Hijrah Tanpa Dakwah: Ketika Kesalehan Berhenti di Diri Sendiri
Hijrah Tanpa Dakwah: Ketika Kesalehan Berhenti di Diri Sendiri
Di era media sosial hari ini, hijrah telah menjadi fenomena yang sangat populer. Banyak anak muda mulai rajin shalat, belajar agama, menghafal Al-Qur'an, memperbaiki pergaulan, meninggalkan maksiat, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah SWT.
Tentu ini adalah kabar yang menggembirakan.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan kepada diri sendiri:
Setelah aku berubah, lalu siapa yang aku ajak berubah?
Karena sesungguhnya Islam tidak pernah membentuk pribadi yang hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Kita hidup di zaman yang unik. Banyak orang berlomba-lomba memperbaiki diri, tetapi sedikit yang mau memperbaiki masyarakat. Banyak yang semangat menghadiri kajian, tetapi enggan mengajak teman-temannya hadir. Banyak yang senang mendengar nasihat, tetapi berat menyampaikan nasihat. Banyak yang menikmati nikmat hidayah, tetapi lupa membagikan cahaya itu kepada orang lain.
Padahal, jika kita renungkan lebih dalam, betapa ruginya seseorang yang sudah menemukan jalan menuju Allah, tetapi membiarkan orang-orang di sekitarnya tetap tersesat tanpa pernah berusaha mengajak mereka.
Bayangkan seseorang menemukan sumber air di tengah padang pasir. Ia minum sepuasnya, mengisi bekalnya, lalu pergi meninggalkan orang-orang yang kehausan tanpa memberitahu keberadaan sumber air itu.
Mungkin ia selamat.
Tetapi apakah itu sikap yang mulia?
Bukankah naluri manusia yang sehat akan mendorongnya untuk berteriak:
"Wahai kawan-kawan, kemarilah! Aku menemukan air!"
Begitulah dakwah.
Dakwah adalah ekspresi alami dari hidayah yang hidup dalam hati.
Ketika seseorang benar-benar merasakan nikmatnya mengenal Allah, memahami Islam, dan menemukan makna hidup yang hakiki, maka ia akan sulit diam melihat manusia berjalan menuju jurang tanpa arah.
Masalahnya, budaya modern telah membentuk pola pikir yang sangat individualistik.
Kita diajarkan untuk fokus pada diri sendiri.
Self improvement.
Self healing.
Self growth.
Self achievement.
Semuanya berpusat pada "aku".
Bahkan agama pun terkadang dipersempit menjadi proyek personal.
Yang penting aku rajin ibadah.
Yang penting aku tidak maksiat.
Yang penting aku masuk surga.
Tanpa sadar, orientasi hidup kita menjadi sangat sempit.
Padahal para nabi tidak hidup untuk dirinya sendiri.
Para sahabat tidak berkorban untuk dirinya sendiri.
Para ulama tidak menghabiskan hidupnya untuk dirinya sendiri.
Mereka hidup untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia.
Mereka memikul beban umat.
Mereka menangis memikirkan kondisi masyarakat.
Mereka merasa resah ketika kemaksiatan merajalela.
Mereka tidak bisa tidur nyenyak ketika melihat manusia jauh dari petunjuk Allah.
Bandingkan dengan kita hari ini.
Kadang kita merasa cukup hanya karena berhasil menjaga diri.
Kita bangga dengan streak kajian yang tidak pernah putus.
Kita bangga dengan hafalan yang bertambah.
Kita bangga dengan pencapaian ibadah pribadi.
Tetapi apakah kita juga bangga karena berhasil mengajak satu orang meninggalkan riba?
Mengajak satu teman mulai shalat?
Mengajak satu keluarga lebih dekat kepada Islam?
Mengajak satu lingkungan memahami syariat Allah?
Inilah kerugian besar yang sering tidak disadari.
Karena kesalehan yang berhenti pada diri sendiri akan kehilangan banyak keberkahannya.
Semakin seseorang mengenal Islam, seharusnya semakin besar pula rasa tanggung jawabnya terhadap umat.
Sebab ilmu bukan hanya untuk dinikmati.
Hidayah bukan hanya untuk disimpan.
Kebenaran bukan hanya untuk dikagumi.
Semuanya menuntut untuk disampaikan.
Lebih jauh lagi, ada kerugian psikologis yang jarang dibahas.
Banyak orang yang sudah hijrah bertahun-tahun tetapi kemudian mengalami kejenuhan spiritual.
Ibadah terasa hambar.
Kajian terasa biasa.
Semangat beragama naik turun.
Mengapa?
Karena energi iman itu sebenarnya membutuhkan ruang pengabdian.
Hati manusia diciptakan bukan hanya untuk menerima, tetapi juga memberi.
Bukan hanya belajar, tetapi juga menyampaikan.
Bukan hanya mengambil manfaat, tetapi juga menebar manfaat.
Ketika seseorang terus-menerus menjadi konsumen kebaikan tanpa pernah menjadi produsen kebaikan, maka perlahan ia akan kehilangan makna dari perjalanan hijrahnya.
Ia tahu banyak.
Ia mendengar banyak.
Ia mengikuti banyak kajian.
Tetapi hidupnya terasa kosong.
Karena fitrahnya meminta sesuatu yang lebih besar.
Yaitu menjadi bagian dari perubahan.
Menjadi bagian dari perjuangan.
Menjadi bagian dari dakwah.
Inilah yang membuat para aktivis dakwah sering kali memiliki daya tahan yang luar biasa dalam menghadapi ujian hidup.
Bukan karena hidup mereka lebih mudah.
Justru sering kali lebih berat.
Mereka menghadapi penolakan.
Mereka menghadapi cibiran.
Mereka menghadapi kesalahpahaman.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang membuat hidup mereka bermakna.
Mereka tahu untuk apa mereka bangun pagi.
Mereka tahu mengapa mereka belajar.
Mereka tahu mengapa mereka bekerja.
Mereka tahu mengapa mereka hidup.
Karena hidup mereka terhubung dengan misi yang lebih besar daripada sekadar diri mereka sendiri.
Maka jika hari ini Allah telah memberikan kita hidayah, jangan berhenti pada hijrah pribadi.
Jangan jadikan Islam hanya sebagai sarana memperbaiki diri.
Jadikan Islam sebagai jalan untuk memperbaiki dunia di sekitar kita.
Mulailah dari lingkaran terkecil.
Keluarga.
Teman.
Komunitas.
Lingkungan kerja.
Kampus.
Masyarakat.
Sampaikan satu ayat yang kita pahami.
Ajak satu orang kepada kebaikan.
Bela satu nilai Islam yang sedang dilupakan.
Perjuangkan satu kebenaran yang sedang ditinggalkan.
Karena kelak di hadapan Allah, mungkin bukan hanya tentang seberapa baik kita menjaga diri.
Tetapi juga tentang apa yang telah kita lakukan setelah mengetahui kebenaran.
Sebab hidayah adalah nikmat.
Namun mengajak manusia kepada hidayah adalah kemuliaan yang jauh lebih besar.
Dan sungguh, kerugian yang sangat besar apabila seseorang telah menemukan cahaya, tetapi memilih menyimpannya untuk dirinya sendiri, sementara banyak manusia di sekitarnya masih berjalan dalam kegelapan.
Sumber : Islam inside
Komentar
Posting Komentar