Konspirasi Yahudi : Penyimpangan Moral Bangsa Yahudi Sejak Zaman Nabi Yusuf
Konspirasi Yahudi : Penyimpangan Moral Bangsa Yahudi Sejak Zaman Nabi Yusuf
Ditulis oleh: Syeikh Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani
Jika kita mencermati sejarah Bangsa Yahudi atau Bani Israil sejak awal mula pembentukan mereka hingga masa penaklukan oleh Nebukadnezar (Bukhtanashar) pada abad ke-6 SM, kita akan menemukan sederet panjang penyimpangan yang dilakukan secara massal. Berikut adalah lembaran-lembaran hitam dari sejarah mereka:
Dengki kepada Nabi Yusuf AS
Kisah bagaimana mereka mendengki saudara seayah mereka, Nabi Yusuf AS, hingga berencana membunuhnya. Namun, mereka akhirnya memilih untuk membuangnya ke dalam sumur tua dengan harapan agar dipungut oleh kafilah yang lewat, semua itu dilakukan hanya demi mendapat perhatian penuh dari ayah mereka. Kisah ini menjadi bukti nyata betapa tingginya rasa egois dan rusaknya moral yang melekat pada mereka. Watak buruk yang tergambar dalam kisah ini terus menjadi karakter yang menyertai perjalanan panjang sejarah mereka setelah itu.
(Lihat Q.S. Yusuf: ayat 8–10)
Cinta Harta dan Emas di Mesir
Setelah melewati ujian hidup yang begitu panjang, Nabi Yusuf AS akhirnya berhasil menduduki puncak kekuasaan di Mesir. Beliau dengan tulus memaafkan kesalahan saudara-saudaranya dan memboyong mereka semua dari Syam ke Mesir. Di sana, pintu-pintu pekerjaan, kehormatan, dan kekayaan melimpah terbuka lebar bagi mereka. Namun lama-kelamaan, keturunan mereka justru cenderung serakah menumpuk harta, mendewakan emas, dan memperlakukan penduduk asli dengan sangat egois. Sikap ini memicu kemarahan bangsa Mesir (kaum Firaun), yang akhirnya berujung pada penindasan dan siksaan yang sangat keji terhadap Bani Israil.
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 49, Q.S. Al-Qashash: ayat 4)
Pembangkangan di Padang Sinai
Pada masa di bawah kepemimpinan Nabi Musa AS, mereka berhasil keluar dari Mesir. Allah menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun dan tentaranya melalui mukjizat terbelahnya laut, lalu menenggelamkan musuh mereka, serta memuliakan Bani Israil dengan amanah risalah ilahi.
Lagi-lagi, baru saja Nabi Musa membawa mereka melewati laut menuju padang pasir Sinai untuk menuju Tanah Suci (Palestina), mereka langsung memberontak kepada Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun AS. Sebagaimana yang terekam dalam kitab Taurat, mereka mengeluh dan menunjukkan pembangkangan mereka:
“Ah, andai saja kami mati di Mesir saat kami duduk di depan kuali penuh daging dan makan roti sampai kenyang! Kalian berdua (Nabi Musa dan Nabi Harun) sengaja membawa kami ke padang pasir ini hanya untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan. Mengapa kamu membawa kami keluar dari Mesir? Apakah hanya untuk membuat kami, anak-anak kami, dan ternak kami mati kehausan?”
Meski demikian, Allah tetap bermurah hati dengan memancarkan dua belas mata air di Sinai—sesuai dengan jumlah suku (asbath) mereka—serta menurunkan hidangan Manna dan Salwa sebagai makanan lezat yang didapatkan setiap hari.
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 50, Q.S. Yunus: ayat 90–92, Q.S. Al-Baqarah: ayat 57 dan 60, Q.S. Al-A’raf: ayat 160)
Menyembah Patung Sapi Emas
Ketika Nabi Musa AS pergi ke Gunung Sinai (Thur) untuk bermunajat kepada Allah SWT bersama 70 orang pilihan dari kaumnya, beliau menitipkan sisa kaum yang lain di bawah pengawasan Nabi Harun AS. Namun, mereka meremehkan wewenang Nabi Harun, lalu berbalik menyembah patung anak sapi dari emas yang dibuat oleh Samiri.
Saat Nabi Musa kembali setelah 40 malam, beliau mendapati kaumnya telah murtad kembali menjadi penyembah berhala. Hal itu membuat beliau sangat marah hingga melemparkan kepingan-kepingan lauh (papan batu) yang beliau bawa dari tempat munajat. Setelah itu, Allah memerintahkan mereka untuk bertobat kepada Sang Pencipta dengan cara saling membunuh di antara mereka. Begitu mereka mulai melaksanakan perintah tersebut, Allah mengampuni mereka dan menghentikan perintah pembunuhan itu.
(Lihat Q.S. Thaha: ayat 83–91, Q.S. Al-Baqarah: ayat 51–54, Q.S. Al-A’raf: ayat 148–152)
Menantang Ingin Melihat Allah secara Langsung
Sifat keras kepala Bangsa Yahudi kembali muncul saat berkata kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan mata kepala kami sendiri secara langsung.” Akibat kelancangan itu, sambaran petir yang dahsyat langsung menyambar dan mematikan mereka. Namun, Allah kemudian membangkitkan mereka kembali dari kematian, sehingga mereka dirundung rasa takut dan akhirnya kembali tunduk bersikap taat.
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 55–56 dan Q.S. An-Nisa’: ayat 153)
Penolakan terhadap Perjanjian
Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mengambil sumpah setia (perjanjian) dari mereka agar mengamalkan apa yang telah Allah berikan dan kitab yang diturunkan. Namun, mereka menolaknya. Akhirnya, Allah mengangkat Gunung Sinai di atas kepala mereka sebagai ancaman. Karena dilingkupi rasa takut yang luar biasa, mereka pun menyerah dan terpaksa memberikan sumpah setia mereka.
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 63, Q.S. Al-A’raf: ayat 171)
Melanggar Kehormatan Hari Sabtu (Sabat)
Allah menetapkan hari Sabtu sebagai hari ibadah khusus bagi mereka dan mengharamkan aktivitas menangkap ikan pada hari itu. Untuk menguji ketaatan mereka, Allah membuat ikan-ikan datang melimpah ruah ke tempat pancingan justru pada hari Sabtu, sedangkan pada hari-hari biasa ikan-ikan itu tidak muncul.
Sayangnya, mereka melanggar perintah Allah dan tetap berburu di hari Sabtu dengan berbagai tipu muslihat. Akibat pelanggaran ini, Allah menghukum mereka dengan mengubah rupa mereka menjadi buruk, seraya berfirman: “Jadilah kamu kera yang hina!”
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 65–66, Q.S. Al-A’raf: ayat 163–166)
Menolak Berjihad dan Hukuman Tersesat 40 Tahun
Nabi Musa AS membawa mereka berjalan menuju Tanah Suci Palestina agar mereka memasukinya sebagai pejuang di jalan Allah. Beliau memilih dua belas orang pemimpin (naqib) representasi dari setiap suku untuk memata-matai situasi negeri dan penduduknya.
Setelah menjalan tugas, mereka Kembali dan melapor: “Tanah tersebut memang subur lagi Makmur mengalirkan susu dan madu, tetapi penduduknya adalah orang-orang yang bertubuh besar dan perkasa.”
Setelah itu, semua pemimpin Bani Israil tersebut (kecuali dua orang saja) secara bulat menolak berjihad di jalan Allah, bahkan menciutkan nyali kaumnya agar tidak masuk ke sana. Kedua orang pemimpin yang optimis ini berkata kepada kaumnya: “Masukilah pintu gerbang ituk jika kalian memasukinya niscaya kalian akan menang. Dan bertawakkallah kepada Allah jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
Tetap saja Bani Israel menolak berjihad di jalan Allah, mereka berkata, “Wahai Musa, di dalam negeri itu ada kaum yang sangat kuat dan kejam. Kami tidak akan pernah memasukinya sampai mereka keluar dari sana. Jika mereka keluar, barulah kami masuk.”
Kedua pemimpin tadi kembali menasihati mereka agar tetap maju dan percaya pada pertolongan Allah, tetapi mereka tetap bersikeras menolak dan dengan lancang berkata kepada Nabi Musa:
“Wahai Musa, kami tidak akan pernah memasukinya selama-lamanya selama mereka masih ada di sana. Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua! Kami biar duduk menunggu di sini saja.”
Akibat pembangkangan yang luar biasa ini, Allah menghukum mereka dengan mengharamkan Tanah Suci Palestina bagi mereka selama 40 tahun, di mana mereka dipaksa hidup terlunta-lunta dan tersesat di padang pasir bumi Sinai.
(Lihat Q.S. Al-Ma’idah: ayat 20–26)
Mengubah Perintah Sembari Sombong
Setelah wafatnya Nabi Harun AS dan Nabi Musa AS, serta setelah lewatnya masa 40 tahun tersesat di padang pasir, Bangsa Yahudi atau Bani Israil akhirnya berhasil memasuki Tanah Suci Palestina di bawah kepemimpinan Yusa’ bin Nun. Ketika Allah memberikan kemenangan atas musuh-musuh mereka, Allah memerintahkan mereka melalui lisan nabi mereka agar memasuki pintu gerbang kota sambil bersujud sebagai bentuk syukur atas nikmat-Nya, serta mengucapkan kata “Hiththah” (yang artinya: Ya Allah, hapuskanlah dosa-dosa kami dan ampunilah kesalahan kami). Namun, mereka justru mendurhakai perintah Allah dengan sengaja mengubah ucapan tersebut dengan kata lain karena rasa sombong dan kezaliman yang tertanam di hati mereka.
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 58–59, Q.S. Al-A’raf: ayat 161–162)
Era Kekacauan Moral (Masa Para Hakim)
Setelah berhasil menetap di Tanah Suci Palestina, Bangsa Yahudi atau Bani Israil dipimpin oleh para hakim dari kalangan mereka sendiri yang memiliki wewenang layaknya raja. Selama periode ini, marak terjadi aksi murtad massal di kalangan Bani Israil; mereka berpaling dari menyembah Allah Yang Maha Esa menuju penyembahan berhala. Kemaksiatan merajalela, berbagai dosa dan kemungkaran menyebar luas, serta praktik perzinaan menjadi hal yang lumrah.
Tragisnya, setiap kali muncul tokoh-tokoh pembawa perubahan yang berusaha meluruskan mereka, mereka justru membunuh dan melenyapkannya. Akibat menumpuknya dosa-dosa ini, Allah menurunkan berbagai malapetaka kepada mereka. Pada periode inilah Allah membiarkan bangsa-bangsa lain menjajah, memperbudak, dan menghinakan mereka.
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 61 dan 87, Q.S. Ali ‘Imran: ayat 112, Q.S. Al-Ma’idah: ayat 70)
Catatan sejarah menyebut bahwa selama masa ini Bangsa Yahudi atau Bani Israel dijajah oleh Chushan-Rishathaim (Raja Mesopotamia), Eglon (Raja Moab), Jabin (Raja Kanaan dari Hazor), dan beberapa penguasa lainnya. Dalam Pasal Kedua Kitab Hakim-Hakim juga dijelaskan secara rinci mengenai kemurtadan dan kedurhakaan mereka, serta bagaimana datangnya murka Allah. Allah menghinakan Bangsa Yahudi dengan menyerahkan mereka ke tangan para penyamun yang merampas harta mereka, yang berujung pada kehinaan dan perbudakan.
Menolak Berperang Setelah Meminta Pemimpin
Setelah sekian lama menderita, mereka akhirnya meminta kepada nabi mereka pada waktu itu untuk mengangkat seorang raja agar mereka bisa berperang di jalan Allah guna merebut kembali kejayaan dan kekuasaan mereka. Nabi mereka bertanya untuk menguji kesiapan mereka, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu malah tidak mau berperang?”
Mereka menjawab dengan retoris, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?”
Nabi mereka kemudian mengabarkan bahwa Allah telah mengutus Thalut sebagai raja mereka. Mendengar hal itu, mereka justru melayangkan protes dan berkata, “Bagaimana mungkin dia memimpin kami, padahal kami lebih berhak atas kekuasaan itu dibanding dia, lagipula dia tidak punya kekayaan yang melimpah?”
Protes ini murni didorong oleh kesombongan kelas social mereka yang hanya mengukur kelayakan berdasarkan dua hal: garis keturunan (nasab) dan harta.
Nabi mereka menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas serta fisik yang perkasa. Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”
Thalut pun resmi menjadi raja dan menyerukan mereka untuk berjihad di jalan Allah. Namun, begitu perintah perang itu benar-benar diwajibkan, mayoritas dari mereka justru berbalik melarikan diri berpaling dari perintah, kecuali sebagian kecil saja yang bertahan. Allah kemudian memenangkan kelompok kecil yang setia berperang bersama Thalut melawan musuh mereka.
Barulah setelah fase ini, Allah menganugerahkan sebuah imperium kekuasaan yang sangat agung kepada Bani Israil melalui kepemimpinan Nabi Dawud AS dan Nabi Sulaiman AS.
(Lihat Q.S. Al-Baqarah: ayat 246, Q.S. Al-Baqarah: ayat 247, Q.S. Al-Baqarah: ayat 249–251)
Puncak Kejayaan yang Berakhir Tragis (Penaklukan Nebukadnezar)
Kekuasaan Bani Israil mencapai puncak keemasannya di bawah dinasti Nabi Dawud AS. Sayangnya, masa-masa mereka istikamah berada di jalan yang lurus hanyalah sebentar. Tak lama setelah itu, mereka kembali jatuh dalam kefasikan, melakukan kerusakan yang luar biasa di muka bumi, serta mendistorsi agama Allah dan mengubah-ubah syariat-Nya.
Para nabi datang silih berganti untuk meluruskan mereka, tetapi mereka justru selalu menentang dan bahkan membunuh para nabi tersebut tanpa hak. Tokoh-tokoh agama mereka berubah menjadi budak hawa nafsu dan kepentingan duniawi. Setiap kali ada gerakan perbaikan dari para muallim, mereka segera menyusun konspirasi untuk melenyapkannya.
Allah SWT terus-menerus menurunkan berbagai bentuk hukuman sebagai peringatan, tetapi mereka sama sekali tidak pernah mau jera. Hingga pada akhirnya Allah mengirimkan Nebukadnezar (Raja Babilonia) yang menghancurkan eksistensi mereka, meluluhlantakkan kota mereka, dan membawa mereka ke dalam masa pembuangan yang kelam.
(Q.S. Al-Isra’: ayat 4–8, Q.S. Al-Baqarah: ayat 87 dan 91)
___
Tulisan ini diterjemahkan dari Kitab Makaid Yahudiyyah ‘Abra at-Tarikh, yang merupakan salah satu karya paling terkenal dari Abdurrahman Hasan Habanakah al-Maidani dalam tema kritik terhadap Zionisme dan sejarah Yahudi. Syeikh Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani sendiri adalah ulama besar, mufasir, dan pakar akidah Islam asal Damaskus, Suriah (lahir 1927, wafat 1425 H/2004 M). Syeikh Abdurrahman Habannakah menulis sekitar 40 kitab dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk Kitab Makaid Yahudiyyah ini, yang melalui rujukan Al-Qur’an, Hadis Nabi, Sirah Nabawiyah, dan Tarikh.
Sumber : https://suarapalestina.id/
Komentar
Posting Komentar