Konspirasi Yahudi : Superioritas Ras dan Penyimpangan Teologis Yahudi
Konspirasi Yahudi : Superioritas Ras dan Penyimpangan Teologis Yahudi
Sebagaimana kaum Yahudi sejak abad pertama Masehi berusaha merusak risalah Ilahi yang Allah turunkan kepada Isa ‘alaihis salam — dengan memanipulasi pokok-pokok akidah dan hukum-hukum praktisnya — demikian pula sejak abad pertama Hijriah mereka berupaya merusak Islam. Mereka menampakkan permusuhan yang sangat keras terhadap Islam. Namun, mereka tidak berhasil memanipulasi ataupun mengubah sedikit pun dari pokok-pokok ajarannya, karena Allah sendiri telah menjamin penjagaan Kitab-Nya, Al-Qur’an, dari perubahan dan penyelewengan.
Allah juga menghadirkan para ulama Muslim yang menjaga sunnah Rasulullah: memurnikannya, serta memilah mana yang asli dan mana yang merupakan sisipan. Meski demikian, melalui berbagai makar yang mereka lakukan, kelompok-kelompok Muslim tetap mengalami kerugian besar sepanjang sejarah Islam, sejak masa para sahabat radhiyallahu ‘anhum hingga zaman kita sekarang.
Tidaklah seorang peneliti yang merenungi dan menelaah peristiwa-peristiwa fitnah besar yang muncul, melainkan akan tampak baginya — dari balik tabir — jejak makar Yahudi. Merekalah yang menggerakkan fitnah itu, menyulut apinya, atau mengambil keuntungan darinya demi mewujudkan keburukan yang mereka inginkan bagi bangsa-bangsa di muka bumi.
Problem kejiwaan Yahudi berakar pada keyakinan bahwa mereka adalah “bangsa pilihan Tuhan”, anak-anak Tuhan dan kekasih-Nya, serta bangsa yang lebih unggul dibanding seluruh umat manusia di bumi. Dalam pandangan mereka, bangsa-bangsa lain hanyalah seperti hewan yang layak diperbudak demi kepentingan mereka. Karena itu, menurut keyakinan mereka, tidak mengapa merampas harta orang-orang “ummiyyin” atau goyim (non-Yahudi) dengan berbagai cara yang tidak sah.
Bagi mereka, tidak masalah pula membantai bangsa-bangsa lain, merusak akhlak, serta menghancurkan tatanan sosial mereka. Darah bangsa-bangsa terdahulu tidak memiliki nilai di mata mereka. Mereka menyimpan dendam terhadap seluruh bangsa dan rakyat, karena bangsa-bangsa itu tidak mengakui “hak” yang mereka klaim secara dusta, batil, zalim, dan sewenang-wenang. Selain itu, bangsa-bangsa tersebut juga tidak menempatkan mereka sebagai penguasa mutlak, padahal Allah telah menimpakan kehinaan dan kemiskinan kepada mereka akibat banyaknya dosa dan besarnya kejahatan mereka.
Mereka memandang diri sebagai keturunan para nabi yang nasabnya bersambung kepada Ibrahim ‘alaihis salam. Mereka menganggap garis keturunan itu sudah cukup untuk mengunggulkan mereka atas seluruh manusia, meskipun mereka sendiri mengingkari akidah dan perbuatan para nabi serta rasul mereka. Mereka membanggakan bahwa Allah memilih Musa ‘alaihis salam dari kalangan Bani Israil, menurunkan Taurat kepadanya, dan mengembankan kepadanya risalah besar pertama yang sangat penting dalam sejarah risalah-risalah langit.
Mereka menganggap hal itu cukup untuk mengabadikan kemuliaan agama bagi Bani Israil yang hanya bertumpu pada hubungan nasab semata, meskipun mereka telah jauh menyimpang dari inti risalah yang Allah perintahkan agar mereka pegang teguh. Padahal mereka telah mengubah dan menyelewengkannya, bahkan mengingkari risalah-risalah Allah yang datang setelahnya — yang Allah perintahkan untuk mereka ikuti — karena itulah bentuk baru dari agama yang Allah pilih bagi seluruh alam. Allah telah mengambil janji dari mereka mengenai hal itu melalui lisan nabi-nabi mereka.
Hingga kini, mimpi untuk mengembalikan kerajaan agung yang dahulu Allah anugerahkan kepada Dawud dan Sulaiman ‘alaihimassalam masih menguasai khayalan mereka. Mimpi itu mengendalikan berbagai makar dan tipu daya yang mereka susun, serta konspirasi yang mereka selipkan untuk meruntuhkan sendi-sendi syariat Ilahi, negara-negara besar, dan peradaban yang bermanfaat.
Dahulu Allah telah menganugerahkan kepada mereka kerajaan yang agung. Namun, mereka tidak menjaganya dan tidak menunaikan haknya. Mereka justru meruntuhkan fondasi yang menjadi tiang kerajaan mereka sendiri: bermaksiat kepada Allah, menyebarkan kerusakan di muka bumi, berbuat zalim, dan melampaui batas. Mereka mulai memusuhi nabi-nabi dan rasul-rasul mereka sendiri, serta para dai yang ikhlas dari kalangan mereka, hingga sejarah mencatat bahwa mereka membunuh para nabi tanpa hak.
Generasi-generasi Yahudi setelah itu terikat dengan akhlak tercela yang telah mereka biasakan, serta adat kebiasaan menjijikkan yang diwariskan turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga seakan-akan menjadi tabiat yang melekat pada diri mereka. Bahkan celaan terhadap leluhur mereka pun diarahkan kepada anak-cucu mereka, seolah-olah merekalah yang melakukan keburukan tersebut.
Hal itu terjadi karena mereka memiliki tabiat yang sama, yang dibentuk dalam masyarakat mereka dan diwariskan sesama mereka: dari orang rusak kepada orang rusak. Maka ketika di tengah manusia disebut sifat-sifat seperti dengki, dendam, makar, konspirasi, adu domba, tipu muslihat, pengecut, kikir, rakus, tamak, dan berbagai kerendahan lainnya, yang terbayang dalam benak adalah sosok seorang Yahudi yang akhlaknya ditempa dalam salah satu masyarakat Yahudi yang tertutup.
Yahudi dan Goyim
Selama ribuan tahun, orang-orang Yahudi selalu membagi umat manusia menjadi dua kelompok: Yahudi dan Goyim (bangsa-bangsa lain). Dalam bahasa Arab, kata ini merujuk pada kata Ummi (kaum buta aksara/luar Yahudi). Bagi mereka, bangsa-bangsa non-Yahudi dianggap seperti binatang, najis, dan kafir. Mereka percaya bahwa Tuhan menganugerahi mereka rupa manusia sebagai bentuk hak istimewa dan penghormatan mutlak untuk mereka.
Sementara itu, kaum Goyim—yaitu seluruh bangsa selain Yahudi—dianggap diciptakan dari tanah lain yang berkarakter binatang, dengan jiwa yang najis dan bersifat setan. Mereka meyakini bahwa Tuhan menciptakan bangsa lain hanya untuk melayani orang Yahudi. Tuhan memberi bangsa lain rupa manusia bukan karena mereka layak, melainkan agar para tuan (orang Yahudi) merasa nyaman dan mudah mempekerjakan mereka. Sebab, tanpa kemiripan fisik ini, tentu sulit bagi para majikan pilihan untuk berkomunikasi dengan para budak yang hina tersebut.
Oleh karena itu, berdasarkan keyakinan mereka, orang Yahudilah satu-satunya manusia yang asli dan suci karena asal-usul mereka berasal dari unsur Tuhan. Sedangkan non-Yahudi, pada hakikatnya adalah binatang yang najis, yang hanya berwujud manusia.
Dampak Teologis terhadap Perilaku
Begitulah keyakinan orang Yahudi! Berlandaskan doktrin yang diada-adakan terhadap Tuhan ini, seorang Yahudi merasa tidak berdosa untuk menghalalkan pencurian, kebohongan, penipuan, kezaliman, riba, pembunuhan, pemerkosaan, serta cara licik apa pun saat berurusan dengan bangsa non-Yahudi.
Bagaimana mungkin mereka tidak melakukannya? Menurut keyakinan mereka, perbedaan ras sejak awal penciptaan memang menuntut hal tersebut. Mereka menganggap diri mereka sebagai anak-anak Allah dan kekasih-Nya, sementara bangsa lain adalah musuh-musuh Allah.
Bagi Yahudi bangsa lain adalah musuh Allah, mereka percaya bahwa Tuhan tidak akan menghukum anak-anak dan kekasih-Nya atas kejahatan apa pun yang dilakukan terhadap musuh-musuh-Nya, sekecil atau sebesar apa pun itu. Bahkan, tindakan tersebut dicatat sebagai amal kebaikan dan ibadah yang berpahala. Tuhan dianggap hanya rida dengan tindakan itu, dan mereka baru dimaafkan jika melakukannya karena terpaksa.
Maka, tidak heran jika sejarah mencatat coretan hitam orang Yahudi dengan segala cacat moral saat berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain.
Kesaksian Al-Qur’an tentang Sifat Yahudi
Salah satu bukti nyata adalah apa yang diabadikan Al-Qur’an tentang bagaimana mereka merampas hak orang lain dan memakan harta manusia dengan cara yang batil. Mereka berdalih bahwa syariat mereka membolehkan hal itu jika berurusan dengan kaum Ummiyin (orang-orang di luar Yahudi). Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran:
وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَاۤىِٕمًا ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْا لَيْسَ عَلَيْنَا فِى الْاُمِّيّٖنَ سَبِيْلٌۚ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Dan di antara Ahli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, dia mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada (pula) di antara mereka yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu menagihnya. Yang demikian itu karena mereka berkata, ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.’ Mereka mengatakan kebohongan terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 75)
Orang-orang dari Ahli Kitab yang tidak memegang amanah dan mengucapkan perkataan ini adalah orang Yahudi. Merekalah yang berkata, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.”
Artinya, mereka merasa tidak bersalah sama sekali saat merampas harta bangsa non-Yahudi. Para rabi Yahudi pun kerap meyakinkan kaumnya dengan menyodorkan kisah-kisah kejahatan yang mereka nisbatkan kepada para nabi mereka sendiri dalam kitab-kitab mereka, lalu beralasan bahwa tindakan itu dilakukan terhadap kaum Goyim (non-Yahudi).
Penyimpangan Tafsir Kisah Nabi Musa
Salah satu argumen utama yang sering mereka gunakan adalah tindakan Nabi Musa AS ketika memukul seorang pria Mesir keturunan Firaun hingga tewas demi membela seorang Israel yang sedang berkelahi dengannya. (Kata wakazahu berarti memukul dengan kepalan tangan). Allah menceritakan
kisah ini dalam Surah Al-Qashash:
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ * وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ * قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ
“Dan setelah (Nabi Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dia (Nabi Musa) masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Orang yang dari golongannya (Bani Israel) meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa memukulnya, dan matilah orang itu. Dia (Nabi Musa) berkata, ‘Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, setan itu musuh yang jelas menyesatkan’. Musa berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku tidak akan lagi menjadi penolong bagi orang-orang yang berbuat dosa.’” (QS. Al-Qasas: 14-17)
Padahal, Nabi Musa AS sama sekali tidak berniat membunuh pria tersebut. Beliau hanya ingin melerai dan menghentikan kezaliman orang Mesir itu terhadap orang Israel dengan sekali pukulan. Namun, pukulan tersebut justru menyebabkan kematiannya. Begitu melihat pria itu tewas, Nabi Musa langsung berkata, “Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya ia adalah musuh yang jelas menyesatkan,” kemudian beliau memohon ampunan kepada Allah atas apa yang terjadi.
Lagipula, seluruh peristiwa ini terjadi sebelum Allah memberi wahyu dan mengangkatnya menjadi seorang nabi dan rasul. Jadi, kisah ini sama sekali tidak bisa dijadikan pembenaran oleh orang Yahudi. Namun, begitulah cara licik mereka yang gemar mendistorsi dan mengarang kebohongan atas nama syariat Allah.
Sementara itu, syariat Allah yang murni dan tidak mengalami perubahan dengan tegas menyatakan dalam teks-teks Islam bahwa seluruh manusia adalah setara. Semua manusia berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Doktrin Palsu dalam Talmud
Di samping itu, dasar keyakinan mereka juga bersandar pada teks-teks palsu yang ada di dalam kitab-kitab rujukan mereka sendiri. Dalam kitab Talmud, terdapat banyak sekali kebohongan yang dibuat oleh para rabi mereka. Talmud sendiri merupakan kumpulan penjelasan, tafsir, dan tradisi lisan yang disusun oleh para rabi Yahudi dari berbagai zaman. Saat menyusunnya, mereka kerap mengikuti hawa nafsu dan melencengkan teks-teks asli demi mengubah makna yang sebenarnya.
Berikut adalah beberapa contoh distorsi kata yang terdapat dalam Talmud:
“Jiwa orang Yahudi berbeda dari jiwa manusia lainnya karena mereka adalah bagian dari Tuhan, sebagaimana seorang anak adalah bagian dari ayahnya. Setiap orang Yahudi wajib berusaha sekuat tenaga untuk mencegah bangsa lain berkuasa di bumi. Di mata Tuhan, orang Yahudi lebih mulia daripada malaikat. Jika seorang non-Yahudi memukul orang Israel, maka ia seolah-olah telah memukul keagungan Tuhan sendiri. Jarak antara derajat manusia (Yahudi) dan binatang sama dengan jarak antara orang Yahudi dan non-Yahudi…”
“Dan dihalalkan bagi orang Yahudi untuk menipu non-Yahudi serta bersumpah palsu di hadapan mereka…”
Akibat Kolektif dan Hukuman Ilahi
Akibat dari gangguan psikologis dan pandangan egois yang mengerikan ini, sejarah kolektif orang Yahudi penuh dengan tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Karena penyimpangan ini dilakukan secara massal dan berulang kali sepanjang sejarah, Allah menghukum mereka dengan mencerai-beraikan mereka ke seluruh penjuru bumi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf:
وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا
“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan…” (QS. Al-A’raf: 168)
Meskipun eksistensi mereka terpecah-pecah dan tercerai-berai, mereka tetap mampu menjaga kesatuan karakter dan sifat khas Yahudi mereka. Karakter yang selalu melahirkan kelicikan dan tipu daya ini pulalah yang memicu turunnya azab Allah kepada mereka.
Akibat terus mempertahankan watak ini di tengah bangsa-bangsa tempat mereka menumpang, orang Yahudi selalu memanfaatkan kelengahan negara yang memberi mereka status warga negara. Mereka menyusun rencana licik demi meraup harta, kekuasaan, atau melemahkan bangsa tersebut. Hal ini karena di dalam hati kecilnya, mereka menganggap bangsa lain sebagai musuh yang menghalangi hak mutlak mereka untuk berkuasa—sebab mereka mengeklaim diri sebagai “bangsa pilihan Tuhan”.
Meskipun demikian, ketika bangsa tersebut sadar bahwa mereka telah terjebak dalam perangkap konspirasi Yahudi yang bertujuan menghancurkan mereka, bangsa itu pun terpaksa membersihkan tanahnya dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat kepada orang-orang Yahudi. Hal ini merupakan wujud nyata dari janji Allah dalam Surah Al-A’raf:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan bahwa sesungguhnya Dia akan mengirimkan kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka.” (QS. Al-A’raf: 167)
Siklus Belas Kasihan dan Tipu Daya Baru
Akibat sering menerima berbagai hukuman atas kelicikan mereka sendiri, orang Yahudi terpaksa memakai “topeng” belas kasihan dan kemiskinan di hadapan bangsa-bangsa lain. Tujuannya adalah untuk memancing rasa iba, berlagak lemah, dan meyakinkan dunia bahwa mereka sama sekali tidak berbahaya dalam kondisi yang menyedihkan itu. Padahal, itu adalah awal dari persiapan tipu muslihat baru untuk menjebak bangsa lain.
Sebelum melancarkan rencana licik tersebut, dengan kecerdasan dan kelicikannya, mereka mampu memanfaatkan kekuatan bangsa yang mereka tumpangi atau yang berhasil mereka kelabui. Terkadang, Allah memanfaatkan mereka untuk menghukum suatu bangsa yang telah menyimpang dari jalan-Nya dan terang-terangan memerangi agama-Nya—sebagaimana Allah memanfaatkan bakteri atau serangga untuk menghukum suatu kaum. Karena itu, Allah mungkin saja mengulurkan tali bantuan-Nya (kesempatan) kepada mereka.
Meskipun demikian, Allah SWT akan segera memutus tali tersebut setelah tugas mereka selesai. Hal ini seperti bakteri mematikan yang dihancurkan setelah selesai menjalankan tugasnya sebagai pemberi hukuman. Bagaimanapun, mereka telah memikul kemurkaan dari Allah, sehingga kejayaan itu tidak akan bertahan lama sebelum akhirnya laknat Allah kembali menimpa mereka akibat perbuatan mereka sendiri. Firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran pasti akan terus terbukti pada mereka:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَمَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS. Ali ‘Imran: 112)
Karakteristik Yahudi ini akan terus melekat pada diri mereka, meski kadarnya fluktuatif sesuai dengan realitas zaman yang mereka hadapi. Oleh karena itu, panggung sejarah yang sama dipastikan akan terus berulang dari dan untuk mereka secara konsisten.
Walaupun penampilannya berbeda, tokoh-tokoh yang memainkannya berganti, dan sarana yang digunakan berkembang, namun kisahnya tetap sama, tujuannya serupa, pendekatan psikologisnya satu, hasilnya sama, dan hukuman ilahi yang menimpa pun tetap sama. Itulah sunatullah, dan kamu tidak akan pernah menemukan perubahan pada sunatullah.
Masalah psikologis yang kronis inilah yang akhirnya melahirkan fenomena taklid (ikut-ikutan buta) pada diri mereka untuk selalu mengekor pada apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, meskipun hal itu jelas-jelas batil dan kesesatan yang nyata.
Taklid Buta kepada Nenek Moyang
Fenomena taklid buta atau taklid yang disengaja dalam mengikuti keburukan—baik karena kelicikan maupun fanatisme terhadap tradisi nenek moyang—tampak jauh lebih kuat pada bangsa Yahudi dibandingkan dengan bangsa mana pun di dunia, bahkan melebihi kaum penyembah berhala sekalipun.
Uniknya, dalam banyak kesempatan mereka sangat lihai memanipulasi argumen. Mereka mampu mengemas fenomena ini seolah-olah jauh dari makna taklid dan fanatisme, padahal kenyataannya merekalah kelompok yang paling fanatik dan paling buta dalam mengekor.
Sebenarnya, fenomena ini mungkin lebih tepat jika tidak kita sebut sebagai “taklid buta” dalam arti yang biasa. Kita lebih cocok menyebutnya sebagai “taklid yang disengaja (melihat jelas) dalam mengikuti jalan keburukan.” Jenis ini tentu jauh lebih berbahaya dan lebih licik daripada taklid buta biasa. Sebab, di dalamnya terdapat manipulasi setan terhadap nilai-nilai kebenaran dengan bertopengkan tradisi nenek moyang, yang tujuannya tidak lain demi memuaskan hawa nafsu yang jahat dan meraih ambisi duniawi yang hina.
Perdebatan Sejarah dengan Rasulullah SAW
Di bawah pengaruh manipulasi setan inilah—yang selalu berlindung di balik argumen “mengikuti tradisi nenek moyang”—sebagian orang Yahudi menolak ajakan Rasulullah SAW. Peristiwa ini terjadi ketika beliau menyeru orang-orang Yahudi di Madinah untuk memeluk Islam, memotivasi mereka untuk berbuat baik, serta memperingatkan mereka akan azab dan kemurkaan Allah.
Saat itu, Rafi’ bin Kharijah dan Malik bin ‘Auf—dua orang rabi dari kaum Yahudi Bani Qainuqa’—berkata kepada beliau: “Wahai Muhammad, kami lebih memilih untuk mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami, karena mereka jauh lebih tahu dan lebih baik daripada kami”.
Merespons ucapan tersebut, Allah SWT menurunkan firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبَعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)
Melalui ayat ini, Allah mematahkan argumen taklid mereka secara telak dengan balik bertanya: “Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”
Maksudnya: Apakah mereka akan tetap bersikeras mengikuti, meniru, dan mempertahankan teori nenek moyang mereka, padahal nenek moyang mereka itu tidak memiliki akal sehat sedikit pun? Yaitu, mereka yang menjalani hidup hanya disetir oleh dorongan insting yang menyimpang dan hawa nafsu yang liar, tanpa mau mengendalikannya dengan tolok ukur kemaslahatan, kemanfaatan, atau pencegahan bahaya. Mereka juga tidak membentengi diri dari keburukan menggunakan logika yang jernih dan pemahaman yang lurus.
Apakah mereka akan tetap mengikuti dan meniru nenek moyang mereka jika terbukti bahwa para pendahulu itu tidak mendapat petunjuk menuju jalan keselamatan? Padahal, telah datang kepada mereka berbagai kabar gembira dan peringatan, namun jiwa mereka sudah terbiasa dengan keburukan, dan hati mereka telah membatu sehingga tidak lagi mempan oleh nasihat maupun peringatan.
Dua Sisi Penyebab Taklid yang Keliru
Melalui ayat yang mulia ini, Al-Qur’an membedah bahwa sikap taklid yang kosong dari nalar sehat—di mana pelakunya tidak memiliki argumen apa pun selain sekadar ikut-ikutan—sebenarnya lahir dari dua faktor utama:
Pertama: Kebutaan Berpikir (Tumpulnya Nalar)
Kondisi ini membuat seseorang malas mencari dan merenungkan kebenaran secara mandiri. Akibatnya, dominasi hawa nafsu berupa fanatisme golongan atau kesombongan kesukuan menjadi jauh lebih kuat daripada kendali akal sehat.
Pada tahap ini, akal mereka telah tumpul dan membeku untuk menggali ilmu, sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, yang baik dan yang buruk, petunjuk dan kesesatan, serta yang indah dan yang keji. Singkatnya, akal mereka telah mandek dari fungsi utama penciptaannya.
Jika kondisi manusia sudah seperti ini, maka yang memegang kendali penuh atas dirinya adalah hawa nafsu. Salah satu nafsu yang paling kuat mencengkeram jiwa adalah fanatisme buta terhadap tradisi nenek moyang. Sebab, kebekuan berpikir selalu berjalan beriringan dengan rasa nyaman terhadap realitas yang ada, menganggapnya selalu baik, dan enggan melakukan perubahan.
Faktor pertama inilah yang disindir oleh penggalan ayat: “Walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun”. Dalam situasi ini, alasan utama mereka bertahan pada tradisi leluhur yang miskin akal sehat dan tanpa pandangan yang lurus adalah karena adanya kebutaan berpikir yang menghalangi mereka untuk melihat kebenaran.
Kedua: Dominasi Hawa Nafsu dan Syahwat
Faktor ini terjadi ketika si pelaku taklid sebenarnya menyadari kebenaran, akan tetapi sengaja berlindung di balik dalih “mengikuti jejak para pendahulu”. Mereka berpura-pura bodoh dan enggan menunjukkan pemahaman terhadap argumen yang benar agar tidak tersudut oleh fakta.
Kelompok ini sebenarnya tahu mana yang benar. Mereka tidak mengalami kebutaan berpikir untuk mengenali kebenaran, tetapi hawa nafsu pribadi dan syahwatlah yang telah membutakan mata hati mereka untuk menapaki jalan petunjuk. Mereka kemudian mencari-cari alasan dengan tameng taklid, terutama jika tradisi nenek moyang mereka kebetulan sejalan dengan selera nafsu dan syahwat pribadi mereka.
Faktor kedua inilah yang dahulu mendorong para rabi Yahudi untuk mengingkari kerasulan Nabi Isa AS, lalu berlanjut pada pengingkaran terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW serta menolak kebenaran yang beliau bawa. Argumen taklid kepada leluhur yang mereka dengungkan sebenarnya hanyalah cara untuk melarikan diri dari jeratan argumen logis yang tidak bisa mereka bantah.
Hal inilah yang diisyaratkan oleh ujung ayat: “Dan tidak mendapat petunjuk.” Artinya: Apakah mereka akan tetap mengikuti nenek moyang mereka, padahal para leluhur itu dengan sengaja menentang kebenaran setelah mengetahuinya, memilih setia pada jalan kesesatan akibat disetir insting dan hawa nafsu, serta menolak mentah-mentah jalan hidayah?
Jika mereka tetap nekat meniru langkah leluhurnya, padahal mereka tahu motif kotor di balik kesesatan tersebut, maka status mereka sama saja: sama-sama memilih jalan keburukan dan kesesatan demi memuaskan insting dan syahwat, yang kemudian diperparah oleh rusaknya moral fanatisme golongan.
___
*Tulisan ini diterjemahkan dari Kitab Makaid Yahudiyyah ‘Abra at-Tarikh, yang merupakan salah satu karya paling terkenal dari Syeikh Abdurrahman Hasan Habanakah al-Maidani dalam tema kritik terhadap Zionisme dan sejarah Yahudi. Syeikh Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani sendiri adalah ulama besar, mufasir, dan pakar akidah Islam asal Damaskus, Suriah (lahir 1927, wafat 1425 H/2004 M). Syeikh Abdurrahman Habannakah menulis sekitar 40 kitab dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk Kitab Makaid Yahudiyyah ini.
(T.FJ/S: Makaid Yahudiyyah ‘Abra at-Tarikh)
Sumber : https://suarapalestina.id/
Komentar
Posting Komentar