Teknologi Teleportasi Zaman Nabi Sulaiman dalam Sudut Pandang Alquran dan Sains
Sumber video : https://youtu.be/8oVETTOSW4o
Kisah Nabi Sulaiman
Memindahkan Singgasana Ratu Balqis
Oleh : Yunahar Ilyas
Nabi Sulaiman AS menyuruh utusan Ratu Balqis untuk membawa kembali hadiah-hadiah yang mereka bawa dari Kerajaan Saba’. Pesan Sulaiman dalam suratnya jelas, Ratu Balqis dan para pembesarnya harus datang menemui beliau sebagai orang-orang yang berserah diri (wa âtûni muslimîn).
Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Sulaiman dari Ratu Balqis. Apakah sekadar tunduk kepada beliau atau ingin agar Ratu Balqis dan para pembesarnya serta penduduk Saba’ tidak lagi menyembah matahari seperti yang dilaporkan oleh Hud-hud sebelumnya.
Dalam surat yang dikirimkan tersebut tidak ada perintah untuk menghentikan penyembahan matahari, juga tidak ada perintah untuk menyembah Allah SWT semata. Sulaiman hanya melarang Ratu Balqis dan para pembesarnya berlaku sombong kepadanya, dan memerintahkannya untuk datang beserah diri.
Sebagai seorang Nabi dan Raja tentu Sulaiman menginginkan kedua-duanya. Tetapi tentu beliau tidak boleh memaksa siapa pun untuk masuk Islam. Maka langkah srategis yang dilakukan Sulaiman adalah menundukkan Kerajaan Saba’ berada di bawah kekuasaannya, dengan demikian ada jalan untuk menghentikan penyembahan matahari. Itu sebab para mufassir tidak menafsirkan kalimat wa âtûni muslimîn sebagai datanglah kepadaku untuk masuk Islam, tapi datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.
Nabi Sulaiman sama sekali tidak tertarik dengan persembahan rupa-rupa hadiah yang dikirimkan Ratu Balqis. Beliau menolaknya mentah-mentah. Bahkan mengancam akan mengerahkan pasukan menyerang Kerajaan Saba’. Jelas sudah misi utusan Ratu Balqis gagal.
Jika pasukan Sulaiman datang menyerang dengan kekuatan penuh, Ratu Balqis dan pasukannya tidak akan sanggup bertahan, apalagi mengalahkan balatentara Sulaiman yang perkasa itu. Dengan demikikan, kerusakan besar akan terjadi. Ratu dan para pembesar kerajaan akan digiring ke Kerajaan Sulaiman sebagai tawanan yang hina.
Ratu kembali berunding dengan para pembesar kerajaan dan kemudian mengambil keputusan akan datang langsung menghadap Raja Sulaiman. Ratu akan diiringi oleh pembesar kerajaan dan dikawal oleh pasukan secukupnya. Keputusan itu segera dikabarkan kepada Sulaiman melalui utusan berikutnya.
Mendapat kabar bahwa Ratu Balqis akan datang, Nabi Sulaiman punya ide untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis dari istananya di Saba’ ke istana Sulaiman di Palestina. Sulaiman menanyakan kepada para pembesar kerajaannya, siapa yang sanggup memindahkan singgasana itu secepatnya sebelum Ratu Balqis dan rombongan datang. Allah SWT berfirman:
قَالَ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ أَيُّكُمۡ يَأۡتِينِي بِعَرۡشِهَا قَبۡلَ أَن يَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ ٣٨ قَالَ عِفۡرِيتٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَۖ وَإِنِّي عَلَيۡهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٞ ٣٩
"Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. (Q.S. An-Naml 27: 38-39)
Menurut Muhammad ibn Ishaq, seperti dikutip Ibn Katsir dalam Kitab Tafsirnya (10:407), setelah para utusan kembali dan melaporkan penolakan dan ancaman Sulaiman, Ratu Balqis menyatakan: “Aku sudah tahu bahwa Sulaiman itu bukan (hanya) seorang Raja. Kita tidak punya kemampuan untuk menghadapinya.” Kemudian Ratu mengirim utusan menyampaikan pesannya kepada Sulaiman: “Aku akan datang menemui engkau bersama para pembesar kaumku. Aku akan lihat apa titahmu, dan apa agama yang engkau ajak kami mengikutinya”.
Setelah itu Ratu melakukan persiapan perjalanan. Singgasananya yang terbuat dari emas berhiaskan batu-batu mulia yaqut, zabarjad dan lu’lu’ dia perintahkan untuk dimasukkan dalam sebuah peti besar dengan penutup tujuh lapis. Sepeninggal dia tidak seorang pun boleh membukanya apalagi duduk di atas singgasananya.
Setelah rombongan besar dari Yaman berangkat, Nabi Sulaiman memerintahkan pasukan jinnya untuk memantau siang dan malam perjalanan rombongan tersebut. Setelah dekat, Nabi Sulaiman menanyakan kepada para pembesar kerajaannya, siapa yang sanggup memindahkan singgasana Ratu Balqis ke Istana beliau, sebelum Ratu dan rombongannya sampai.
Yang pertama menyatakan kesanggupannya adalah Jin Ifrit. Dia sanggup memindahkan singgasana tersebut sebelum Baginda Sulaiman berdiri dari duduknya. Jika Nabi Sulaiman setuju, kemudian langsung berdiri, maka singgasana tersebut sudah berada di dalam istana beliau.
Menurut M. Quraish Shihab, Ifrit berarti yang sangat kuat lagi sangat cerdas dan tidak dapat dicederai, tidak juga dapat terkalahkan. Biasanya kata ini hanya menunjuk kepada makhlus halus,dan bila digunakan menyifati manusia, maka itu dalam konteks mempersamakannya dengan makhluk halus itu” (Tafsir Al-Mishbah 10:224)
Belum lagi Nabi Sulaiman menjawab, muncul lagi tawaran yang lebih hebat dan lebih cepat. Kali ini datang bukan dari bangsa jin, tapi dari bangsa manusia. Allah SWT berfirman:
قَالَ ٱلَّذِي عِندَهُۥ عِلۡمٞ مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن يَرۡتَدَّ إِلَيۡكَ طَرۡفُكَ
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”... (Q.S. An-Naml 27: 40)
Kalau Jin Ifrit sanggup memindahkan singgasana itu sebelum Sulaiman berdiri dari duduknya, maka laki-laki yang punya ilmu al-Kitab ini sanggup melakukannya dalam sekejap mata. Tentu saja tidak ada lagi yang akan bisa menandinginya. Al-Qur’an tidak menceritakan lagi jawaban Nabi Sulaiman. Begitu mata tapi Sulaiman berkedip secara refleks seperti umumnya manusia, maka tiba-tiba singgasana Ratu Balqis sudah ada di hadapan beliau.
Menyaksikan singgasana itu sudah ada di hadapan beliau, Sulaiman sangat bersyukur, dan menyatakan bahwa ini semua adalah karunia dari Allah SWT yang diberikan kepada beliau, untuk mengaujinya, apakah di dapat bersyukur atau kufur. “Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. Allah SWT berfirman melanjutkan ayat 40 di atas:
فَلَمَّا رَءَاهُ مُسۡتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّي لِيَبۡلُوَنِيٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّٞ كَرِيمٞ ٤٠
“… Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.(Q.S. An-Naml 27: 40)
Siapakah laki-laki yang menguasai ilmu al-Kitab tersebut?
Simak video berikut :
Sumber video : https://youtu.be/95pMe0E1c
Sumber video : https://www.facebook.com/share/
Teknologi Teleportasi Zaman Nabi Sulaiman dalam Sudut Pandang Alquran dan Sains
Teleportasi adalah konsep berpindah tempat dalam waktu singkat. Teknologi ini, sudah didengungkan sejak dulu. Tetapi, hingga kini belum ada ilmuwan yang berhasil mewujudkannya.
Adapun salah satu peristiwa yang cukup terkenal dan banyak menjadi legenda untuk menggambarkan aktivitas teleportasi adalah pemindahan singgasana Ratu Bilqis atas perintah Nabi Sulaiman, di mana kerajaan keduanya berjarak lebih dari 2.000 km, tetapi dapat disatukan hanya dalam sekejap mata.
Kejadian itu pun tertulis dalam Alquran, Allah SWT berfirman:
"Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?” (QS: An-Naml 38)
"‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” (QS: An-Naml 39)
"Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).
Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (QS: An-Naml 40).
Dari penjabaran di atas, dapat dipahami bahwa teknologi teleportasi sudah ada di zaman Nabi Sulaiman dan hal itu dilakukan tanpa sihir, d imana Baginda Sulaiman memilih seorang manusia yang bernama Asif Bin Barkhiya.
Berdasarkan kitab yang ditulis oleh Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, dijelaskan jika ahli kitab sekaligus ilmuwan tersebut melakukan pemindahan singgasana secepat cahaya itu dengan memanjatkan do'a kepada Allah SWT yang mana do'a itu berbunyi:
"Ya Allah Ya Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, tidak ada Tuhan selain Engkau. Datangkan padaku singgasana itu."
Lantas bagaimana sains menjelaskan fenomena tersebut? Ternyata ada 2 cara yang telah diungkapkan oleh para ahli fisika dan membuktikan bahwa teleportasi bisa saja dilakukan, meski tentu masih sulit diterima secara akal.
Pertama adalah dengan membuat medan magnet yang sangat kuat sehingga seluruh partikel yang akan dipindahkan berubah karakter. Contoh konkretnya adalah peristiwa difusi nuklir yang melibatkan energi sangat kuat.
Prinsip itu digunakan dalam Teori Kuantum Teleportasi yakni partikel-partikel diubah dan dibuat berputar lebih cepat dan dilakukan decoding atau penyatuan di tempat tujuan. Sesampainya di lokasi, kemudian di encoding sehingga wujud asli partikel kembali.
Cara kedua adalah Asif Bin Barkhiya sang penemu teknologi teleportasi Nabi Sulaiman itu mampu memasuki sebuah dimensi dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi pembatas.
Itulah yang dinamakan dengan dimensi malaikat atau dalam fisika dinamakan black-hole, yang memungkinkan siapapun untuk berpindah tempat tanpa jarak dan waktu.
Komentar
Posting Komentar