berada di hadapannya. Dan yang membawa ke hadapannya adalah salah seorang dari hamba Allah yang ada di laut. Setelah singgasana Balqis berada di hadapannya dan para pembesar kerajaannya menyaksikan hal itu, 

{قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي} 

ia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku.” (An-Naml: 40) 

Yaitu ini adalah nikmat Allah yang diberikan kepadaku. 

{أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ} 

untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguh­nya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. (An-Naml: 40) 

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatakan: 

{مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا} 

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. (Fussilat: 46) 

{وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلأنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ} 

dan barang siapa yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). (Ar-Rum: 44) 

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

{وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ} 

Dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia. (An-Naml: 40) 

Artinya Allah Mahakaya, tidak memerlukan hamba-hamba-Nya dan juga penyembahan mereka, 

{كَرِيمٌ} 

lagi Mahamulia. (An-Naml: 40) 

Zat Allah Mahamulia, sekalipun tidak ada seseorang yang menyembah-Nya, kebesaran Allah tidak memerlukan kepada seseorang pun dari makhluk-Nya. Hal ini sama seperti yang diungkapkan oleh Musa: 

{إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ} 

Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (Ibrahim: 8) 

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam hadis Qudsi-Nya: 

"يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ، مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي، لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ، كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مِلْكِي شَيْئًا. يَا عِبَادِي، إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ [ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا] فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمِنْ وَجَدَ غَيْرَ ذلك فلا يلومن إلا نفسه" 

Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dan orang-orang yang terkemudian dari kalian; baik manusia maupun jin semuanya bertakwa seperti seseorang yang paling bertakwa di antara kalian, maka hal itu sama sekali tidak menambah apa pun di dalam kerajaan-Ku. Hai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang pertama dari kalian dan yang terkemudian baik manusia maupun jin semuanya durhaka seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, maka hal itu sama sekali tidak mengurangi sedikit pun dalam kerajaan-Ku. Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya hal itu hanyalah amal perbuatan kalian, Akulah yang menghitung­ hitungnya bagi kalian, kemudian Aku tunaikan bagi kalian pembalasannya. Barang siapa yang menjumpai kebaikan (dalam balasannya), hendaklah ia memuji kepada Allah; dan barang siapa yang menjumpai selain dari itu, maka jangan sekali-kali ia mencela kecuali dirinya sendiri.

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah