Berhati-Hati Dari Perkara Yang Diada-adan Oleh Syiah Pada Hari Asyura

Berhati-Hati Dari Perkara Yang Diada-adan Oleh Syiah Pada Hari Asyura 

Di antara kelakuan sesat Rafidhah (Syi’ah) adalah memukul dada, menampar pipi, memukul bahu, mengiris-ngiris kepala mereka dengan pedang sampai menumpahkan darah. Semua ini dilakukan pada hari Asyura. 

Di antara kelakuan sesat Rafidhah (Syi’ah) adalah memukul dada, menampar pipi, memukul bahu, mengiris-ngiris kepala mereka dengan pedang sampai menumpahkan darah. Semua ini dilakukan pada hari ‘Asyura, 10 Muharram. Hal ini dilatarbelakangi karena kecintaan mereka pada Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib. Mereka sedih atas kematian Husain, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mati terbunuh. 

Umat Islam perlu waspada terhadap bid’ah dan tradisi yang diada-adakan kaum Syiah pada 10 Muharram (Hari Asyura), seperti meratap, menyiksa diri, dan menjadikannya hari berkabung atas kematian Husain bin Ali r.a.. Praktik ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mensunnahkan puasa Asyura sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa a.s.. 

Perkara-Perkara Yang Diada-adakan 

Berikut beberapa perkara yang diada-adakan oleh kaum Syiah pada hari Asyura yang harus dihindari: 

• Meratap dan Berkabung (Niyahah)

Mengadakan majelis ratapan, menangis histeris, dan memukul-mukul dada atau wajah sebagai bentuk kesedihan yang berlebihan. 

• Menyiksa Diri (Tatbir/Tsabar)

Melakukan aksi melukai tubuh, seperti memukul punggung dengan rantai, menyayat kepala dengan pedang, hingga berdarah-darah, yang dianggap bentuk penebusan dosa. 

• Melarang Puasa

Tradisi Syiah melarang puasa pada hari Asyura dan menganggapnya sebagai hari sial, bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan puasa. 

• Menjadikan Hari Raya Syirik

Mengubah hari Asyura menjadi hari ratapan tahunan yang dianggap lebih penting daripada hari raya Islam, bahkan seringkali diselingi dengan tindakan melaknat sahabat Nabi. 

Sebagai umat Muslim, dianjurkan untuk mengikuti sunnah Nabi SAW dengan berpuasa pada hari ke-10 Muharram (dan disunnahkan menambah puasa pada hari ke-9 atau 11). 

Kenapa Kelakuan Mereka Dikatakan Sesat? 

Karena setiap perkara muhdats yang tidak pernah dicontohkan dalam Islam, tentu saja sesat. Hal-hal semacam di atas jelas suatu kemungkaran dan telah dilarang oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dalam Islam tidak boleh melakukan semacam itu baik karena kematian seorang yang dianggap mulia atau kematian seorang yang syahid di jalan Allah. Kita tahu bahwa di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak di antara para sahabat yang mendapati syahid seperti Hamzah bin Abdul Muthollib (paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Tholib, ‘Abdullah bin Rowahah. Namun tidak pernah di masa beliau melakukan seperti yang dilakukan oleh Rafidhah. Law kaana khoiron, la-sabaqunaa ilaih, seandainya perkara tersebut baik, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih dahulu melakukannya. 

Coba lihat pula bagaimana ketika Nabi Ya’qub ‘alaihis salam tertimpa musibah dengan hilangnya Yusuf ‘alaihis salam, apakah beliau sampai memukul-mukul dada? Apakah Nabi Ya’qub sampai menampar wajahnya sendiri? Apakah sampai ingin menumpahkan darahnya sendiri dengan mengores-ngores badan? Apakah sampai dijadikan ‘ied (perayaan) atau hari berduka seperti yang dilakukan Rafidhah? Amalan yang dilakukan Rafidhah tidak lain hanyalah warisan dari Jahiliyah, masa suram sebelum Islam. Islam dengan sangat jelas telah melarangnya. 

Hadits yang Membicarakan Tentang Berduka yang Terlarang 

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة 

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103). 

Namun lihatlah bagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah di hari ‘Asyura. Yang mereka lakukan jelas bukan ajaran Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah melakukannya. Mereka tidak pernah melakukannya ketika ada yang meninggal dunia. Padahal wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih daripada kematian Husain radhiyallahu ‘anhu 

Sedih Atas Kematian Husain … 

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, 

“Setiap muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu karena ia adalah sayyid-nya (penghulunya) kaum muslimin, ulamanya para sahabat dan anak dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Fathimah yang merupakan puteri terbaik beliau. Husain adalah seorang ahli ibadah, pemberani dan orang yang murah hati. Akan tetapi kesedihan yang ada janganlah dipertontokan seperti yang dilakukan oleh Syi’ah dengan tidak sabar dan bersedih yang semata-mata dibuat-buat dan dengan tujuan riya’ (cari pujian, tidak ikhlas). Padahal ‘Ali bin Abi Tholib lebih utama dari Husain. ‘Ali pun mati terbunuh, namun ia tidak diperlakukan dengan dibuatkan ma’tam (hari duka) sebagaimana hari kematian Husain. ‘Ali terbenuh pada hari Jum’at ketika akan pergi shalat Shubuh pada hari ke-17 Ramadhan tahun 40 H. 

Begitu pula ‘Utsman, ia lebih utama daripada ‘Ali bin Abi Tholib menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ‘Utsman terbunuh ketika ia dikepung di rumahnya pada hari tasyriq dari bulan Dzulhijjah pada tahun 36 H. Walaupun demikian, kematian ‘Utsman tidak dijadikan ma’tam (hari duka). Begitu pula ‘Umar bin Al Khottob, ia lebih utama daripada ‘Utsman dan ‘Ali. Ia mati terbunuh ketika ia sedang shalat Shubuh di mihrab ketika sedang membaca Al Qur’an. Namun, tidak ada yang mengenang hari kematian beliau dengan ma’tam (hari duka). Begitu pula Abu Bakar Ash Shiddiq, ia lebih utama daripada ‘Umar. Kematiannya tidaklah dijadikan ma’tam (hari duka). 


Kesimpulan 

Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintakan untuk menjadikan hari-hari terjadinya musibah dan kematian para nabi sebagai hari ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah mereka??”

Adapun menurut umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Al Husain meninggal sebagai syahid.

Oleh sebab itu, beliau dimuliakan. Beliau dan saudaranya, Al Hasan, adalah dua pemuda surga. Karena kedudukan yang tinggi harus diperoleh dengan pengorbanan yang besar pula. 

Sumber : https://www.facebook.com/share/

Komentar

Kajian Populer

Seputar amalan bid'ah yang di mabukkan oleh Ust. Abdul Somad

Inikah penyebab dendam tak berkesudahan NU pada Wahabi...?

Kedustaan Terhadap Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah