Akhlak Imam Khomeini
Sumber video : https://youtube.com/shorts/
Akhlak Imam Khomeini
Khomeini, sebuah nama yang dikenal di seluruh penjuru dunia, sebuah nama yang dikagumi jutaan orang di dunia. Sosok yang menjadi idola dan panutan jutaan orang. Tidak banyak orang seperti dia.
Pada beberapa makalah yang lalu, pembaca telah menyimak beberapa pembahasan dan riwayat peristiwa “kamis kelabu” –seperti disebut oleh kawan kita yang satu itu-. Riwayat-riwayat itu berasal dari shahih Bukhari dan muslim.
Dibanding Kitab Al Kafi, Al Irsyad, atau Jawahirul Kalam, kitab Shahih Bukhari dan Muslim jauh lebih mudah dicari. Artinya, kalau orang ingin melihat langsung ke Shahih Bukhari, dia akan dengan mudah menemukan kitabnya, dan melihat langsung riwayat haditsnya. Orang yang berbohong dengan mengatasnamakan riwayat Bukhari, begitu mudah kebohongannya akan terbongkar, dia akan ketahuan berbohong. Ini karena kitab shahih Bukhari dan Muslim, begitu mudah dicari.
Logikanya, orang yang akan berbohong atas nama Bukhari Muslim, akan berpikir beberapa kali. Pembaca barangkali tidak percaya jika ada orang yang nekad berbohong, dan mengklaim hadits tertentu ada di Bukhari Muslim, namun nyatanya tidak. Tapi ada saja orang yang nekad berbohong meski mudah ketahuan.
Dia berbohong atas nama Bukhari dan Muslim tentang kisah hari kamis. Siapa dia? Dia adalah Khomeini, sosok yang dianggap oleh syiah sebagai wakil imam Mahdi, imam yang bersembunyi dan tidak memunculkan diri. Kapan Imam Mahdi melantik Khomeini menjadi wakilnya? Tidak jelas kapan waktunya. Yang jelas syiah meyakini hal itu. Asal pembaca tahu saja, imam Mahdi yang diyakini syiah hari ini, tidak jelas keberadaannya. Tidak ada yang bisa membuktikan keberadaannya.
Dalam kitab Kasyful Asrar hal 137 –edisi arab-, Khomeini mengatakan:
عندما كان رسول الله في فراش المرض,و يحف به عدد كثير,قال مخاطبا الحاضرين: تعالوا أكتب لكم شيئا يحميكم من الوقوع في الضلالة , فقال عمر بن الخطاب : لقد هجر رسول الله. وقد نقل نص هذه الرواية المؤرخون وأصحاب الحديث من البخاري ومسلم وأحمد مع اختلاف في اللفظ ، وهذا يؤكد أن هذه الفرية صدرت من ابن الخطاب المفتري
Terjemahannya kurang lebih demikian:
Saat Rasulullah terbaring sakit, dan dikelilingi oleh banyak orang, Beliau bersabda pada orang-orang yang hadir di situ: kemarilah, aku akan menuliskan pada kalian tulisan yang akan menjaga kalian dari kesesatan. Lalu Umar bin Khattab mengatakan : Rasulullah telah meracau.
Text riwayat ini telah dinukil oleh para ahli sejarah dan ahli hadits seperti Bukhari, Muslim, Ahmad, dengan sedikit perbedaan pada redaksi. Ini menegaskan lagi bahwa kebohongan ini berasal dari Ibnul Khattab si pembohong.
Mari Kita lihat langsung ke sumber aslinya, ke Shahih Bukhari dan Muslim :
عن سعيد ابن جبير عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال يوم الخميس وما يوم الخميس ثم بكى حتى خضب دمعه الحصباء فقال : اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه يوم الخميس فقال ( ائتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا هجر رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ قال ( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه ) .
Bab Jawa’izul Wafd
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu bersabda: bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan : Rasulullah telah meracau? Lalu Rasulullah bersabda: tinggalkan aku, keadaanku saat ini lebih baik dari apa yang kalian ajak.
Riwayat lain dari Bukhari:
سمع ابن عباس رضي الله عنهما يقول
: يوم الخميس وما يوم الخميس ثم بكى حتى بل دمعه الحصى قلت يا أبا عباس ما يوم الخميس ؟ قال اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه فقال ( ائتوني بكتف أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده أبدا ) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا ما له أهجر استفهموه ؟ فقال ( ذروني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه )
Dari Ibnu Abbas mengatakan: hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu aku bertanya, wahai Abul Abbas, apa yang terjadi pada hari kamis? Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu bersabda: bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan : apa yang dikatakan Rasulullah, apakah Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi. Lalu Rasulullah bersabda: tinggalkan aku, keadaanku saat ini lebih baik dari ajakan kalian.
Bab Ikhrajul Yahud Min Jaziratil Arab
Riwayat lain dari Bukhari:
عن سعيد بن جبير قال قال ابن عباس : يوم الخميس وما يوم الخميس ؟ اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه فقال ( ائتوني أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا ما شأنه أهجر استفهموه ؟ فذهبوا يردون عليه فقال ( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه ) .
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, , lalu melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu bersabda: bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan : Rasulullah telah meracau? Lalu Rasulullah bersabda: tinggalkan aku, keadaanku saat ini lebih baik dari ajakan kalian.
Bab Maradhin Nabiy Shallalahu Alaihi Wasallam
Riwayat dari Shahih Muslim:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى بَلَّ دَمْعُهُ الْحَصَى. فَقُلْتُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعُهُ. فَقَالَ « ائْتُونِى أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدِى ». فَتَنَازَعُوا وَمَا يَنْبَغِى عِنْدَ نَبِىٍّ تَنَازُعٌ. وَقَالُوا مَا شَأْنُهُ أَهَجَرَ اسْتَفْهِمُوهُ.
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu aku bertanya, wahai Ibnu Abbas, apa yang terjadi pada hari kamis? Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu bersabda: bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan : apa yang dikatakan Rasulullah, apakah Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.
Bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi
Riwayat lainnya dari Shahih Muslim:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ. ثُمَّ جَعَلَ تَسِيلُ دُمُوعُهُ حَتَّى رَأَيْتُ عَلَى خَدَّيْهِ كَأَنَّهَا نِظَامُ اللُّؤْلُؤِ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ائْتُونِى بِالْكَتِفِ وَالدَّوَاةِ – أَوِ اللَّوْحِ وَالدَّوَاةِ – أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ». فَقَالُوا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَهْجُرُ.
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, lalu air matanya mengalir di pipinya, sampai aku melihat di pipinya seakan untaian mutiara, Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu bersabda: bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka mengatakan : Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.
Bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi
Kita lihat sendiri di shahih Muslim dan Bukhari, ternyata apa yang diucapkan oleh Khomeini tidak ada. Dalam seluruh riwayat di atas, tidak ada kata Umar. Sementara yang menuduh Nabi meracau adalah mereka. Artinya, jumlahnya lebih dari tiga.
Siapa mereka yang berani menuduh Nabi meracau? Riwayat-riwayat lainnya –juga di Bukhari Muslim- menyebutkan siapa mereka. Mereka juga ribut di depan Nabi saat Nabi sakit keras. Siapakah mereka? Silahkan menyimak kembali makalah : siapa yang ribut saat Nabi sakit?
Dengan mudah kita mendapati bahwa yang berbohong adalah Khomeini sendiri, bukan Umar bin Khattab. Khomeni lah yang pembohong, bukan Umar bin Khattab.
Ini sebuah pertanda, berbohong adalah kebiasaan ustadz dan ulama syiah yang susah ditinggalkan. Kita tidak perlu heran, karena mereka bermakmum pada Khomeini, sedangkan makmum harus mengikuti imamnya.
Apa maksud dan tujuan ini semua? Semua ini untuk mengungkapkan kebencian Khomeini kepada Umar bin Khattab, orang yang membawa obor cahaya Islam pada negeri Persia.
Khomeini menyamakan kedudukan imam dengan Allah
Khomeini menyamakan kedudukan para imam syiah dengan Allah, artinya sabda para imam wajib ditaati sebagaimana wahyu Allah. Sedang Ahmadiyah hanya menyamakan Mirza Ghulam Ahmad dengan Nabi.
Allah memerintahkan kita untuk taat pada Al Qur’an, karena Allah adalah pencipta alam semesta. Sementara para Nabi adalah utusan Allah yang membawa wahyu kepada manusia. Sedangkan imam syiah mereka bukan Nabi dan bukan manusia biasa juga, tapi Khomeini menyatakan bahwa ajaran para imam adalah sama dengan ajaran Al Qur’an, semuanya wajib ditaati dan dilaksanakan.
Sesungguhnya ajaran para imam adalah seperti ajaran AL Qur’an, tidak berlaku bagi generasi tertentu saja, tetapi ajaran itu beraku untuk semua di setiap tempat dan setiap waktu hingga datangnya hari kiamat, harus diikuti dan dilaksanakan. Hukumah Islamiyah hal 112 Di sini nampak sekali Khomeini menyamakan para imam syiah dengan Allah, karena menganggap ucapannya wajib untuk ditaati sebagaimana Allah.
Para Nabi wajib ditaati karena Allah memerintahkan kita untuk taat pada para Nabi. Sedangkan para imam bukanlah Nabi. Tapi oleh Khomeini disamakan kedudukannya dengan para Nabi, yaitu ucapannya sama seperti Al Qur’an, wajib dilaksanakan dan ditaati. Jika Ahmadiyah menyamakan Mirza Ghulam Ahmad dengan Nabi, maka Khomeini menyamakan para imam dengan Allah. Bukan hanya para Nabi. Seperti dalam makalah sebelumnya, Khomeini menyatakan: Salah satu keyakinan yang pokok dalam mazhab kami bahwa para imam kami memiliki posisi yang tidak dicapai oleh para malaikat dan para Nabi. Hukumah Islamiyah halaman 52.
Di sini Khomeini melebihkan imam dari para Nabi, tapi tidak dengan berterus terang mengatakan bahwa para imam syiah menerima wahyu seperti para Nabi, tapi Khomeini menyatakannya dengan cara yang berbeda namun menuju kesimpulan yang sama, yaitu para imam sama kedudukannya dengan para Nabi, dalam hal wajib untuk ditaati. Para Nabi wajib ditaati karena mereka menerima wahyu dari Allah. Sedangkan para imam dinyatakan oleh Khomeini sebagai wajib ditaati, sama seperti Al Qur’an, artinya Khomeini menganggap ucapan para imam adalah wahyu sebagaimana Al Qur’an. Tapi Khomeini tidak berterus terang, karena dia paham jika dia berterus terang akan menuai gelombang protes dari kaum muslimin yang menganggapnya sesat. Ahmadiyah hanya menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sedangkan yang dianggap sama oleh Khomeini dengan Nabi ada 12 orang.
Tapi ingatlah kata Khomeini sebelum ini, yaitu para imam memiliki kedudukan yang tinggi, yang tidak dijangkau oleh malaikat dan para Nabi, begitu juga perkataan Khomeini bahwa para imam menguasai seluruh atom alam ini. Ucapannya sama dengan Al Qur’an, dan menguasai seluruh atom alam ini, memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari malaikat dan para Nabi. Alias Khomeini menyamakan imam dengan Allah. Maka wajar jika sabda imam adalah dianggap sederajat dengan firman Allah. Penganut syiah tidak pernah diajak berpikir oleh guru mereka, mereka hanya dicekoki prinsip bahwa Khomeini adalah figur yang harus diikuti dan dikagumi. Mereka tidak lagi sempat berpikir, dan kemampuan berpikir yang ada pada mereka sudah terkikis. Mereka tidak lagi bisa berpikir jernih, karena hati mereka sudah penuh dengan fanatik buta kepada Khomeini. Mereka tidak lagi bisa menerima kenyataan, atau memang hati mereka sudah ditutup, meski mereka bisa melihat kenyataan, tapi mereka tidak bisa mengindera dengan hati mereka. Mata mereka melihat, tapi tidak dapat menemukan.
Sumber :
Komentar
Posting Komentar